Pro dan Kontra Konsep Full Day School di Indonesia | Blog Ruangguru

Pro dan Kontra Konsep Full Day School di Indonesia

Muhadjir Effendy selaku Mendikbud baru menggagas sistem belajar full day school untuk tingkat SD dan SMP. Ide ini diterapkan dengan tujuan agar siswa mendapat pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah. Sesuai dengan pesan dari Presiden Jokowi bahwa kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah ketika dua aspek pendidikan bagi siswa terpenuhi. Untuk jenjang SD, 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen untuk pengetahuan umum. Sedangkan SMP, bobot pendidikan karakter adalah 60 persen dan 40 persen untuk pengetahuan umum. So far, gagasan ini direspon baik oleh Jokowi maupun Jusuf Kalla.

Foto: umm.ac.id

Semakin berkembangnya dunia, pendidikan saat ini mulai beramai-ramai meningkatkan kualitas sumber daya siswa dengan berbagai cara. Hal ini berangkat dari banyaknya “tuntutan” untuk menjadi manusia yang kaya ilmu serta diseimbangkan dengan skill yang mumpuni. Salah satu strateginya adalah full day school.

Namun, konsep full day school ini juga mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak. Kalau menurutmu sendiri bagaimana, smart buddies? Eits, sebelum bereaksi apa-apa, baca dulu yuk seluk-beluk ide ini muncul.

full day school

#1. Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, maksud dari full day school adalah pemberian jam tambahan. Namun, pada jam tambahan ini siswa tidak akan dihadapkan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan seusai jam belajar-mengajar di kelas selesai adalah ekstrakurikuler (ekskul). Dari kegiatan ekskul ini, diharapkan dapat melatih 18 karakter, beberapa di antaranya jujur, toleransi, displin, hingga cinta tanah air.

full day school

Foto: darulistiqomah

“Usai belajar setengah hari, hendaknya para peserta didik (siswa) tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menyenangkan dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka,” kata Muhadjir. Dengan demikian, kemungkinan siswa ikut arus pergaulan negatif akan sangat kecil karena berada di bawah pengawasan sekolah. Misalnya, penyalahgunaan narkoba, tawuran, pergaulan bebas, dan sebagainya.

#2. Pertimbangan lainnya adalah faktor hubungan antara orangtua dan anak. Biasanya siswa sudah bisa pulang pukul 1. Tidak dipungkiri, di daerah perkotaan, umumnya para orangtua bekerja hingga pukul 5 sore.  “Antara jam 1 sampai jam 5 kita nggak tahu siapa yang bertanggung jawab pada anak, karena sekolah juga sudah melepas, sementara keluarga belum ada,” pungkas beliau menambahkan. 

full day school

Foto: tribunnews

Kalau siswa tetap berada di sekolah, mereka bisa sambil menyelesaikan tugas sekolah sampai orangtuanya menjemput sepulang kerja. Setelahnya, siswa bisa pulang bersama orangtua, dan selanjutnya aman di bawah pengawasan orangtua.

#3. Program ini dianggap dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar sebanyak 24 jam/minggu. Ini merupakan salah satu syarat untuk lolos proses sertifikasi guru. “Guru yang mencari tambahan jam belajar di sekolah nanti akan mendapatkan tambahan jam itu dari program ini,” tambahnya.

Kalau pada akhirnya diterapkan, dalam sepekan sekolah akan libur dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Sehingga, ini akan memberikan kesempatan bagi siswa bisa berkumpul lebih lama dengan keluarga. “Peran orangtua juga tetap penting. Di hari Sabtu dapat menjadi waktu keluarga. Dengan begitu, komunikasi antara orangtua dan anak tetap terjaga dan ikatan emosional juga tetap terjaga,” ujar Muhadjir.

full day school

Foto: ngopy.com

Agar program ini dapat berjalan lancar harus didukung dengan suasa lingkungan sekolah yang menyenangkan. Jadi, penerapannya adalah belajar formal sampai setengah hari, selebihnya diisi kegiatan ekstrakurikuler.

