6 Langkah Menjaga Empati dan Nuansa Positif di Masa Pandemi Covid-19

pandemi covid-19

Artikel ini membahas tentang bagaimana menjaga empati dan nuansa positif di masa pandemi Covid-19.

--

Tidak mudah untuk merasa positif dalam masa-masa sulit ini. Harus beradaptasi dengan kondisi yang benar-benar berbeda. Tidak hanya itu, anggota keluarga kita juga merasakan hal yang sama. Belum lagi ditambah tingkah laku anak-anak kita yang kadang membuat kita kehilangan kesabaran karena menambah-nambah kerjaan. 

Tapi tenang, yakinkanlah semuanya akan baik-baik saja. Yakinlah, bahwa jika diri kita positif, maka lingkungan juga akan mengikuti. Tapi bagaimana jika anak-anak tetap tidak kooperatif untuk membantu menjaga nuansa positif ini?

Menumbuhkan empati saat Corona
(Sumber: bloktuban.com)

Mereka bukan tidak kooperatif. Mereka hanya tidak tahu apa yang positif dan tidak. Apa yang mereka lakukan, murni karena keinginan mereka sendiri dan itu tidak salah. Tapi jika memang apa yang mereka lakukan malah mengganggu, dan bingung harus apa, jawabannya sederhana. Kita hanya perlu memberi mereka arahan. UNICEF telah merangkum arahan apa saja yang bisa diberikan ke dalam enam langkah.

Tapi sebelum membahas mengenai enam langkah yang telah dirangkum oleh UNICEF, ada hal yang penting yang harus dimiliki dan diterapkan, yaitu berempati. Apa itu empati? Merasakan apa yang orang lain rasakan. Memahami orang lain dapat membantu kita mengetahui alasan mereka melakukan sesuatu.

Ketika anak-anak kita berulah, kita sebaiknya berempati kepada mereka. Masuk ke dunia mereka. Ketika menempatkan diri kita di posisi mereka, kita jadi tahu ternyata alasan mereka berulah. Misalnya karena mereka tidak bisa menemui teman-teman mereka, mereka bosan. Sehingga mereka berontak ingin melakukan ini dan itu.

Dengan memahami alasan seseorang melakukan sesuatu, kita bisa merancang strategi agar orang tersebut mau bekerja sama dengan kita untuk melakukan sesuatu sesuai dengan arahan dan keinginan kita.

Nah, setelah kita berempati, kita bisa menerapkan enam langkah yang sudah dirangkum oleh UNICEF, yakni sebagai berikut:

1. Katakan hal apa yang kita inginkan

Kita tidak bisa memarahi anak, menuntut anak kita untuk melakukan suatu hal jika kita tidak memberitahu mereka apa yang harus dilakukan. Maka, kita sebaiknya memberikan mereka arahan. Adapun kata-kata yang kita gunakan sebaiknya mengandung kata-kata positif.

Contohnya; ganti kalimat berikut, “Jangan main di luar, nak. Nanti kamu terkena virus!” dengan, “Mainnya di dalam ya, nak, supaya kita bisa tetap sehat.” Hindari kata-kata negatif seperti ‘jangan’ dan menggantinya dengan kata-kata positif.

2. Gunakan cara penyampaian yang baik dan benar

Seperti yang sudah kita ketahui, berempati adalah hal penting. Bayangkan jika kita diberi perintah dengan intonasi yang tinggi. Lalu bandingkan dengan diberi perintah dengan nada yang lebih lembut. Kebanyakan dari kita akan lebih memilih nada yang lembut. Anak kita pun sama. Mereka lebih nyaman dan merasa disayangi jika kita lembut kepada mereka.

Menumbuhkan rasa Empati(Sumber: kumparan.com)

Gunakan panggilan sayang untuk memanggil mereka. Beri mereka rasa aman dan rasa sayang dengan mengeluarkan suara yang lembut dan nyaman ketika memberi arahan.

3. Terapkan kedisiplinan

Memberikan arahan kepada anak tidak sesederhana memberi arahan kepada orang dewasa. Orang dewasa tentunya sudah memiliki rasa tanggung jawab. Sehingga akan disiplin dengan sendirinya. Sedangkan anak tidak demikian. Mereka belum paham apa itu disiplin atau tanggung jawab. Sehingga kita sebaiknya mendidik mereka.

Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan konsep sebab-akibat, dengan cara yang lembut. Misalnya, “Adik sayang nggak dengan tetangga? Kalau adik sayang, maka adik mainnya di rumah, ya. Kalau adik main di luar sama tetangga, dan adik sama tetangga jadi sakit, sedih nggak? Nah, maka dari itu adik mainnya di rumah, agar adik dan tetangga bisa sehat juga, sehingga bisa main sama-sama lagi, ya?”

4. Bantu anak untuk tetap terkoneksi dengan teman mereka

Tentunya anak-anak kita rindu dengan teman-temannya di saat-saat yang sulit ini. Kita bisa memberi fasilitas kepada mereka agar tetap bisa berhubungan dengan teman-temannya. Misalnya meminjamkan mereka smartphone agar bisa melakukan video call dengan teman-teman mereka.

apresiasi segala jenis keberhasilan

(Sumber: kompas.com)

Hal tersebut dapat dilakukan dengan mendampingi anak-anak ketika menghubungi teman-temannya. Kita juga bisa menanyakan kabar teman-teman mereka kepada mereka. Perlakuan ini menunjukkan bahwa kita peduli akan lingkungan sosial anak-anak kita.

5. Dorong anak untuk membantu sesama sesuai kemampuannya dalam situasi pandemi

Selain memberi perintah untuk menjaga kesehatan atau menerapkan kebijakan pemerintah, kita juga bisa mengajarkan mereka untuk tetap menolong orang lain meski dalam kondisi yang sangat terbatas ini.

Misalnya, kita mengajak anak kita untuk memberikan donasi kepada tenaga kesehatan. Atau kita memberi bantuan kepada pekerja lapangan lainnya seperti tukang antar makanan, tukang kurir dan sebagainya. 

6. Beri apresiasi

Terakhir, kita dapat mengapresiasi setelah mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Adapun apresiasi ini akan membuat mereka berpikir apa yang mereka lakukan sudah baik dan benar.

Misalnya, “Anak bunda memang hebat, sudah bisa membantu orang. Bunda bahagia”, sambil memberikan pelukan dan usapan di kepala. Atau “Anak ayah juara! Bisa disiplin dan tanggung jawab, ayah bangga!” dengan mengangkatnya ke atas.

beri dia perhatian

(Sumber: parentalk.id)

Anak akan merasa dihargai dan dia akan terus menerapkan apa yang kita perintahkan. Karena kita memberi perintah dan memberi apresiasi dengan penuh rasa kasih sayang dan positif. Tentunya penerapan enam langkah di atas disesuaikan dengan umur mereka. Tapi dilakukan dengan cara yang sama. Yaitu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Selain menerapkan langkah-langkah di atas agar menjaga nuansa positif, kita juga bisa memfasilitasi mereka untuk menambah pengetahuan dan memberi ruang untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Yaitu dengan memberi akses ruangbelajar melalui aplikasi Ruangguru. Belajar akan jauh lebih menyenangkan dengan ribuan video belajar beranimasi.

ruangbelajar

Beri Komentar