Cerita Ilham - Tuna Netra juga Bisa Berprestasi di Pendidikan

Fahri Abdillah

Jul 26, 2019 • 6 min read

Kata Squad


 

Impact_-_Cerita_Ilham_penerima_beasiswa_ruangguru-digitalbootcamp_paket_C-01

Artikel ini menceritakan kisah seorang penerima beasiswa Ruangguru digitalbootcamp. Seorang tuna netra yang punya semangat tinggi untuk bisa berprestasi

--

Bulan Juni lalu, saya membuat janji dengan seorang pengguna aplikasi Ruangguru, yang juga penerima beasiswa Ruangguru digitalbootcamp Paket C. Ruangguru bekerjasama dengan MIT Solve, memberikan beasiswa kepada orang-orang yang sempat memilih mengundurkan diri atau yang tidak punya kesempatan untuk sekolah formal, tapi ingin melanjutkannya kembali melalui program Paket C.

Saya membuat janji dengan seorang laki-laki bernama Ilham. Ilham mengundurkan diri dari sekolah ketika dirinya duduk di bangku kelas 10 SMA. Lebih tepatnya saat mau kenaikan kelas 11, tahun 2006. Ilham terpaksa melakukannya, karena ia mulai merasa kesulitan untuk mengikuti pelajaran yang ada di sekolah.

Bukan, Ilham bukanlah anak yang sulit mencerna materi pelajaran. Tapi, ia adalah seorang tuna netra. Lebih tepatnya, saat itu sampai saat saya bertemu dengannya, hanya mata sebelah kanan yang berfungsi. Itupun dengan jarak pandang sebesar lubang kunci. Saat kelelahan, semuanya berubah menjadi gelap.

Masalah ini sudah ia alami sejak SMP. Pada tahun 2002, secara tiba-tiba mata sebelah kirinya tidak lagi berfungsi. Dengan hanya memiliki jarak penglihatan sebesar lubang kunci di satu matanya, Ilham masih tetap bisa melakukan aktivitas di sekolah. Masih sering bermain sepakbola, juga mengikuti pelajaran di kelas.

Tapi, kesan tidak menyenangkan justru datang dari teman-temannya. Beberapa kali Ilham dibully, seperti saat Ilham mau duduk, kursinya ditarik ke belakang, sampai Ilham terjatuh. Contoh ini adalah satu dari praktek bullying yang dilakukan teman-teman sekolah Ilham kepada dirinya. Ilham tidak pernah memikirkan hal itu, meskipun setidaknya ia juga butuh dukungan dari teman-temannya, untuk terus semangat belajar.

Saat Ilham SMA, awalnya ia masih bisa mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah. Namun, ketika jadwal kelasnya berubah menjadi siang, Ilham mulai mengalami kesulitan.

“Iya, setiap hari saya pulang dan pergi ke sekolah naik angkot. Kalau pagi masih bisa, tapi kalau siang, pulangnya kan sore menjelang malam. Itu saya nggak bisa lihat, susah jadinya,” kata Ilham.

Selain jam yang berubah menjadi siang, Ilham juga sering merasa kelelahan ketika di kelas. Ia tidak bisa maksimal mengikuti pelajarannya. Tulisan-tulisan yang ada di papan tulis sering tidak terlihat jelas oleh Ilham.

Akhirnya, karena merasa sudah sangat lelah, tidak bisa mengikuti pelajaran secara maksimal, dan juga teman-teman yang tidak supportif, Ilham memilih untuk mengundurkan diri. Kepala sekolahnya berusaha mencegah, dengan opsi Ilham boleh absen saja selama sekolah. Tapi Ilham menolak, ia tetap memilih untuk mengundurkan diri.

“Saat itu saya mikir, buat apa juga tuna netra sekolah, enggak kepake juga ijazahnya. Sepesimis itu saya dulu, tahun 2006 akhirnya saya putus sekolah,” kata Ilham kepada saya sambil mengingat-ingat kenangannya 13 tahun yang lalu.

Setelah itu ia menganggur, hanya bermain ketika temannya datang mengajak keluar. Selama 6 tahun Ilham tidak aktif sekolah, maupun bekerja. Sampai pada tahun 2012, ia yang masih penasaran apakah penglihatannya bisa kembali, mengecek kondisi kesehatannya ke rumah sakit Cipto. Tapi, jawabannya tetap sama, tidak bisa.

Meskipun begitu, pihak rumah sakit memberikan rujukan Ilham untuk ke Bandung, ke sebuah asrama pelatihan memijat. Selama tinggal dan belajar di asrama itu, Ilham banyak dapat pelajaran. Ia baru tahu kalau tuna netra juga bisa kuliah, bisa jadi PNS, dan punya kesempatan besar untuk berkarir di dunia kerja.

Semangat Ilham mulai tumbuh kembali, ia mau sekolah dan belajar lagi. Beberapa kali ingin mendaftar paket C, tapi harus tertunda karena Ilham adalah atlet Goalball (cabang olahraga tuna netra). Ia harus mengikuti ajang PON Jabar terlebih dahulu.

Akhirnya, pada tahun 2018 Ilham punya kesempatan untuk ikut Paket C di salah satu PKBM di Bandung. Mulai dari sinilah Ilham mengenal aplikasi Ruangguru.

Melalui grup chat peserta paket C, Ilham mendapat informasi tentang adanya beasiswa Ruangguru. Awalnya hanya Ilham beserta 10 temannya yang mengikuti program beasiswa ini, sampai akhirnya Ilham mendapat konfirmasi bahwa ia berhak mendapat beasiswa, teman-teman yang lain baru berminat.