Namun, rencana ini juga menuai berbagai respon, baik pro maupun kontra. Sebagian pihak yang kurang setuju berargumen bahwa tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-beda. Bisa dikatakan, jenjang SD masih tergolong anak-anak yang mudah bosan. Selain itu, jika dilihat dari segi fisik juga kurang baik untuk kesehatan. Siswa masih butuh istirahat yang cukup di rumah agar konsentrasi juga lebih maksimal.

full day school

Foto: indonesiatimur.co

Lalu, dari segi sosial dan geografis, daerah pelosok nampaknya belum cocok menjalankan full day school. Kebanyakan orangtua siswa bermata pencaharian sebagai petani, nelayan, buruh, dan sebagainya. Nah, orangtua pun membutuhkan anaknya untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaan sepulang sekolah. Misalnya bercocok tanam, menjahit, dan sebagainya. Membantu ini juga merupakan bagian dari pembentukan karakter dan meningkatkan kemampuan anak di rumah. Berbeda dengan orangtua di perkotaan yang sebagian besar adalah pekerja kantoran. Kemungkinan jarang bertemu dan berinteraksi dengan anak secara langsung akibat kesibukan sangat besar.

Salah satu contohnya adalah Purwakarta. Bupati setempat memiliki peraturan pendidikan berkarakter yang telah diintegrasikan dengan peraturan Desa Berbudaya. Oleh karena itu, pelajaran siswa di sekolah harus diaplikasikan oleh siswa di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Jika ada orangtua yang tidak mendorong anak mereka untuk mengikuti peraturan ini, maka diberikan sanksi lho! Pemerintah daerah akan mencabut subsidi kesehatan dan pendidikan mereka. Wah, ketat juga ya peraturannya!

Kak Seto sebagai Ketua Dewan Pembina Komnas Anak turut mengemukakan pendapatnya. “Saya mendukung rencana tersebut selama tidak memasung hak anak, seperti hak bermain, hak beristirahat, dan hak berekreasi. Sebab, pada prinsipnya, sekolah harus ramah anak demi yang terbaik buat mereka,” ujar pria yang khas dengan tatanan rambut dan kacamatanya itu. Full day school ini tidak bisa disamaratakan, lanjut Kak Seto. Di beberapa sekolah yang telah menerapkan hal tersebut, banyak anak didik yang stres karena cara pengemasannya tidak ramah.

Selain itu, banyak juga yang meresahkan kesejahteraan guru swasta di Indonesia. Gaji masih jauh di bawah upah minimum. Bahkan karena hal tersebut, banyak yang bekerja sambilan demi memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, juga mengejar jam pelajaran ke sekolah-sekolah lain. Kalau full day school, otomatis guru juga ada di sekolah secara penuh. Berarti, harus ada perhatian khusus juga nih terkait penggajian untuk guru swasta.

full day school

Foto: prioritaspendidikan.com

Well, konsep ini juga bergantung pada sarana dan prasarana pendukung ya, smart buddies. Seperti fasilitas sekolah dan regulasi lain yang bisa jadi pengokoh. Coba bayangkan kamu harus berlama-lama di sekolah yang fasilitasnya kurang memadai. Bukan karakter yang akan berkembang, namun jenuh bahkan stres yang didapat. Kebijakan ini harus bertahap, serta melibatkan seluruh pihak.

Sebelumnya, sudah ada beberapa negara yang menerapkan full day school. Justru konsep ini diusung oleh negara-negara maju lho, smart buddies! Ada Singapura, Korea Selatan, Cina, Jepang, Taiwan, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, dan Jerman.

full day school

Foto: pexels.com

Melihat respon masyarakat, Muhadjir menanggapi dengan positif. Justru hal ini membuktikan bahwa masyarakat bersikap kritis. Hingga kini, ide full day school ini masih dalam proses pengkajian. Juga, disosialisasikan di berbagai sekolah, mulai pusat hingga ke daerah-daerah sambil melihat respon masyarakat. Sekali lagi, ini baru gagasan yang dilemparkan ke masyarakat. Masukan dari masyarakat juga akan menyempurnakan program pendidikan yang akan beliau canangkan. Jika nanti ditemukan lebih banyak kelemahan, maka program ini tidak akan dijalankan. Mungkin jika dikemas dengan tepat dan ramah anak, konsep ini dapat berjalan dengan baik. Sarana menunjang, tenaga pendidik yang berkualitas dan sejahtera, serta tidak menyamaratakan seluruh jenjang dan geografis. Kemudian, kemajuan teknologi pendidikan pun dapat memaksimalkan fungsi untuk memajukan sekolah ke depannya. Kombinasi antara fasilitas dan sistem pendidikan dapat menjalankan peran dan fungsinya secara efektif. Dengan demikian, label full day tidak sebatas pada namanya saja. Namun dibuktikan dengan proses pendidikan yang dikelola sesuai tujuan dan amanah undang-undang.

