Jangan Samakan, Ini 5 Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Shabrina Alfari

Sep 4, 2019 • 4 min read

Siap kuliah Kampus dan Jurusan


psikolog dan psikiater

Artikel ini membahas lima perbedaan antara psikolog dan psikiater, walaupun keduanya sama-sama menangani masalah kejiwaan

--

Tahukah kamu, merujuk dari data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun mencapai sebesar 9,8 persen. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu 6 persen. Persoalan kesehatan jiwa ini tidak bisa dianggap sepele. Dibutuhkan tenaga ahli seperti psikolog dan psikiater untuk menanganinya.

Psikolog dan psikiater, apa bedanya? Bukannya dua-duanya sama-sama menangani masalah kejiwaan? Meskipun sering dianggap sama, tapi keduanya nggak sepenuhnya sama, lho. Apa saja ya perbedaan antara psikolog dan psikiater? Lalu, bagaimana dengan jurusan kuliahnya? Kira-kira kamu harus mengambil jurusan apa ya jika ingin berkarier menjadi salah satunya? Yuk, cari tahu!

1. Latar belakang pendidikan atau jurusan untuk psikolog dan psikiater

psikolog dan psikiaterPsikolog adalah ilmu sosial, psikiater adalah cabang ilmu kedokteran (Sumber: leaderonomics.com)

Untuk menjadi seorang psikolog, kamu harus menempuh pendidikan dan menyelesaikan pendidikan S1 dari Ilmu Psikologi terlebih dahulu. Baru setelah itu kamu bisa meneruskan program profesi untuk belajar praktik menjadi psikolog.

Sementara itu, psikiater sebenarnya adalah spesialisasi dari ilmu kedokteran. Untuk menjadi psikiater, kamu harus menempuh pendidikan sarjana kedokteran untuk mendapatkan gelar dokter umum terlebih dahulu. Setelah mendapatkan gelar dokter umum, kamu bisa mengambil pelatihan residensi selama empat tahun dengan pengkhususan di bidang psikiatri. Setelah lulus masa residensi, psikiater akan bergelar dokter dan Sp.Kj (Spesialis Kesehatan Jiwa).

2. Psikolog menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi non-medis, sedangkan psikiater dari sisi medis

psikolog dan psikiaterPsikolog menyelidiki dari non medis, psikiater dari sisi medis (Sumber: eduadvisor.my)

Seorang psikiater menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi medis dan kelainan susunan saraf pada penderita penyakit kejiwaan. Psikiater juga bertanggung jawab untuk mendiagnosis gangguan mental seorang pasien dan menentukan pengobatan yang dilakukan.

Psikolog menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi non medis seperti pola asuh, susunan keluarga, tumbuh kembang selama anak-anak hingga dewasa, hingga pengaruh lingkungan sosial. Psikolog harus fokus pada terapi psikososial untuk perilaku, pikiran dan emosi pasien.

3. Psikiater boleh memberikan obat, sedangkan psikolog tidak

psikolog dan psikiaterPsikiater boleh memberikan obat, psikolog tidak (Sumber: leaderonomics.com)

Saat kuliah di kedokteran, psikiater juga mempelajari ketidakseimbangan kimia di dalam otak manusia. So, seorang psikiater bisa memberikan resep dan terapi obat-obatan (farmakoterapi), terapi stimulasi otak, pemeriksaan fisik dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien. Tentunya setelah dilakukan diagnosis gangguan mental terlebih dahulu.

Psikolog lebih fokus kepada aspek sosial pasien, seperti memberikan terapi psikologi atau psikoterapi. Selain itu, psikolog juga berkompeten untuk melakukan serentetan tes psikologi yang nantinya akan diinterpretasikan sebagai jawaban dari masalah yang dialami pasien seperti tes IQ, tes kepribadian, minat bakat, dan sebagainya.

4. Memberikan terapi terbaik dengan cara yang berbeda

psikolog dan psikiaterPsikolog (Sumber: medicalnewstoday.com)

Intinya, psikolog dan psikiater sama-sama mendalami ilmu kejiwaan dan memiliki konsentrasi praktik yang sama, berupa upaya penanganan, pencegahan, diagnosis dan juga pemberian terapi. Keduanya bekerja sama untuk saling berkoordinasi dalam memberikan terapi terbaik bagi pasien. Hanya saja dalam bentuk yang berbeda.

Psikolog melakukan terapi pada pasien setiap minggu untuk konseling psikososial. Psikiater juga akan melakukan terapi setiap minggu atau bulanan untuk psikoterapi atau psikofarmakologi. Hal ini tergantung pada kasus dan permasalahan yang dihadapi masing-masing pasien atau kebutuhan klinis pasien.

5. Psikolog bisa menjadi tempat untuk berkonsultasi, sedangkan psikiater untuk pengobatan

psikolog dan psikiaterPsikiater (Sumber: cancercenter.com)

Bagi yang memiliki permasalahan dengan kesehatan jiwa, kamu bisa berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Ada juga kasus pasien yang perlu berkonsultasi dengan kedua profesi ini. Hal ini sangat tergantung pada kasus dan permasalahan yang dihadapi pasien. Bisa saja, seorang pasien yang berkonsultasi ke psikolog juga akan direferensikan ke psikiater karena misalnya membutuhkan terapi berupa obat.

Masalah kesehatan jiwa memang masing kerap dianggap kurang penting dibandingkan kesehatan fisik. Padahal jika tidak ditangani, gangguan kejiwaan juga dapat mengancam kehidupan seseorang, lho. So, profesi psikolog dan psikiater masing sangat dibutuhkan untuk banyak orang. Kamu berminat? Yuk, siapkan diri untuk bisa masuk jurusan Psikologi atau Kedokteran bersama ruangbelajar.

ruangbelajar

Beri Komentar

Recent Posts