Cara Menghindari Bullying pada Anak Saat Online Maupun Offline

Shabrina Alfari Apr 3, 2020 • 7 min read


Mengenali Bullying Saat Anak Online Maupun Offline

Artikel ini memberikan tips kepada orang tua untuk mengenali bullying saat anak online maupun offline

--

Orang tua pasti tidak mau ‘kan anaknya menjadi korban ataupun pelaku bullying? Perundungan atau yang lebih dikenal dengan bullying merupakan perilaku agresif yang bertujuan untuk menyakiti pihak lain yang dilakukan secara sengaja, berulang-ulang, dan terjadi perbedaan kekuatan. Ini bisa terjadi secara fisik, verbal, emosional, atau melalui teknologi digital yang kita kenal dengan cyberbullying.

Saat bercanda atau berkomunikasi dengan teman, semua orang berpotensi menjadi pelaku bully, terlebih jika memiliki kekuasaan yang lebih dan tidak menghormati perbedaan antar teman. Anak yang dianggap memiliki karakter “berbeda” dari teman-temannya dan memiliki kepercayaan diri rendah biasanya rentan mengalami bullying, karena adanya perbedaan kekuatan dengan pelaku bullying.

bullying pada anak
(Sumber: huffingtonpost.ca)

Jika mengalami bullying secara fisik, tentunya tanda dapat terlihat jelas pada luka, memar, atau sobekan pada pakaian. Namun jika dilakukan secara non-fisik atau melalui teknologi digital, biasanya korban akan mengalami rasa gelisah, resah, motivasi menjadi rendah, hingga masalah perilaku yang membuatnya selalu kesal. Hal ini tentunya sulit dilihat jika tidak dikomunikasikan secara langsung. Sebagai orang tua, ini cara menghindari bullying yang terjadi secara online dan offline agar bisa menghindari hal tersebut terjadi pada anak.

1. Ketahui perbedaan antara lelucon/candaan dengan bullying

Semua teman tentu suka bercanda dengan satu sama lain, tetapi kadang sulit untuk membedakan apakah seseorang hanya sedang bersenang-senang atau memang ada niat lain untuk menyakiti, terutama saat di internet. Kadang mereka akan menertawakan dengan mengatakan “cuma bercanda kok”, atau “jangan dianggap serius dong.”

awasi anak dalam menggunakan gadget
(Sumber: UNICEF/Pirozzi)

Namun, saat anak merasa terluka atau berpikir seperti ‘ditertawakan’ dan bukan ‘tertawa bersama’, maka lelucon atau candaan tersebut mungkin sudah terlalu jauh. Jika terus berlanjut bahkan saat sudah diminta untuk berhenti, maka ini bisa jadi adalah bullying.

Saat bullying terjadi secara online, perilaku ini dapat menarik perhatian yang tidak diinginkan dari banyak orang termasuk orang asing yang tidak dikenal. Maka, saat hal ini terjadi orang tua harus sigap untuk mengungkap siapa pelaku bully, dan juga menekankan bahwa semua orang berhak untuk dihormati, baik itu di dunia maya maupun dunia nyata.

2. Buat anak merasa nyaman untuk berbicara

Ajak anak berinsteraksi dan berbicara jujur agar terhindar dari Bullying
(Sumber: UNICEF Indonesia/Jimmy Kruglinski)

Banyak anak yang menyembunyikan saat mengalami bullying. Padahal saat anak mengalami bullying, berbicara pada orang dewasa yang dipercaya atau seseorang yang bisa membuat mereka merasa aman untuk berbicara merupakan langkah awal yang paling penting, lho.

Pastikan bahwa anak tahu dan mengerti mengenai masalah bullying ini serta beritahu bahwa mereka dapat segera memberitahu Anda jika mengalami bullying tanpa harus merasa bersalah. Ajak anak berbicara dengan penuh perhatian dan akui perasaan anak. Jadilah orang tua yang terbuka dan bisa menjadi tempat untuk anak menceritakan apapun. Carilah solusi bersama karena dua kepala selalu lebih baik daripada satu!