Jadi, bagaimana pendapatmu? Yay or nay? (TN)

Ruangguru

Situs Pencarian Guru Privat & Konten Pembelajaran #1 di Indonesia

You may also like...

35 Responses

  1. surya wijayagrha says:

    Jam satu siang pulang sekolah, adalah pilihan yang benar dan baik daripada demi mencoba fullday, jangan paksakan rangsangan alasan pasang AC biar betah, boros energi, dan itu tetep nggak sehat untuk tulang belakang, tidak perlu menahan anak di sekolah lebih lama, anak harus cukup tidur dari antara jam 1 sampai sekitar jam 4. Anak juga perlu bertemu ibunya, tempat dan kebutuhannya.
    Anak-anak bisa belajar mandiri di rumah, kerja dan belajar pelajaran sekolahnya. Bukan perlu memperpanjang jam pelajaran di sekolah. Tepat di kisaran usia19 tahun, mereka mulai bekerja, merantau, atau kuliah di kota lain, mungkin negara lain, atau di dalam kota.
    Sekolah dan guru sumber belajar, tetapi keluargalah sumber dan tempat belajar pertama dan utama.
    Biarkan anak-anak pulang ke rumahnya pada jam satu(13.00)siang.
    Bagi pekerja karir, bisnis, perkantoran mereka tetap bisa mampu menyediakan kendaraan dan sopir bagi anak-anak, ini suatu keniscayaan.
    Bagi anak dari kondisi kurang berada, tidak perluberkecil hati dengan mudah akan mendapat SD-SD di sekitar kelurahan atau desa mereka.
    Mendapat uang sarapan atau makan gratis bersama baik anak SD yang kurang mampu maupun dari keluarga yang mampu.
    Kita yakin keadaan anak kita aman karena ada polisi dan satpam di setiap ujung jalan, serta warga masyarakat telah memiliki kepedulian bersama yang baik.
    Jadi, anak selambat-lambatnya pulang jam satu siang(13.00) saja. Kegembiraan bisa dari mana saja, sekolah, mal, terlebih lagi rumah, seperti apapun rumah punya kita, adalah rumah yang paling indah yang tak terlepas rasa syukur kepada Sang Pencipta.
    Kalau dipaksakan anak anak SD yang kelelahan bobok di meja kelas, kelas jadi tambah nggak sehat, pegal pegal, salah otot,ujung ujungnya fisik anaklah yang jelas terkena pengaruh. Memindahkan batu dan kontainer memerlukan keahlian, memindahkan data perlu media, sedangkan membina anak-anak perlu daya dan tenaga sinyal pikiran otak beserta pemusatan pikiran, karena anak bukan seperti urusan barang dan uang.
    Jika memang memberi TUNJANGAN guru, tidak perlu banyak, daripada dua juta perbulan tetapi dipotong-potong boros uang negara dan mengarah ke penyimpangan, lebih baik seribu rupiah tetapi utuh dengan kerelaan, kita luruskan di masyarakat anggapan gurunya hanya perlu duit atau gila uang.
    Pembinaan penghargaan yang jelas atas mental kepala sekolah yang profesional dan guru agar mereka semakin cinta profesi dan karya agar tidak dianggap memboros uang negara.
    Kekuatan orang kita ukur dengan ukuran bersama, kita bandingkan ukuran yang perhitungannya sesuai untuk anak-anak

    salam belajar

  2. amin says:

    pendidikan karakter menurut saya terlalu dini, untuk digalakkan di usia-usia kanak-kanak, masa-masa SD ialah masa untuk bermain, bergembira dan belajar hal-hal sederhana, janganlah anak-anak disuguhi dengan konsep2 yang berat, dan berfikir logis dan rasional. Masa-masa pendidikan atas atau minimal menengah, baru mereka boleh dan mudah mencerna logika, berfikir kritis, dan tanggung jawab diri. jadi lebih baik jam tambahan untuk pendidikan karakter tidak usah saja.

    yang terpenting bukan lamanya masa belajarnya, tetapi efektifan belajarnya. Pilih materi-materi yang memang ‘berguna’ bagi anak2, jangan dibebani dengan berfikir ini itu ini itu, yang ternyata di masa mendatang entah dipakai atau tidak. dan mungkin menambah stress anak .

    itu menurut saya.

