Baca Kisah Ini, Hilangkan Kebiasaan Buruk Sejak Kecil!

Yuza Mulia Agu 28, 2015 • 1 min read


Suatu ketika, hidup seorang ayah dengan anaknya. Sang Ayah kewalahan dengan sikap buruk yang terus diperlihatkan anaknya. Ia telah mencoba untuk mengingatkan anaknya berkali-kali untuk menghilangkan sikap buruknya, namun tetap tidak bisa. Ia pun meminta tolong Pak Tua yang bijak untuk membantunya menghilangkan sikap buruk anaknya.

Pak Tua membawa anak itu ke sebuah kebun besar. Diajaknya ia berkeliling kebun dengan riang, sampai di suatu waktu mereka menghampiri kumpulan bunga. "Coba kamu cabut bunga kecil itu," Pak Tua meminta sang anak. Dengan tarikan mudah menggunakan hanya jempol dan telunjuk, bunga itu dicabutnya. "Coba kamu cabut yang ini," Pak Tua menunjuk bunga yang lebih besar. Sedikit lebih keras usahanya, namun anak itu tetap bisa mencabutnya.

Mereka pun jalan-jalan lagi, hingga menghampiri kumpulan semak. "Coba kamu tarik semak ini sampai akarnya," pinta Pak Tua lagi. Sebagian semak berhasil ditariknya sampai ke akar-akarnya. Sang anak mulai berkeringat. Muka terlihat bertanya-tanya. "Untuk apa ini semua, Pak?" tanyanya. "Ayo kita lanjutkan dulu," jawab Pak Tua.

Mereka kembali berjalan hingga mendekati sebuah pohon besar. "Sekarang coba kamu cabut pohon itu sampai akar-akarnya," kembali Pak Tua meminta. Kali ini anak itu benar-benar bingung. Namun dia tetap mencobanya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengangkat, menarik pohon itu untuk mencabutnya hingga akar. "Ini tidak mungkin, Pak!" keluhnya.

"Begitu juga dengan sifat buruk. Semuanya harus dihilangkan saat masih kecil, masih muda. Karena kalau sifat buruk dibiarkan terus, maka ia akan tumbuh seiring pertumbuhanmu, dan akan semakin sulit untuk dihilangkan."

Anak itu hanya bisa menunduk. Namun kata-kata Pak Tua benar-benar mengubah hidupnya selamanya.

Smart Buddies, cerita ini memberikan kita pelajaran moral yang sangat berharga. Jangan biarkan kebiasaan atau sifat buruk tumbuh bersama kita, karena akan sulit untuk menghilangkannya kalau kita sudah tumbuh dewasa.

Sumber : moralstories.org

Beri Komentar