3. Kepada siapa harus berbicara saat anak mengalami bullying?

Jika Bapak/Ibu sudah yakin bahwa anak sedang di-bully, maka langkah pertama adalah mencari bantuan dari orang yang bisa dipercaya. Apabila terjadi di sekolah, orang tua bisa menghubungi guru yang dipercaya seperti guru BK, guru mata pelajaran, atau guru olahraga.

Jika tidak nyaman berbicara dengan seseorang yang dikenal, hubungi Telepon Pelayanan Sosial Anak (TePSA) di nomor telepon 1500 771, atau nomor handphone/Whatsapp 081238888002 untuk anak atau orang tua berbicara dengan konselor profesional yang ramah.

Jika bullying terjadi di media sosial, Anda bisa memblokir akun pelaku dan melaporkan perilaku mereka di media sosial itu sendiri. Media sosial juga punya kewajiban untuk menjaga keamanan penggunanya, lho. Kumpulkan dan simpan bukti-bukti yang bisa membantu nanti untuk menunjukkan apa yang telah terjadi, misalnya seperti pesan dalam chatting dan screenshot postingan di media sosial.

Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada pelaku bully bahwa tindakan mereka tidak dapat diterima dan bullying bisa berhenti dilakukan.

4. Dampak cyberbullying

Aktivitas online juga rentan terhadap Bullying
(Sumber: UNICEF/Yuyuan Ma)

Saat bullying terjadi secara online, anak bisa merasa seperti diserang dari segala arah, bahkan jika ia hanya berada di dalam rumah. Semua akan terasa seperti tidak ada jalan untuk keluar. Dampaknya bisa bertahan lama dan memengaruhi anak dalam banyak cara:

  • Mental: merasa kesal, malu, bodoh, marah

  • Emosional: merasa malu, kehilangan minat pada hal yang disukai

  • Fisik: lelah (kurang tidur), mengalami gejala seperti sakit perut dan sakit kepala

Dalam kasus ekstrim, cyberbullying bahkan dapat menyebabkan seseorang mengakhiri nyawanya sendiri. Apakah Anda tahu kasus beberapa artis Korea yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena sering mendapatkan bully di media sosial?

Masalah ini bisa diatasi dengan cara memberikan kepercayaan diri pada anak untuk berbicara kepada orang yang lebih dewasa dan mengatasi masalahnya.

5. Hukuman untuk bullying dan cyberbullying

Bully bisa terancam bui

Sumber: UNICEF/Estey

Setiap orang yang menjadi korban dari segala bentuk kekerasan, termasuk bullying dan cyberbullying memiliki hak atas keadlian dan meminta pertanggungjawaban pelaku. Hukum mengenai bullying, khususnya cyberbullying, masih cukup baru dan belum ada di mana-mana. Banyak negara yang masih bergantung pada Undang-Undang lain yang relevan, seperti hukum tentang pelecehan dan sebagainya. Di Indonesia, belum ada aturan spesifik yang mengatur cyberbullying, namun ada UU ITE dan mengatur ujaran kebencian.

Namun, penting untuk diingat bahwa hukuman tidak selalu menjadi cara paling efektif untuk mengubah perilaku pem-bully. Akan lebih baik untuk fokus memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan dan mengubah hubungan menjadi lebih positif.

Simak informasi dan tips lainnya dari UNICEF di: Apa itu cyberbullying?

Semoga perilaku bullying jauh dari kehidupan anak. Untuk itu, pengawasan orang tua sangat penting, terutama saat anak sedang menggunakan gadget. Untuk belajar, orang tua tak perlu khawatir. Untuk menjawab tantangan belajar yang dihadapi siswa-siswi di Indonesia di tengah darurat kesehatan penyakit COVID-19, kamu bisa mengakses ruangbelajar untuk menemukan rangkuman materi pelajaran. 

New Call-to-action

Beri Komentar