    • Ruangguru says:

      Terima kasih untuk responnya ya. Tentu memberikan sudut pandang lain kepada para pembaca lainnya.
      Sukses ya :)

    • diodharma says:

      menurut anda kapan saat paling tepat untuk mendidik karakter anak sesuai yang diamalkan pancasila ??

    • Firda says:

      Menurut saya, pendidikan karakter tetap penting. Apa lagi anak-anak SD pikirannya masih kosong, tempat bagus buat ditanam pendidikan karakter yang simpel-simpel, seperti:
      1. Buang sampah di tempat sampah
      2. Menaati peraturan lalu lintas
      3. Menyeberang di zebra cross atau jembatan penyeberangan
      4. Menghormati yang tua
      5. Menyayangi yang muda
      6. Menghormati guru
      7. Rajin membaca buku
      8. Menghargai pendapat orang lain
      9. Belajar mendengarkan orang lain
      10. Belajar menaati peraturan dan bertanggung jawab atas perbuatan
      Menurut saya itu yang dimaksud dengan pendidikan karakter. Karena bisa kita lihat kalau kita yang sudah besar ini susah melakukan 10 poin itu. Lebih baik ditanamkan ke yang masih kecil dan bisa ngasih pengaruh ke yang lain. :)

    • Vinsen says:

      pr gak ada , sikap jadi positif , pulang tinggal bebas di rumah . tapi masalahnya siswa tidak dapat mengenal lebih luas dunia yg ada disekitarnya

  3. Riswandi says:

    jika dilaksanakan secara bertahap kemungkinan program ini akan berhasi, karena bagaimanapun juga kalau kita hanya mencoba hal yang biasa terjadi, negara ini tidak akan pernah akan berkembang dengan baik melainkan akan hanya menghasilkan hal yang seperti itu” saja, toh dengan tidak adanya program full days school saja tidak ada kasus anak itu stress atau apapun, apalagi SMA gara” nilai UN tdk tuntas harus bunuh diri karena malu. Mungkin saja program full days school ini akan membantu anak untuk berpikir kritis, dan cepat mendewasakan anak dengan teknologi yg sudah ada.

    • diodharma says:

      bukankah dengan dilaksanakaan program ini membatasi ruang lingkup anak dengan hanya berada di sekitar sekolahan saja ??bagaimana dengan hak anak untuk mengekspolarsi dunia untuk mencari tahu lebih luas tentang dunia yang ditinggali dirinya ??

  4. Indra says:

    Ass. Wr. Wb. Yg sy hormati Bapak Menteri Pendidikan, tolong jangan diteruskan ide ini. Bahaya untuk masa depan anak bangsa ini 10 atau 20 tahun ke depan dan juga bahaya bagi Bapak Menteri sendiri di yaumil akhir. Saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar disini karena hanya akan menimbulkan perdebatan dan mungkin mengandung sara’. Saya ingin sekali mengetahui langsung dari Bapak tentang maksud dan tujuan full days school karena yang di media mungkin sudah ada pengurangan atau penambahan. Tapi yang pasti full days school menurut saya bahaya.

  5. diodharma says:

    bisa dijelaskan secara singkat apa yang membahayakan bagi anak mengenai program ini dan apa yang dapat menimbulkan perdebatan berbau sara dalam program ini ??

  6. winda says:

    gapapa asalkan gaada PR sama ulangan :vv

  7. attiyah sabita says:

    1. tidak seluruh sekolah punya banyak pilihan ekskul yang diinginkan peserta didik. Jika kegiatan ekskul itu membosankan, maka hanya membuat peserta didik tertekan
    2. lokasi sekolah di daerah biasanya jauh dari tempat tinggal peserta didik dan untuk mencapainya harus melewati hutan dan sungai. Jika sistem ‘full day school’ diterapkan, terjaminkah keselamatan peserta didik untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah?
    3. Konsumsi, sanggupkah sekolah menyediakan ‘makanan gratis’ untuk para peserta didik? sedangkan guru menyuruh untuk membeli buku saja dilaporkan?

