Apakah Anak Harus Selalu Ranking Terbaik?

Rabia Edra

Feb 1, 2019 • 4 min read

parenting


ranking terbaik

Artikel ini membahas mengenai perspektif orang tua yang keliru saat mengetahui anak tak pernah mendapat posisi ranking terbaik.

--

Smart Parents, pernahkah merasa kecewa dengan hasil nilai belajar anak di sekolah selama ini? Padahal, sudah berupaya untuk memaksimalkan potensinya sebaik mungkin, namun isi rapornya setiap semester tidak pernah dirasa memuaskan orang tua. Adakah yang salah dalam metode pengajaran guru? Atau justru kita sebagai orang tua yang lalai membimbingnya? Tulisan berikut ini terinspirasi dari seorang Ayah yang mencurahkan kisahnya tentang anaknya yang tak pernah beranjak dari ranking ke-23 di antara teman-teman kelasnya.

Setiap pembagian rapor, sang Ayah harus selalu siap saat anaknya akan dijuluki “Si 23” Sebagai orang tua, tentu panggilan ini seperti ini dirasa kurang nyaman untuk didengar, namun anak perempuannya sama sekali tidak merasa keberatan dengan adanya panggilan tersebut.

Hingga pada sebuah acara perkumpulan orang tua dan anak yang diselenggarakan oleh sekolah, semua orang kerap membicarakan tentang cita-cita buah hati mereka saat sudah dewasa. Sebagian ada yang menjawab akan menjadi dokter, pilot, arsitek, bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan mendengarnya. Tetapi, “Si 23” tak terlihat ingin berlomba-lomba menjawabnya. Ia justru sibuk membantu anak kecil lainnya untuk makan.

ranking terbaik

Cita-cita anak lainnya (Sumber: thekidslogic.com)

Lalu, ia didesak orang banyak untuk mengutarakan cita-citanya. "Saat dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main," ujarnya lantang. Kemudian, untuk menunjukkan kesopanan, semua orang pun tetap memberikan pujian dan segera menanyakan apa cita-citanya yang kedua. "Saya ingin jadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang," lanjutnya.

Semua orang pun hanya saling pandang dan tak tahu harus berkata apa. Nampak terlihat wajah Ibunya pun terlihat canggung di depan orang banyak. Sepulang dari kegiatan tersebut, sang Ibu mengeluhkannya pada Ayah. Apakah harus membiarkan anak perempuannya hanya menjadi seorang guru TK di kemudian hari?

Selanjutnya, kedua orang tua memutuskan untuk memberi les tambahan pada sang anak agar dapat mengejar ketinggalan nilai pelajaran di sekolah. “Si 23” pun sangat penurut, ia tak lagi membaca komik, membuat origami, dan juga mengurangi jam bermain. Ia kelelahan mengikuti bimbingan belajar ke sana-sini, berlatih soal di buku pelajaran tanpa henti. Sampai akhirnya, tubuh kecilnya tak bisa bertahan lagi, ia terserang flu berat dan radang paru-paru. Sayangnya, setelah melewati perjuangan tersebut, tetap saja hasil ujian semesternya membuat kedua orang tua kebingungan. Ia tetap saja ada di urutan ranking 23.

Pada suatu Minggu, teman-teman sekantor Ayahnya mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan semua penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Namun, “Si 23” menurut orang tuanya tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia terlihat sering lari ke bagian belakang bus untuk mengawasi bahan makanan, merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Saat tiba di lokasi rekreasi, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki—si jenius matematika dan ahli bahasa Inggris—merebutkan sepotong kue. Keduanya tidak mau melepaskan apalagi membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir, justru “Si 23” yang berhasil melerainya, dengan merayu mereka untuk berdamai.

ranking terbaik

Merebutkan makanan (Sumber: mouthsofmums.com)

Tak berhenti di situ, ketika pulang jalanan macet, anak-anak lain mulai terlihat gelisah. Namun, ia malah asyik membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap anak mendapatkan guntingan kertas berbentuk hewan masing-masing, dan mereka terlihat gembira.

Waktu terus berjalan hingga selepas ujian semester, sang Ayah menerima telpon dari wali kelasnya. Pertama, ia mendapatkan kabar kalau ranking anaknya di sekolah tetap berada di urutan 23. Kedua, setelah lebih dari 30 tahun mengajar, gurunya mengatakan ada satu hal ganjil yang terjadi. Dalam ujian bahasa Indonesia, disertakan sebuah soal tambahan di bagian akhir. Siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan apa alasannya? Jawaban dari semua teman sekelasnya sama, tak ada satu pun yang beda. Mereka serentak menuliskan nama “Si 23”.

Mereka bilang, karena sangat senang membantu orang lain, selalu memberi semangat, selalu menghibur, ramah, dan mudah diajak berteman. Si wali kelas pun memberi pujian karena perilakunya menempati ranking satu. Tak berselang lama, sang Ayah mencandai anaknya dan berkata bahwa ia suatu saat akan jadi pahlawan.

ranking terbaik

Anakku, pahlawanku (Sumber: commshero.com)

“Bu guru pernah mengatakan ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Aku tidak mau jadi pahlawan. Aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan saja,” ucap anaknya seraya merajut syal. Ayahnya terkejut mendengarnya. Ketika di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, jadi orang-orang hebat, atau orang terkenal. Namun anaknya memilih untuk menjadi orang yang tidak ‘terlihat’. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi justru yang mengokohkan, memberi makan, dan memelihara kehidupan yang lain.

Smart Parents, hidup memang bukan semata-mata untuk menunjukan siapa yang paling penting, paling berperan, atau paling hebat. Sederhana saja, siapa yang paling bermanfaat bagi yang lain. Eits, tapi ngga ada salahnya perilaku yang baik juga diseimbangi dengan kemampuan diri anak yang baik pula. Bimbing terus ia belajar namun jangan sampai kelelahan dengan menggunakan ruangbelajar. Kini, bisa belajar kapan pun dan di mana pun, si kecil tak perlu lagi mengikuti bimbingan belajar ke sana dan sini. Waktu lebih efektif, anak pun lebih semangat.

ruangbelajar

Artikel Lainnya

Beri Komentar

Recent Posts