Kasih Sayang Seorang Anak

Kasih Sayang Seorang Anak

fishing-797187_1280

Photo: pixabay.com

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ayahnya, “Yah, aku mau tanya sesuatu. Tapi Ayah jangan marah ya,” katanya. Ayahnya menjawab, “Tentu, Ayah tak akan marah padamu, Nak. Ada apa?” Anak itu berkata, “Maaf, Yah. Berapa pendapatan Ayah dalam sehari?” yang dijawab ayahnya dengan “Rata-rata Ayah mendapatkan Rp400.000,- sehari.”

“Oh begitu,” anak itu terdiam sesaat, terlihat agak sedih. Ayahnya bertanya balik, terlihat bingung, “Kamu kenapa, Nak?” Anak itu akhirnya bertanya lagi, “Ayah, bolehkah kupinjam Rp150.000,-?“ Sang ayah pun terlihat jengkel, “Untuk apa? Beli mainan lagi? Kalau kamu hanya bertanya tentang penghasilan Ayah, supaya kamu bisa meminta uang untuk membeli mainan atau hal lain yang tidak penting, lebih baik kamu tidur sana di kamar!” nadanya terus meninggi, “Ayah banting tulang, bekerja setiap hari, bukan hanya untuk membeli mainanmu saja, tahu?!” Sang anak pun berbalik dan kembali ke kamar dengan diam.

Sekitar satu jam kemudian, sang ayah merasa bersalah karena telah memarahi anaknya, dan menghampiri buah hatinya itu ke kamar, “Nak, maafkan Ayah tadi terlalu keras, ya. Kalau kamu memang sedang butuh, bilang saja. Ini, 150.000 yang tadi kamu minta. Boleh ayah tahu untuk apa?”

“Terima kasih, Yah!” anak itu mengambil uang dari ayahnya, dan mengambil sesuatu dari bawah bantalnya, yang ternyata beberapa lembar uang, kelihatannya itu tabungannya. Dia pun menghitung dan tersenyum. Melihat hal itu, sang ayah kembali kesal, “Kalau kamu sudah punya uang, untuk apa minta lagi dari ayah? Uang sebanyak itu biasanya lebih dari cukup untuk kebutuhan kamu, kan?”

“Karena uangku tidak cukup, tapi sekarang sudah cukup. Ayah, aku punya Rp400.000,- sekarang. Bolehkah aku beli waktu Ayah sehari saja? Hari Minggu ini aku ulang tahun, kan? Aku ingin menghabiskan waktu bersama Ayah di hari ulang tahunku.”

Cerita ini mengingatkan kita yang terkadang terlalu sibuk dengan diri sendiri, dan melupakan orang-orang terpenting di sekitar kita, terutama keluarga. Karena hanya keluarga dan teman-teman terdekat kita lah yang benar-benar terikat, dan akan merasa kehilangan kita kalau kita telah tiada, bukan pekerjaan atau hobi kita.

Banyak cara untuk kita menghabiskan waktu bersama keluarga di liburan ini, salah satunya dengan beraktivitas bersama seperti mengikuti kegiatan oudoor untuk keluarga ini.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.