Di Balik Layar Indonesia Teacher Prize: Agga Dywika Robbiantama dan Keputusan yang Mengubah Segalanya

Kresnoadi

Jul 15, 2019 • 5 min read

Tips Mengajar


Indonesia Teacher Prize

Artikel ini berisi kisah balik layar Agga Dywika Robbiantama, peserta Indonesia Teacher Prize yang memiliki pertemuan dengan seorang gadis yang mengubah seluruh hidupnya

--

Kamu tahu Momen Lolipop?

Momen Lolipop adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Drew Dudley, penulis asal Kanada. Istilah ini diambil dari pengalamannya tentang perempuan yang pernah ditemuinya semasa kuliah.

Ketika itu, dia sedang memberikan pengarahan mengenai sebuah badan amal di antrian pendaftaran mahasiswa. Sambil menenteng satu ember penuh lolipop, dia menjelaskan kegiatan badan amal tersebut, dia memberikan lolipop kepada calon mahasiswa satu per satu.

Sampai akhirnya, dia berhenti pada seorang perempuan.

Perempuan yang terlihat begitu grogi dan cemas.

Dudley menatapnya sebentar, memasukkan tangannya ke dalam ember, mengambil satu lolipop dan,, sambil tersenyum, menyerahkannya kepada laki-laki di sebelahnya. ‘Tolong berikan lolipop ini kepada perempuan cantik di sebelah kamu ya.’

Wajah laki-laki ini mendadak memerah. Sambil malu-malu, dia menyerahkannya kepada si perempuan tadi.

Bagi sebagian orang, cerita ini adalah hal yang biasa. Sesuatu yang sering kita temui di sekitar dan tanpa sadar kita lewatkan begitu saja. Sama seperti kamu yang mengingatkan temanmu yang tali sepatunya lepas, atau orang yang menahan pintu untukmu agar bisa masuk.

Kenyataannya, apa yang dilakukan Dudley berdampak besar bagi si perempuan.

Empat tahun kemudian, ketika Dudley berada di kampus, perempuan ini mendatanginya dan bercerita semuanya.

Sehari sebelum pendaftaran, perempuan ini bersama orangtuanya menginap di hotel. Di dalam kamar, si perempuan menangis karena merasa tidak siap masuk kuliah. Dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan. Hingga keesokan harinya, di barisan antrian, dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya. Dia ingin mengajak orangtuanya untuk pulang saja dan tidak jadi daftar.

Dan tepat di momen itu,

Dudley muncul dengan topi dan seember lolipop.

Cara Dudley memberikan lolipop kepada laki-laki di sebelah, raut malu laki-laki itu, tawa orang-orang di sekitar, seketika membuatnya merasa kuat. Perempuan ini merasa, momen itu lah yang membuatnya yakin dan terus menjalani kehidupan kampus.

Kamu mungkin berpikir hal ini hanya kebetulan semata. Atau merasa bahwa ini hanyalah karangan yang dibuat oleh Dudley sebagai penulis.

Padahal, kejadian seperti ini kerap kali terjadi.

Keputusan-keputusan kecil yang kita ambil, yang kelihatannya sepele dan remeh temeh, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain.

Dan hal ini,

terjadi pada Agga.

Tahun 2014 itu, Agga, yang biasanya hanya diam menunggu angkutan untuk pulang, tergoda untuk melihat perempuan kecil berusia 10 tahun di sebelahnya yang memegang buku bahasa inggris bergambar.

Agga yang ketika itu sudah mengajar anak kecil, tertarik memperhatikan. Si anak menunjuk gambar gajah di halaman buku yang bertuliskan “Protect the Elephant”, lalu menarik tangan ibu di sampingnya. Sebagai seseorang yang suka dengan perilaku anak-anak, insting Agga untuk memberitahunya muncul.

Agga menunduk dan mendekatkan wajahnya pada si anak. “Itu artinya ‘Lindungi gajah itu’, Dik.”

