Hari Difabel: 5 Hal yang Dapat Dilakukan Saat Siswa Difabel Mengalami Diskriminasi di Sekolah

Shabrina Alfari

Dec 3, 2018 • 3 min read

tips mengajar


Apakah ada siswa Bapak/Ibu Guru yang mengalami diskriminasi karena ia mempunyai kekurangan? Peraturan mengenai pendidikan inklusi mewajibkan setiap institusi pendidikan tidak melakukan diskriminasi terhadap siswa berkebutuhan khusus atau difabel. Namun nyatanya, tidak semua institusi pendidikan terutama pendidikan dasar dan menengah siap untuk menerima siswa dengan kebutuhan khusus. Hal ini kadang membuat sekolah berujung membuat aturan internal yang berujung pada tindak diskriminasi. Lalu, apa yang harus guru lakukan jika murid mengalami diskriminasi di sekolah? Yuk, disimak!

1. Lakukan kegiatan persuasi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai

Sekolah terkadang tidak menyadari jika aturan internal yang mereka buat ternyata berakibat diskriminasi terhadap siswa difabel. Untuk itu, perlu dilakukan persuasi terhadap pihak sekolah yang melibatkan lembaga pendamping disabilitas ketika diskriminasi memang terjadi. Bapak/Ibu Guru harus peka terhadap apa yang terjadi pada anak didik Anda sendiri. Jangan takut untuk bersuara jika terjadi tindakan diskriminasi. Bukalah jalur komunikasi melalui lembaga pendamping disabilitas dan biarkan mereka untuk menyampaikan solusi yang tepat pada pihak sekolah.

siswa difabelBerikan pemahaman pada siswa mengenai difabel (Sumber: chicagoparent.com)

2. Berikan pengetahuan kepada siswa mengenai difabel

Seorang siswa difabel akan sangat rawan mengalami kekerasan, seperti bullying, baik secara verbal ataupun nonverbal. Banyak siswa-siswa lain yang mengejek atau bahkan melakukan perbuatan fisik kepada anak difabel yang membuat orang tua mereka tidak menyekolahkan anak ini di sekolah umum. Untuk itu, Bapak/Ibu Guru harus memberikan pengetahuan mengenai difabel kepada para siswa agar mereka bisa lebih saling menghargai dan tidak memandang sebelah mata kemampuan anak difabel.

3. Berikan pemahaman pada orang tua

Hak anak difabel untuk mendapatkan pendidikan yang sama sebenarnya telah ditegaskan dalam Undang-undang Perlindungan Anak no. 23 tahun 2002. Namun nyatanya, masih banyak sekolah yang belum mau menerima anak difabel. Bahkan, banyak orang tua yang menarik anaknya keluar dari sekolah saat sekolahnya menjadi sekolah inklusi, akibat pandangan negatif kepada anak difabel. Hal ini terjadi akibat banyak orang tua yang belum mengetahui tentang sekolah iklusi, terlebih sekolah luar biasa juga jarang ada di pedesaan.

siswa difabelSiswa difabel (Sumber: catholicoutlook.org)

4. Libatkan peran Guru Pendamping Khusus (GPK) dalam proses belajar mengajar

Para guru di sekolah inklusi sebaiknya diberikan informasi mengenai anak difabel, karena tentunya mereka lebih unik dibandingkan dengan anak umum lainnya. Seringkali, tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, sehingga banyak anak difabel yang tidak mendapatkan cara belajar yang tepat akibat kebiasaan-kebiasaan yang tidak diketahui oleh guru. Maka, penting untuk melibatkan Guru Pendamping Khusus di sekolah inklusi hingga guru tahu bagaimana cara yang tepat menangani anak-anak difabel.

5. Buat solusi jangka pendek untuk siswa difabel

Selain menanamkan pemahaman disabilitas dan berkomunikasi dengan lembaga lain agar siswa difabel bisa mendapatkan pelajaran seperti siswa lainnya, Bapak/Ibu Guru juga bisa menerapkan solusi jangka pendek yang dapat langsung diterapkan. Misalnya dengan menggunakan alat-alat penunjang aksesibilitas bagi siswa berkebutuhan khusus. Contohnya dengan menggunakan komputer dengan pembaca layar bagi siswa Tunanetra. Dengan begitu, siswa-siswa Tunanetra juga bisa membaca dan menulis seperti siswa lainnya.

Sistem pendidikan yang memadai bagi penyandang disabilitas serta dukungan dari lingkungan sekitar, mulai dari guru, orang tua dan teman dapat membantu mengasah potensi mereka. Ayo, bantu mereka dengan menjadi guru privat di ruangles.

New Call-to-action

Beri Komentar

Recent Posts