  8. Risni f says:

    Yang bisa membahayakan bagi anak. Slh satunya adalah bagaimana ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang memadai bagi proses pemebelajaran atau kebebasan anak untuk belajar.
    Mungkin perdebatan yang akan ditiimbulakan salah satunya dari pendidik wanita berkeluarga mengapa ? karena tugas dari seorang guru wanita adalah mengabdi pada keluarga nya juga bukan hanya untuk mengabdi pada profesi nya saja.

  9. Ria Ratna Dinanti says:

    Menurut kalian apa yang harus dilakukan kepala sekolah untuk mendukung kebijakan full day school dan fasilitas apa yang diperlukan untuk mendukung FDS tersebut

  10. yoonji says:

    full day gak masalah asal gak ada pr atau deadline

  11. YULI says:

    Saya berkomentar dengan sudut pandang sebagai mantan anak sekolahan ya admin hehe
    Menurut saya kalau tujuan full day school adalah seperti yang admin tulis saya sangat merasa setuju, apalagi dewasa kini karena tuntutan kebutuhan orang tua harus kerja keras dan janrang berada dirumah dan itu memungkinkan anak-anak melakukan ‘sesuatu’ yang tidak diawasi. Namun dibalik itu semua sarana dan prasarana harus mulai dibenahi stop korupsi stop untuk pilih kasih lakuka pemerataan hingga pelosok negeri. Saya sangat optimis kita semua pasti bisa memajukan indonesia sampai ke gerbang kemerdekaan #kembali.
    Semangat pak mentreri, masukan saya sih ini di luar konteks #tolong hapus pembelajaran dengan sistem TEMATIK bagi anak SD. Hal itu hanya akan membuat mereka frustasi dan bingung.

    Trims

  12. Vinsen says:

    kalo ada anak yg rumahnya 5 langkah dari sekolah ya sama aja lel
    lagian kalo full day di sekolah menurutku di sekolah ku juga sia2 kira2 kurang lebih 75% siswa di sekolah ku tuh jauh rumahnya gak sampe 3 km walaupun sisanya naik angkot itupun gak terlalu repot
    full day school yg menyenangkan tuh
    1. Boleh bawa laptop,mp3 ato semacamnya( kalo hape ntar anaknya bisa sembunyi dan gitu lah, tergantung anaknya) “di bawa pengawasan guru”
    2. boleh njajan sepanjang jam tambahan program full day school (dalam pengawasan guru) . ada fasilitas yang memadai , memberikan waktu istirahat pada siswa (mungkin ini diwajibkan)
    3. gak semua orang tua itu pulang sore . cek dulu satu persatu orang tua siswa (profesinya) bisa jadi mereka orang yang kurang mampu , jadi sekolah dapat membebaskan siswanya pulang kerumahnya untuk membantu ortunya (ini biar ada toleransi bagi yg kurang mampu)
    4. guru di beri waktu istirahat (murid istirahat guru harus istirahat jugak lah)
    5. ada bakso di kantin setiap hari (ea laper) (emang)
    6. ada 2 jam istirahat yaitu jam setelah pelajaran murni 13.00 sampe jam 14.00 dan istirahat tergantung dari ekskulnya , tapi wajib harus total 2 kali istirahat setelah jam pelajaran murni
    mungkin masih kurang (soalnya kepala gw dah kebalik) jangan lupa baksonya 😀

  13. harun says:

    mulai banyak orng bodoh diindonesia berpikir anak anak cuma belajar di sekolah. di sekolah apa yg dia dapat cma menulis aja di buku terus itu selesai trus kejar ijazah sampai sma sampai kuliah tdk ada pengalaman kerja cman menulis saja di buku. gara gar inilah banyak pengangguran terdidik di indonesia. karena habis sekolah tdk tau mau ngapain. cba dipikir saja berapa orng yg kerja sbgai pns di indonesia. adaka pengangkatan pns setiap tahun. apa semua orng gelar tinggi pasti sukses. nyatanya tidak. kebanyakan yg sukses adalah yg mau bekerja dan berusaha dan itu didikan dari keluarganya

  14. nur saji says:

