8 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memberikan Pendidikan Seksual Pada Anak

Bulan Tamara Horo

Nov 8, 2018 • 6 min read

parenting


“Ayah, kenapa aku punya penis, tapi teman perempuanku tidak?”

“Kok di kemaluanku tumbuh rambut, Ma? 

Smart Parents, pertanyaan-pertanyaan semacam ini sebenarnya adalah kesempatan untuk memberikan pendidikan seksual pada anak, lho! Jadi sebaiknya jangan menghindar ketika ditanya demikian. Penting bagi orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak mereka masih kecil. Selain agar anak memiliki pemahaman untuk menjadi dasar mengambil keputusan seputar seksualitas di masa yang akan datang, juga agar melindungi anak dari risiko kekerasan seksual. Yuk, simak 8 hal yang harus Smart Parents pahami sebelum memberikan pendidikan seksual pada anak.

1. Kapan waktu yang tepat untuk memberikan pendidikan seksual bagi anak?

Pendidikan Seksual

Cara mengajarkan anak mengenai privasi tubuh. (Sumber: twitter.com/globalchildcare)

Berikan pendidikan seksual pada anak sedini dan sesering mungkin. Ajaklah anak berdiskusi secara sederhana dan menyenangkan. Smart Parents tidak harus mengatur kapan dan di mana diskusi dilakukan, lakukanlah kapan saja ketika situasi mendukung. Misalnya jelaskan bagian tubuhnya ketika sedang memandikan anak, menjelaskan perbedaan tubuh wanita dan pria ketika sedang mengganti popok adik, dan lain sebagainya.

2. Wajar untuk merasa canggung

Pendidikan Seksual

Kalimat-kalimat yang bisa Anda gunakan untuk memulai pembahasan seksual dengan anak. (Sumber: amaze.org)

Pada mulanya tentu akan canggung bagi sebagian orang tua, akuilah kepada anak jika Anda merasa tidak nyaman membicarakan topik seksual, tapi tekankan bahwa Anda harus membahasnya secara terbuka karena penting bagi keamanan diri Anak. Misalnya ''Aduh, Mama malu menjawabnya, tapi akan Mama coba jelaskan ya.” Kemudian jawablah pertanyaan anak dengan lemah lembut dan jelaskan fakta-fakta dengan bahasa yang jelas dan tidak menakut-nakuti anak.

Kalau Smart Parents tidak tahu, katakan pada anak bahwa Anda tidak tahu dan janjikan jika Anda akan mencarinya di buku atau bertanya pada orang yang mungkin mengetahuinya.

 3. Jangan menganggap seks sebagai hal yang tabu 

Pendidikan Seksual

Pada usia 3-4 tahun, saat anak mulai belajar untuk mengenali tubuhnya sendiri dan membandingkan diri dengan teman-temannya. (Sumber: memphisparent.com)

Jika menghindar atau mengalihkan perhatian saat anak Anda bertanya, dia akan enggan mengulangi pertanyaan serupa dan memilih mencari jawaban dari pihak lain yang belum tentu bertanggung jawab. Orang tua harus keluar dari budaya tabu membicarakan seks agar anak menjadikan orang tua sebagai rujukan tentang masalah seks. Jangan sampai anak mengetahuinya dari teman, buku atau bahkan website-website di internet yang tidak sesuai untuk mereka.

4. Jelaskan seks dengan sisi positif

 Pendidikan Seksual

Jelaskan pada anak bahwa semua makhluk hidup berkembang biak, begitu pun manusia. (Sumber: drmichaelaaronnyc.com)

Tekankalah bahwa seks bukanlah hal yang menjijikan atau kotor, melainkan suatu hal yang biologis. Manusia berkembang biak melalui perkawinan setelah menikah. Kata menikah harus ditekankan agar anak-anak remaja memiliki pemahaman bahwa menikah adalah hal yang wajib dilakukan sebelum seseorang dapat melakukan hubungan suami istri.

5. Seks bukan hanya seputar hubungan seksual pria dan wanita

the puberty lady

Anak yang secara seksual terdidik memiliki citra diri yang positif dan memiliki sikap menghargai. (Sumber: kqed.org)

Seks bukan hanya seputar hubungan seksual pria dengan wanita, Smart Parents. Melainkan juga mengenai norma-norma sosial, menyayangi diri dan tubuh yang diberikan oleh Tuhan YME, kesehatan alat reproduksi atau menghargai perbedaan. Anak yang secara seksual terdidik akan lebih memiliki sikap menghargai orang lain yang punya pandangan berbeda dengannya tentang isu kontroversial seperti; aborsi, kontrasepsi, seks sejenis dan perceraian. 

6. Sesuaikan dengan usia anak 

Pendidikan Seksual

Berikan pembahasan sesuai usia anak. (Sumber: infographicfacts.com)

Pendidikan seks untuk anak sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan berkelanjutan. Misalnya dimulai dengan menjelaskan organ intim dan fungsinya saat anak berusia 0-2 tahun, kemudian pada usia 3-5 tahun berikan pemahaman mengenai perbedaan tubuh pria dan perempuan, usia 6-8 tahun Smart Parents sudah bisa membicarakan mengenai kehamilan, dan seterusnya hingga anak mengalami pubertas dan dewasa. Selain itu selalu ingatkan pada anak mengenai pentingnya menjaga area privat mereka.

 7. Tanamkan budaya malu

pendidikan seksual anak

Agar anak memahami norma-norma yang berlaku di masyarakat. (Sumber: intuitparentingandwellness.com)

Penting bagi orang tua mengajarkan rasa malu kepada anak agar anak dapat menghargai dirinya sendiri. Ajarkan batasan-batasan dalam bermain dengan lawan jenis dan berikan arahan untuk tidak melepas dan mengganti pakaian di tempat umum. Kenalkan juga bagian-bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Bagian tubuh tersebut antara lain dada, bibir, organ reproduksi dan pantat.

8. Tumbuhkan rasa percaya

Pendidikan Seksual

Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua. (Sumber: momskoop.com)

Ajarkan anak untuk tidak menyembunyikan apapun dari orang tua apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang diterima atau yang terlihat oleh anak meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku. Jalin komunikasi yang baik agar anak tidak merasa enggan untuk berbicara dengan orang tua. Jika orang tua memberi rasa aman pada anak, anak akan merasa nyaman untuk bertanya.

Gimana Smart Parents? Semoga dengan memahami kedelapan hal di atas bisa membuat Smart Parents lebih nyaman dan terbuka dalam memberikan pendidikan seksual terhadap anak ya!

Yuk, bikin anak semakin semangat belajar dengan Ruangguru On-The-Go Ekstra dan dapatkan paket Ruangguru OTG + Ruangguru Digital Bootcamp! Selain mendapatkan Ruangguru On-The-Go yang bisa dipakai di mana saja dan kapan saja tanpa kuota internet, anak Smart Parents juga akan tergabung di Ruangguru Digital Bootcamp (RGDB) bersama tutor berpengalaman dan teman-teman dari seluruh Indonesia.

New Call-to-action

 

Beri Komentar