Namaku Red, Red Velvet!

Namaku Red, Red Velvet!

kelas-membuat-kue-red-velvet

 

Kalian boleh panggil aku Red. Tapi siapa nama asliku, akan kuberi tahu nanti. Begini, aku berterima kasih sekali pada Herbert Ross, berkat filmnya “Steel Magnolia” (1989) —kuyakin sebagian kalian pasti belum lahir— aku bisa terkenal. Adalah Julia Robert, pemerannya, di mana ada satu adegan seorang pengantin pria menjadikanku sebagai kado cinta untuk pasangannya. Semua lidah memujiku. Aku cantik. Dan menarik.

Dari dulu, aku sudah jadi primadona banyak mulut orang Amerika. Di Kanada, daerah paling utara, di sebuah kedai roti, aku dipersembahkan terakhir (mereka mengatakan ini sebagai hidangan penutup alias dessert). Aku percaya sekali semua yang dipersembahkan “di bagian akhir” adalah sesuatu yang istimewa.

Apalagi saat Perang Dunia ke II, sekitar tahun 1940-an pecah. Siapa yang tak butuh makan saat perang? Karena itu aku merasa bangga karena tentara begitu menyukaiku. Saat perang meledak, aku juga “meledakkan” rasa manisku. Setidaknya, kupikir lidah mereka terhibur karenaku.

Kalau kau bertanya darimana asal warna pada tubuhku, maka akan kukatakan itu dari jus lobak merah atau stroberi. Suatu hari, kampung halamanku, Negeri Abang Sam sedang krisis. Juru pembuatku kesulitan beroleh bahan. Saat sulit, sering kali orang menjadi lebih pintar, ya kan, akhirnya para koki kue terpikir menggunakan buah bit —tergolong umbi-umbian—  diambil sari buahnya untuk membuat aku cantik.

Sekarang tak perlu lagi sari buah bit. Orang mudah saja melakukannya dengan caranya sendiri: memberi pewarna merah, serupa gincu.

Sebenarnya yang tak banyak orang tahu tentang di mana letak daya tarikku selain pada warna, adalah krim olesan. Kau mungkin sudah lumrah mencicipi krim dari mentega putih atau krim putih telur. Tapi, krim di tubuhku, adalah krim keju, yang dipadu dengan vanili, ditambah sedikit gula bubuk. Percampuran ini menciptakan rasa asam, gurih dan manis. Sebagian orang dulu seakan membuat lelucon, dia panggil aku Devil’s Food.

Mereka bilang merah simbol devil, yang juga mewakili pertumpahan darah saat perang dunia. Tetap saja aku tak suka dikatakan devil. Apa kalian ingat apa yang dikatakan Marsha Timothy ke Gary Iskak tahun 2007? Dia bilang, “Merah itu cinta.” Jadi, aku bangga sekali dibuat dengan cinta. Apalagi banyak yang bilang, merah itu seksi.

Red. Red Velvet, begitulah akhirnya kini semua orang menyebut namaku.

Kalau Eka Kurniawan bilang Cantik itu Luka, aku bilang, Cantik itu Suka. Seperti kamu menyukaiku. Kuharap jangan sampai berhenti sekadar menyukaiku. Kau harus belajar membuatku.

Kalau kau bingung bagaimana cara mengenaliku lebih jauh, datanglah ke Ruangguru, Sabtu 7 November 2015 pukul 10.00 hingga 12.30 WIB. Teman-teman LadyBake Baking & Cooking Course akan berpesta untukku, dan untuk kalian, sepuluh orang yang bersedia mengenaliku di kelas membuat kue. Semoga kamu satu di antara 10 orang yang bersedia menukar Rp. 250.000 dengan pengalaman berkenalan denganku. Datanglah ya. (*)

Daftar kelas di sini: http://bit.ly/RGredvelvet

(Teks: Dodi Prananda)

Ruangguru

Situs Pencarian Guru Privat & Konten Pembelajaran #1 di Indonesia

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.