Ruangguru Blog

    Mari Mendidik Siswa dengan Kreatif Lewat Permainan Tradisional

    By Ruangguru · Oct 7, 2016

    permainan tradisional Foto: galau-traveler.wordpress.com

    Ular naga, congklak, dan hom-pim-pa. Siapa dari kamu yang tidak kenal akan permainan tersebut? Kamu juga pasti pernah memainkannya bersama teman-temanmu, kan? Namun, tidak banyak yang tahu sejarah mengenai permainan-permainan tersebut. Apalagi, makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini membuat Zaini Alif tergerak untuk meneliti tentang permainan tradisional. Ia pun menjuluki dirinya sendiri sebagai Sarjana Mainan.

    permainan tradisional Foto: abnaddin.blogspot.com

    Masa kecil Zaini penuh dengan bermain. Menurutnya, permainan tradisional memiliki arti yang lebih dari hanya sekedar aktivitas bersama teman-temana belaka. Berawal dari rasa penasaran tersebut, ia melakukan beragam penelitian tentang permainan tradisional yang ada di Indonesia. Ternyata, permainan-permainan tersebut dapat berfungsi menjadi salah satu media untuk mendidik. Pasalnya, terdapat nilai-nilai kehidupan yang tersimpan di dalam permainan tradisional. Penasaran bagaimana permainan tradisional bisa mengajarkan hal-hal positif dalam diri seseorang? Ruangguru.com akan mengulasnya untuk kamu.

    Engklek

    Siapa yang masih ingat dengan permainan engklek? Pada permainan ini, terdapat 7 buah kotak yang harus dilewati oleh setiap pemainnya. Biasanya permainan ini dilakukan di atas aspal dan kotaknya digambar menggunakan kapur. Pertama-tama, seorang pemain melempar batu ke kotak pertama. Kemudian, ia harus melompat dengan satu kaki dari kotak pertama hingga kotak ke-tujuh lalu kembali lagi ke kotak pertama. Pemain tersebut juga harus mengambil batu yang ia lempar saat di perjalanan kembali menuju garis start.

    Permainan berlanjut dengan melempar batu ke kotak nomor 2, 3, dan seterusnya. Jika pemain tidak berhasil melempar batu ke kotak yang seharusnya, ia harus bergantian dengan pemain lain. Aturan lainnya adalah pijakan pemain tidak boleh melewati garis. Jika sudah menyelesaikan misi untuk melempar batu di ketujuh kotak, seorang pemain bisa bebas melemparkan batu ke kotak manapun untuk dijadikan sebagai ‘rumah’. Pemain lain tidak boleh berpijak pada ‘rumah’ yang sudah dimiliki oleh seseorang saat sedang menjalankan permainan. Semakin lama permainan ini menjadi semakin sulit karena pemainnya harus melompat lebih jauh. Peserta yang menjadi pemenang tentunya yang memiliki rumah paling banyak.

    permainan tradisional Foto: indonesiana.merahputih.com

    Di beberapa daerah lain di Indonesia, permainan engklek juga dikenal dengan nama Sundah Mandah. Dalam Kamus Belanda, sundah mandah berarti Sunday Monday. Tujuh kotak yang terdapat pada permainan engklek melambangkan tujuh hari dalam seminggu. Permainan ini mengajarkan seseorang untuk bekerja keras setiap hari. Bekerja keras dilambangkan dengan melompat menggunakan satu kaki. Setelah bekerja keras, seseorang berhak untuk mendapatkan ‘rumah’. Layaknya dalam kehidupan, akan ada hasil yang diterima jika seseorang bekerja keras.

    Injit-Injit Semut

    permainan tradisional Foto: top10.thebestthings.blogspot.com

    “Injit-injit semut, siapa sakit naik di atas.” Bait di atas adalah sepenggal lirik dari lagu permainan injit-injit semut. Pada permainan ini, tangan setiap pemain disusun ke atas. Kemudian, tangan yang berada di atas mencubit tangan yang ada di bawahnya. Saat lagu selesai, tangan yang berada di paling bawah akan naik ke paling atas. Di saat tersebut, ia akhirnya lepas dari cubitan dan berkesempatan untuk mencubit tangan lain. Tidak ada pemenang dalam permainan ini dan permainan bisa berlangsung selama apapun.

    Dari permainan sederhana ini, terdapat nilai yang sangat penting yaitu tentang emotional quotient. Emotional quotient adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, dan mengelola emosi dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Saat bermain injit-injit semut, biasanya seseorang akan merasa senang ketika berada di posisi paling bawah karena tidak lama lagi ia akan pindah ke posisi paling atas. Saat berada di atas, ia akan mengerahkan tenaganya untuk mencubit pemain lainnya. Turun ke posisi kedua dari atas, ia akan mencubit dan juga menerima cubitan. Begitu seterusnya sampai ia kembali berada di bawah. Melalui permainan ini seseorang akan belajar bahwa saat kita menyakiti orang lain, sebenarnya yang sakit adalah diri kita sendiri.

    Congklak

    Konon, permainan congklak sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Apakah kamu masih ingat cara bermainnya? Congklak terdiri atas dua orang pemain. Setiap pemain akan memiliki tujuh lubang dan satu lumbung. Tujuh lubang tersebut masing-masing akan diisi dengan tujuh butir kerang-kerangan. Sedangkan bagian lumbung dibiarkan kosong di awal permainan. Pemain yang ‘jalan’ terlebih dahulu akan mengambil kerang dari salah satu lubang miliknya untuk diletakkan satu persatu di lubang lain dan juga lumbung miliknya. Termasuk juga ke dalam lubang milik lawan. Namun, ia tidak boleh mengisi lumbung milik lawan. Di akhir permainan, pemain dengan kerang di dalam lumbung terbanyak adalah pemenangnya.

    permainan tradisional Foto: sayangianak.com

    Dengan bermain congklak, seseorang bisa belajar tentang mengatur uang. Anggap setiap lubang adalah hari yang ada dalam satu minggu dan lumbung merupakan tabungan. Setiap hari seseorang bisa menggunakan satu butir kerangnya. Hal ini melambangkan pengeluaran sehari-hari yang secukupnya. Tak lupa, ia juga harus meletakkan kerang di dalam lumbung sebagai tabungan. Jadi, seseorang harus membiasakan menabung. Namun, kerang yang ditabung hanya satu. Mengapa? Ini dikarenakan seseorang harus peduli terhadap orang lain. Maka dari itu, kerang juga dibagikan ke lubang lawan. Tapi jangan sampai meletakkan kerang di tabungan lawan ya! Jika lumbung lawan dapat terisi tanpa lawan harus melakukan apa-apa, seseorang bisa salah menilai bahwa ia bisa meraih sesuatu tanpa usaha. Padahal, di kehidupan nyata seseorang harus berusaha terlebih dahulu sebelum bisa mendapatkan suatu hasil.

    Mendidik lewat permainan tradisional merupakan cara kreatif yang patut untuk dicoba oleh guru ataupun orang tua. Sambil bermain, nilai-nilai baik kehidupan bisa disampaikan pada siswa atau anak. Cara ini sebaiknya diaplikasikan sejak dini sehingga nilai-nilai tersebut bisa tertanam dalam diri seseorang dan terus dibawa hingga ia dewasa. Selamat bermain! (AZN/TN)

    Share this:

    Tags: fun facts, inspirasi, Hiburan, Mengajar Kreatif

    Tulis Komentarmu

    Dapatkan Notifikasi Artikel Ruangguru, Yuk!