    Kesejahteraan gurun gtt juga di fullday iya kalau wanita mungkin masih ada suami bagaimana jika gurunya laki laki

  15. Fe says:

    Kalo saya tidak setuju. Buktinya, sekolah saya pulang jam tiga, ditambah kalo ada eskul pulang jam lima atau setengah enam. Pulang sekolah kepala mumet, nyari hiburan sama hp. Gak belajar pas malam karena udah kecapekan. Main hp terus tidur, jadi jarang bantu orang tua. Gak bisa juga kemana-mana karena sibuk sama tugas. Jadinya boring. Kalo memang diterapkan full day school, PR dihapuskan? Berarti klo ada tugas harus diselesaikan saat itu juga dong? Itu lebih bikin anak pusing. Seharian kayak gitu. #kisahnyata :’v

  16. Yesi Kurnia says:

    Gimana kalo anak anak nggak suka cara guru itu mengajar, akhirnya anak itu tidak mengerti apa yang diajarkan. Sehingga kita butuh les tambahan dan biarkan memilih les mana yg mereka mau. Nah kalo fullday school di adakan pulangnya pasti jam 5. Gimana anak anak mau les. Nanti malam? Anak anak butuh istirahat untuk tidur dan menjernihkan otaknya. Sebaiknya pulang jam 1 itu saja udah cukup

  17. Tando says:

    Full day school itu selain kasihan ke anak didiknya yg bikin jenuh….. Percobaan dikotaku aja Anak kelas 1 SD pulang jam 2 siang. Bikin telerr… Selain itu bakal banyak bikin pengangguran…. Aplg di jama skarang yg susah cari kerja… Krn membuat org2 yg pekerjaannya sbagai guru les scr otomatis dihilangkan sumber mata pencahariannya…. Ini Bukan solusi yg baik..

  18. ratih dyah ayu kemuning says:

    gapapa asal gaada pr aja

  19. Estherina Mulyani says:

    Penerapan sistem pendidikan harus dilihat dari kondisi negara dulu. Sudah jelas bahwa kondisi negara Indonesia berbeda dengan negara lain. Pemerintah khususnya Mendikbud jangan melihat negara lain dengan sistem pendidikan mereka seperti full day school yang katanya baik untuk siswa. Alangkah baiknya jika dipikirkan terlebih dahulu dan dikelola supaya nantinya tidak membebani semua pihak khususnya siswa siswi Indonesia, seperti menemukan konsep baru yang kreatif tentang sistem pendidikan yang sesuai dengan kondisi saat ini yang nantinya akan membawa perubahan dan kemajuan dalam pendidikan di Indonesia. Boleh” saja meniru sistem pendidikan di negara lain, tetapi harus disaring dan jika perlu temukan konsep baru yang diperlukan untuk memajukan sistem pendidikan di Indonesia.

  20. siska says:

    Saya stuju banget apalagi bagi siswa sma yg bahkan hampir setiap saat berada di sekolah.. contohnya sekolah saya pulang jam 4 belum yang ikut berbagai ekskul bisa saja sampai malam setelah itu mengerjakan pr dan pergi main dengan teman sampai larut malam selalu tidak ada waktu berinteraksi dngan ortu… jika scholl full day dilaksanakan akan menghemat waktu dan sabtu minggu kita bisa bebas pergi jalan2 dngan ortu maupun teman.. apalagi jika pr dihapuskan … karena banyak kegiatan anak hampir tidak pernah belajar dan hanya pr saja yg dikerjakan padahal itu hasil plagiat pr temannya.. tp jika pr di tiadakan waktu di rumah tidak hanya terkungkung dngan buku .. buku cukup di sekolah sajalah.. pokoknya saya sangat mendukung penuh scholl full day…😄😄

  21. emul says:

    keren buanget

  22. halim5u says:

    bagi anak2 yang ayah dan ibunya orang kantoran itu sangat mendukung tapi saya yang orang tuanya petani dan sekolah saya di desa yang terpencil itu sangat merugikan apalagi akan di adakan full day school saya tidak bisa membantu orang tua dirumah….kami para anak butuh istirahat bukan belajar disekolah yang banyak….toh yang pintar banyak pengangguran dan hidupnya hancur karena berpendidikan,(Sabu-sabu,Korupsi,dll)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.