Agga mengira jawabannya akan membuat si anak senang dan terbantu. Rupanya, ia salah. Si anak hanya diam menatapnya, lalu kembali menatap ibunya dan menunjuk gambar gajah di buku. Di saat itu lah Agga sadar kalau anak ini tidak bisa mendengar dan berbicara.

Agga kemudian mengajak ibunya berbicara dan, entah dari mana, menawarkan diri untuk mengajar anaknya bahasa inggris. Si ibu kemudian memperkenalkannya dengan Ani, menanyakannya, dan ternyata Ani mau. Mereka pun setuju untuk bertemu beberapa kali setiap minggunya.

Hari pengajaran pun tiba. Di saat ini, Agga baru sadar: dia sama sekali tidak paham bahasa isyarat.

Dia belum memikirkan materi apa yang akan dia ajarkan, dan bagaimana caranya mengajar. Di kepala Agga, tawarannya ketika di halte adalah refleks yang keluar dari mulutnya sebagai guru anak-anak.

Kondisi Ani, yang setara kelas 4 SD, sudah bisa membaca dan menulis. Hanya itu patokan Agga satu-satunya. Alhasil, mereka hanya dapat berkomunikasi lewat tulisan. Agga pun hanya mengajari vocabularies dan artinya.

Seiring berjalannya waktu, Agga merasa ini tidak cukup. Dia pun memutuskan untuk belajar bahasa isyarat Indonesia (BISINDO) dan American Signs Language (ASL) dari buku dan Youtube agar bisa berkomunikasi dengan lebih baik.

Hal ini membawa kemajuan bagi cara pengajarannya. Akhirnya, dia dapat mengajarkan alfabet, angka, vocab, dan phrase sederhana dalam bahasa inggris ASL. Biasanya, Agga akan memperagakan ASL-nya, kemudian menuliskan vocab atau phrase dari gerakan itu.

Kegiatan ini terus berlangsung setiap pertemuan. Terkadang Agga mengajarkan kalimat sederhana menggunakan bahasa isyarat, terkadang hanya bermain dan menulis kata-kata penyemangat. Sampai 2 bulan kemudian, Ani harus pindah ke Jombang. Sebagai tanda perpisahan, Ani memberinya sebuah gambar hasil tangannya.

Ani menggambar dirinya yang sedang bahagia. Di sebelahnya, terdapat ucapan terima kasih kepada Agga.

‘Sungguh senang bisa banyak belajar dari Mr. Agga,’ kata Ani dengan bahasa isyarat. Dia juga memberitahu sesuatu: Ia ingin menjadi guru bahasa Inggris seperti Agga.

Mendengar kalimat itu, Agga hanya bisa menitikkan air mata. Dia tidak tahu bahwa keputusannya untuk mengajak bicara ibunya 2 bulan lalu di halte ternyata berdampak sangat besar bagi hidup orang lain.

Disadari atau tidak, kita sering menganggap rendah diri sendiri. Menganggap bahwa untuk memberikan sesuatu yang besar untuk murid, untuk pendidikan, harus dimulai dengan gerakan besar. Dengan perubahan kurikulum. Dengan perdebatan-perdebatan akan cara mengajar. Menganggap bahwa di posisi yang sekarang, kita tidak akan membantu banyak bagi pendidikan.

Seringkali, kita tidak sadar bahwa ternyata, hal-hal kecil bisa berdampak sangat, sangat besar bagi orang lain. Dan mungkin, yang sebenarnya kita butuhkan hanya ketulusan dan kemauan.

Tentang Indonesia Teacher Prize

Indonesia Teacher Prize adalah ajang pencarian guru terbaik dan berbakat di seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Ruangguru.

Adapun para pemenangnya akan bekerjasama dengan Ruangguru untuk membuat konten pendidikan berkualitas yang dapat kamu tonton di ruangbelajar. Siapa saja guru terbaik dan paling berbakat yang terpilih sebagai juara Indonesia Teacher Prize tahun 2019? Saksikan langsung di layar televisi kamu, pada Sabtu, 20 Juli 2019.  

ruangbelajar

 

Artikel Lainnya

Beri Komentar

Recent Posts