Selamat Hari Lahir, Albert Einstein!

Kresnoadi Mar 14, 2020 • 3 min read


albert einsteinArtikel ini merupakan persembahan untuk mengenang hari lahir Albert Einstein.

--

Hari ini dunia bersorak karena 141 tahun yang lalu, di Jerman, lahir pria bernama Albert Einstein.

Tidak bisa dimungkiri, hal paling melekat tentang Einstein adalah fotonya menjulurkan lidah dengan rambut awut-awutan serta rangkaian tiga huruf dan satu angka yang mahaterkenal itu: E=mc2.

Energi yang terkandung dalam benda diam sama dengan massa benda dikali kuadrat kecepatan cahaya. Artinya, dalam tiap gram massa, ia mengandung energi yang sangat besar, sebesar kecepatan cahaya.

Pertanyaannya: kenapa kita nggak pernah sadar ada energi sebesar itu dalam benda sekecil itu?

Einstein kemudian menjelaskannya melalui Out of My Later Years (1950). Tulisnya, “Selama tidak ada energi yang dilepaskan secara eksternal, hal itu nggak akan pernah teramati. Kayak orang tajir mampus yang nggak pernah belanja; nggak ada yang tahu setajir apa orang ini.”

Ya, tentu tulisan Einstein itu saya ubah gayanya biar lebih syahdu, tapi kurleb gitu lah. Hoho.

Einstein adalah pemikir yang doyan bengong. Makalah Does the Inertia of a Body Depend Upon Its Energy Content? yang melahirkan teori relativitas itu bahkan tidak mencantumkan sumber dari makalah lain. Pada tahun yang sama, 1905, Einsten juga menerbitkan beberapa makalah lain. On a Heuristic Viewpoint Concerning the Production and Transformation of Light (yang membuatnya mendapat gelar nobel), On the Movement of Small Particles Suspended in Stationary Liquids Required by the Molecular-Kinetic Theory of Heat, dan A New Determination of Molecular Dimensions. Tahun yang lantas disebut sebagai annus mirabilis atau tahun mukjizat Einstein.

Bagi Einstein, Newton adalah idolanya dan Principia Mathematica yang ditulisnya adalah kitab sucinya.

Konon, Einstein muda senang berpikir dan bengong dan ia selalu terbayang bagaimana Newton menemukan konsep gravitasi. Ia takjub sekaligus geregetan. Suatu waktu, ia bergeletak di halaman rumahnya. Menanti apel menimpa wajahnya. Sampai sepuluh jam kemudian, tidak ada yang terjadi. Hampir ia tidak setuju dengan pendapat Newton sampai ibunya datang dan bilang, “Di sini, kan, nggak ada pohon apel.”

Untung Einstein orangnya santai. Ia bisa menerima kepolosannya bahwa ia tidak tahu seperti apa bentuk pohon apel. Kalau ia Keanuagl, mungkin akan membalas sang ibu dengan: “Masa? Jangan ngadi-ngadi, lo!”

Kesenangannya akan berpikir bukan hanya membuatnya jadi sosok yang bengang bengong menatap nanar keluar jendela di waktu hujan menanti senja. Ia berusaha mempelajari berbagai sudut pandang. Apel yang dijatuhkan ke permukaan bumi akibat gaya gravitasi adalah satu hal. Namun, apel yang dilepaskan dari genggaman astronot dalam roket yang sedang meluncur dengan kecepatan tinggi ke atas, di ruang hampa udara, adalah hal lain.

Bagi astronot, jatuhnya apel ke permukaan lantai roket disebabkan oleh gravitasi. Dan itu sah sah saja.

Bagi kita yang berada di luar roket, mendengar astronot menjelaskan hal itu adalah hal yang aneh. Roketnya saja berada di tempat tanpa gravitasi. Bagaimana bisa gravitasi yang tidak ada itu menyebabkan jatuhnya apel? Luncuran roket dengan kecepatan tinggi ke atas lah yang membuat apel “terlihat” jatuh ke bawah.

Orang yang berada di dalam lift selalu bisa merasa ia dan lift berdiri dalam keadaan diam dan baik-baik saja. Namun, kita yang di luar, bisa jadi panik bukan main karena tahu lift sedang merosot jatuh akibat gravitasi.

Dia yang kita liat hepi-hepi aja di Instagram story bisa aja tiap jam 2 pagi gabisa tidur karena mikirin: “UNTUK APA AKU DILAHIRKAN? UNTUK APAAAAHHH?!!”

Bagi saya, Einstein keren karena ia mau membuka pikirannya terhadap sudut pandang baru dan melihatnya sebagai sesuatu yang biasa saja.

Maka, mari kita merayakan hari lahir Albert Einstein ini dengan sebuah cerita tentang ia dan Elsa, istri sekaligus sepupunya yang tidak paham-paham amat soal fisika. Einstein menjelaskan teori relativitasnya dengan bilang begini:

“Kalau kamu duduk memangku Marylin Monroe selama satu jam, kamu akan merasakannya seperti satu menit. Di sisi lain, kalau kamu meletakkan tanganmu di atas api kompor selama semenit, kamu akan merasakannya seperti satu jam.”

Einstein kemudian mengajak Elsa ke dapur. Berusaha membuktikan ucapannya. Dan dengan lihai Elsa mengelak, “Tapi kamu dulu ya.”

Einstein: “Jangan ngadi-ngadi lo!”

Bercanda zeyeng.

Kalau kita lihat sekilas, pembicaraan itu layaknya bercandaan yang biasa dilakukan dua orang yang sedang dimadu asmara. Tapi, jauh lebih dalam, melalui relativitasnya, kita tahu bahwa Einstein selalu memikirkan segala sesuatu satu langkah lebih dalam, dan satu petak lebih lebar.

Jadi mungkin, sekarang kamu perlu jawab pertanyaan ini: Buatmu, belajar itu terasa seperti apa? Duduk memangku Marylin Monroe, atau meletakkan tangan di atas kompor?

ruangbelajar

Beri Komentar