Bagaimana Caranya Menjadi Guru yang Baik?

Kresnoadi Feb 25, 2020 • 4 min read


bagaimana cara menjadi guru yang baikArtikel ini membahas tentang cara menjadi guru yang baik dan efektif bagi murid

--

Meski bukan satu-satunya, guru merupakan faktor vital dalam pendidikan suatu negara. Apa yang Anda lakukan di ruang kelas, akan diserap dan diikuti oleh murid sampai mereka dewasa nanti. Breda (2009) mengatakan apabila anak muda tidak tahu caranya menyimak, bernegosiasi, dan mengevaluasi argumen untuk membuat keputusan, kelak mereka tidak punya tempat di lingkungan sosial.

Hal ini sejalan dengan semangat Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang menekankan pentingnya Guru Penggerak dalam sebuah sekolah. Guru Penggerak adalah guru yang mengutamakan murid dan terus berinovasi. Guru yang mengeluarkan teknik-teknik baru dalam mengajar. Guru yang membimbing semata-mata demi melihat pertumbuhan kualitas anak didiknya.

Namun, seperti apa sebetulnya definisi dari guru yang baik?

Apakah mereka yang selalu datang tepat waktu ke kelas? Atau guru yang memberikan banyak pr sebagai bentuk latihan soal?

Jika bercermin dari negara-negara dengan nilai PISA tinggi (yang mana tentu andil guru sangat besar di sana), setiap negara punya cara yang beragam dalam meningkatkan mutu pendidikannya. Finlandia, misalnya. Dalam Growth Mindset in Teaching: A Case Study of a Finnish Elementary School Teacher yang ditulis Rina, Elina, dan Kirsi (2019) mengungkapkan kalau sejak SD, murid sudah dikenalkan growth mindset. Seiring berjalannya waktu, murid sadar bahwa menjadi pembelajar adalah hal yang menyenangkan.

Dibandingkan profesi lain, guru di Finlandia dianggap sebagai salah satu profesi yang paling prestisius. Merekalah sekumpulan nahkoda yang mengarahkan masa depan negaranya. Tirri (2004) mengungkapkan bahwa pendidikan di Finlandia bisa seperti sekarang karena memegang teguh prinsip “kesempatan yang sama dan pendidikan yang berkualitas untuk semua.”

Baca juga: Bagaimana Sistem Pendidikan Indonesia Dibanding Negara Lain

Di sisi lain, guru di Tiongkok menerapkan cara yang berbeda. Mereka mengandalkan pengulangan dan pemberian banyak pr. Tujuannya agar murid punya semacam muscle memory. Sehingga, tanpa sadar, ia paham materi berkat banyaknya pengulangan yang diberikan. Konsepnya mirip ketika kita berlatih silat. Setiap sore pelatih meminta kita melakukan gerakan menangkis dan, setelah dua tahun kemudian, kita jadi punya refleks menangkis ketika seseorang hendak memukul kita di jalan.

Guru juga memberikan feedback yang personal ke tiap lembar jawaban siswa. Menariknya, penelitian mengatakan kalau murid Tiongkok merasa happy dengan sistem belajar seperti ini.

Kondisi yang berbeda justru dialami murid di Singapura. Hasil PISA 2018 mengatakan kalau 78% murid Singapura merasa takut gagal. Angka ini tertinggi dibandingkan negara lainnya. Bagi mereka, kegagalan (di ujian) akan merusak rencana masa depannya. Jadi, bisa dibayangkan kondisi psikologis murid dan bagaimana cara guru di sana menenangkannya.

Kita sepakat bahwa guru yang baik adalah guru yang efektif dalam mengajar. Anderson (2009) mengatakan bahwa guru yang efektif merupakan kombinasi dari tiga komponen: kemampuan, kepribadian, dan pengetahuan.

Jika tiga komponen tersebut terpenuhi, maka Anda termasuk guru yang baik.

Namun, ingatlah bahwa Anda seorang guru yang mengajar manusia. Dan sebagaimana manusia pada umumnya, ia berbeda satu sama lain. Maka, sebagai guru Anda harus mampu melihat ini: potensi masing-masing siswa, dengan ranah individu, tanpa terkecuali. Mungkin ada stereotip yang muncul di beberapa kelas yang Anda ajar. Kelas A adalah kelas yang berisik. Atau kelas B adalah kelas yang kurang interaktif. Namun, sebagai guru, kita harus melihat ini sebagai reaksi gabungan dari beberapa murid. Belajar dari Finlandia, mereka menganggap kegagalan siswa dalam menangkap materi kelas bisa disebabkan beberapa aspek selain ketidakmampuan siswa itu sendiri: apakah lingkungan belajarnya bermasalah, emosinya yang sedang kacau, atau kesehatan fisiknya yang tidak prima.

Di Indonesia, tantangannya memang cukup besar. Bisa jadi Anda mengajar begitu banyak murid dalam satu kelas. Data dari BPS dalam Potret Pendidikan Indonesia 2019 menunjukkan kalau rata-rata dalam satu kelas, guru harus berhadapan dengan 22-30 murid. Itu artinya, Anda menghadapi 30 jenis karakter manusia yang berbeda.

Belum lagi padatnya jadwal mengajar yang membuat Anda, mungkin, kesulitan mengatur waktu. Antara mengatur teknik ajar, memilih materi, membuat latihan dan games, mengoreksi pekerjaan mereka, dan perlu mengamati kondisinya satu per satu, hari demi hari.

Namun, mari kita fokus pada apa yang bisa kita lakukan dibanding mengeluh dan menjerit sendirian. Berdasarkan jurnal Characteristics of Effective Teacher, Andreia, Georgeta, dan Ion menulis beberapa karakter yang terbukti memengaruhi efektivitas pengajaran anak SMA. Mereka adalah guru yang santai, toleran, punya rasa humor, friendly, dan memiliki persiapan sebelum mengajar.

Kenyataannya, informasi akan diterima secara efektif apabila murid percaya kepada Anda. Maka, penting bagi Anda untuk mendapatkan kepercayaan murid saat di kelas. Dan biarkan artikel ini diakhiri dengan kutipan Ki Hajar Dewantara yang mahadahsyat itu: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan. Ing Ngarso Sung Tuladha. Ing Madya Mangun Karsa. Tut Wuri Handayani.

Jika Anda merasa ingin berkontribusi lebih jauh terhadap pendidikan Indonesia, mari bergabung bersama kami. Anda bisa menjadi bagian dari Ruangguru dengan mendaftar di ruangles agar dapat menjangkau lebih banyak murid. 

New Call-to-action

Beri Komentar