Minat Baca Orang Indonesia Rendah, Masa Sih?

Riza Miftah Muharram

May 17, 2019 • 4 min read

Wow ternyata


Header_-_WT_-_Benarkah_Minat_Baca_Orang_Indonesia_Rendah-01

Artikel ini membahas mengenai minat baca buku orang Indonesia sekaligus memperingati Hari Buku Nasional. Benarkah minat baca kita di urutan kedua terendah di dunia?

--

Selamat Hari Buku Nasional, Squad!

Kamu pasti pernah baca artikel atau menemukan infografik yang bilang kalau minat baca orang Indonesia sangat rendah, 'kan. Dan kamu mungkin salah satu orang yang percaya saja setelah membaca artikel atau melihat infografik itu. Sudahkah kamu mencoba memverifikasi kebenarannya?

Berdasarkan data Most Littered Nation In the World, studi untuk mencari tahu seberapa tinggi minat baca negara-negara di dunia yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016 lalu, memang negara kita tercinta ini dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Dalam studi tersebut, Indonesia persis berada di bawah Thailand (urutan 59) dan di atas Botswana (61). Tapi tunggu, dari mana CCSU bisa sampai pada kesimpulan seperti itu? Gimana metode mereka untuk mendapatkan data-datanya? Nah, ini yang seharusnya kita kritisi, Squad.

Baca Juga: Trik Membaca Bagi yang Tidak Suka Membaca

Menurut informasi pada situs web CCSU, diketahui bahwa ada beberapa kriteria yang mereka pakai untuk mencari tahu seberapa tinggi atau rendahnya tingkat minat membaca negara-negara di dunia, di antaranya adalah perpustakaan, peredaran surat kabar, pemerataan pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Nah, mari kita bahas dari salah satu kriterianya: perpustakaan. Jadi, CCSU ini mendata seberapa sering sebuah perpustakaan dikunjungi oleh masyarakat suatu negara untuk pada akhirnya merilis data tingkat minat baca negara tersebut.

Memang sih, kalau kita lihat di Indonesia, nggak banyak masyarakat yang mau berkunjung ke perpustakaan untuk sekadar membaca buku. Berdasarkan data dari Jakarta Open Data saja, pengunjung Perpustakaan Umum Daerah Jakarta nggak sampai 500 ribu pengunjung per tahun, padahal penduduk Jakarta ada kurang lebih sekitar 10 juta orang.

Jumlah itu sangat sedikit kalau dibandingkan dengan pengunjung Perpustakaan Nasional Singapura yang mencapai 26 juta pengunjung pada tahun 2017, berdasarkan data dari situs web National Library of Singapore.

Membaca buku seolah bukan jadi budaya kita ya, Squad.

Terserah_-_WT_-_Benarkah_Minat_Baca_Orang_Indonesia_Rendah-06-06

Namun, dengan sedikitnya jumlah pengunjung ke perpustakaan ini, sebenarnya nggak bisa jadi tolok ukur tingkat minat baca lho.

Coba lihat deh, gimana dengan orang-orang yang nggak pernah ke perpustakaan karena akses ke perpustakaan sangat jauh dari rumahnya? Atau gimana dengan orang-orang yang nggak pernah ke perpustakaan karena mereka lebih pilih untuk beli buku aja?

Dengan tingkat kunjungan masyarakat kita ke perpustakaan yang nggak bisa dibilang tinggi itu, masa serta merta Indonesia dibilang memiliki minat baca yang rendah? Padahal, kalau kita mau melihat lebih dalam, ternyata kultur membaca di Indonesia itu unik. Berkunjung ke perpustakaan bukan budaya kita, budaya kita adalah lebih suka berkunjung ke toko buku untuk membeli buku bacaan yang mau kita baca. Horang kaya memang.

Buat kamu yang sering main ke toko buku atau datang ke acara-acara bazar buku, pasti deh selalu ngantri dan selalu penuh pembeli, ya'kan? Fenomena ini bisa jadi muncul karena toko buku mungkin lebih dekat dan mudah dijangkau daripada perpustakaan.

Infografik_-_WT_-_Benarkah_Minat_Baca_Orang_Indonesia_Rendah-06

Tingkat minat membaca buku orang Indonesia harusnya bisa dilihat dari kultur yang unik itu, bukan lagi dari seberapa tinggi kunjungan ke perpustakaan. Semakin ramainya jumlah pengunjung toko buku, artinya minat masyarakat kita untuk menyantap buku nggak bisa dibilang rendah.

Ditambah lagi nih, menurut informasi dari Republika.co.id, Perpustakaan Nasional yang punya program peminjaman buku secara daring ternyata cukup diminati masyarakat. Satu buku elektronik bahkan bisa mempunyai jumlah antrean peminjam hingga 500 orang. Hal ini cukup untuk menunjukkan kalau orang Indonesia memiliki budaya baca yang tinggi, tapi mager aja kita ini ke perpustakaan.

Baca Juga: 3 Negara Ini Berhasil Mencetak Sejarah Hanya dengan Membaca, Lho!

Poinnya adalah, dari kriteria perpustakaan saja, rasanya cukup untuk menunjukkan bahwa metode penelitian CCSU masih sangat terbuka untuk dikritik. CCSU tampaknya masih mengabaikan gimana perbedaan kultur sosial masing-masing negara penelitiannya. Hari Buku Nasional ini nih momentum yang tepat untuk kita bisa meningkatkan minat baca, Squad!

Eits tenaaang, di era modern seperti sekarang ini, belajar nggak cuma bisa lewat buku lho, kamu juga bisa mencoba fitur ruangbelajar, di sana ada materi-materi belajar, ratusan latihan soal, dan rangkuman materi yang disusun sangat menarik biar belajarmu makin seru!

New Call-to-action

Beri Komentar

Recent Posts