Beasiswa Pendidikan Ruangguru Digitalbootcamp

Ilham mendapat beasiswa produk Ruangguru digitalbootcamp, juga OTG untuk mengakses ruangbelajar. Saat mengikuti program paket C, Ilham masih aktif menjalankan profesinya sebagai pemijat. Di tengah kesibukannya itu, Ilham mengatakan kalau dirinya merasa sangat terbantu ketika menggunakan aplikasi Ruangguru sebagai media belajarnya.

“Saya sehari-harinya mijit. Repot juga kalau harus bolak-balik ke PKBM buat kejar paket C kan. Nah, semenjak dapat beasiswa ini, jujur saya merasa kebantu banget. Kadang, kalau pas lagi nunggu pasien, saya bisa sambil buka aplikasi Ruangguru buat belajar. Lebih fleksibel, dan nggak ngeluarin ongkos lagi buat ngangkot ke PKBM yang jaraknya lumayan jauh dari tempat praktek saya,” cerita Ilham ke saya.

Baca Juga: Mewakili Indonesia, Ruangguru Raih 3 Penghargaan MIT Solve

Selama mengikuti kejar paket C, Ilham terus menggunakan aplikasi Ruangguru itu sebagai media belajarnya. Sebagai tuna netra, ia selalu merasa kesulitan kalau harus membaca tulisan-tulisan yang ada di papan tulis, begitu juga buku.

Ia merasa sangat senang, karena perkembangan teknologi juga mampu memfasilitasi kebutuhan belajar orang-orang dengan masalah fisik seperti dirinya.

“Seneng banget sekarang, saya kan tuna netra ya, jadi enggak bisa terlalu ngebaca banyak. Jadi, cuma dengan ngeliat dan dengerin suara video belajarnya aja udah bisa jelas. Kalo untuk materi, saya ngerasanya di ruangbelajar itu lebih fokus, terstruktur juga detil. Saya jadi bisa dengan mudah memahaminya,” kata Ilham.

Saat itu, di tahun 2018, Ilham memang sedang mempersiapkan dirinya untuk mengikuti Ujian Nasional. Beberapa kali PKBM mengadakan tryout untuk mengukur kemampuan dan sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi-materi yang akan diujikan.

Sebagai orang yang kepercayaan dirinya sudah kembali, semangat Ilham dalam belajar pun juga bertambah. Hasilnya, pada tryout ke dua di PKBM, Ilham berhasil masuk ke 4 besar sebagai siswa dengan nilai terbaik.

Karena prestasinya dan peningkatannya yang pesat, pihak PKBM menyarankan Ilham untuk melanjutkan kuliah. Saya pun berpikir demikian, seperti saran yang diberikan oleh PKBM. Kenapa tidak lanjut kuliah aja? Toh Ilham terbukti berprestasi.

Tapi, Ilham hanya menjawab, AKAN. Ia akan lanjut kuliah, dan sangat ingin, tapi nanti setelah ia menabung untuk kebutuhan tempat singgah dan lain-lainnya. Sementara, berbekal ijazah paket C nya dan pengetahuannya tentang undang-undang nomer 8 tahun 2016, tentang hak bekerja untuk disabilitas, Ilham ingin lebih dahulu fokus pada karirnya.

Selanjutnya yang saya tanyakan adalah kesiapan, sejauh mana kesiapan ia bekerja? Ia jawab sudah siap. Karena selama ini, selain menggunakan ruangbelajar untuk lulus paket C, ia juga gunakan untuk memelajari materi-materi persiapan kerja. Seperti cara membuat CV, teknik wawancara, dan banyak lagi materi-materi soft skill lainnya. Semua itu ia pelajari di ruangbelajar melalui fitur RG Inspire.

Saat ini, Ilham sudah lulus paket C dengan banyak prestasi yang ia raih di PKBM. Sebagai seorang tuna netra, Ilham dulu sangat pesimis, pesimis akan pendidikan, dan juga jenjang karir. Tapi, Ilham yang saya temui secara langsung sangat berbeda dengan Ilham yang ia ceritakan dulu.

Cerita Ilham Beasiswa Pendidikan Ruangguru Digitalbootcamp

Sekarang, Ilham sedang fokus mendedikasikan dirinya untuk belajar dan mengembangkan usaha kopi. Kopi yang dibuat dan disajikan langsung oleh seorang tuna netra. Ia ingin membuka peluang karir seluas-luasnya untuk teman-teman yang memiliki keterbatasan fisik sama seperti dirinya.

Sebelum saya pulang, Ilham menitipkan pesannya untuk teman-teman Ruangguru.

“Terimakasih banyak, karena telah bekerja untuk memudahkan banyak orang dalam belajar, seperti saya ini. Terus berkarya dan jangan patah semangat teman-teman Ruangguru.”

Buat kamu yang penasaran dengan media belajar yang digunakan oleh Ilham sehingga dirinya bisa berprestasi di PKBM, kamu bisa mencobanya dengan mendownload aplikasi Ruangguru. Kamu bisa coba produk ruangbelajar, karena Ruangguru On-The-Go yang digunakan oleh Ilham itu, berisi fitur-fitur belajar yang ada di ruangbelajar. Nah kalau kamu juga penasaran dengan apa itu Ruangguru digitalbootcamp, kamu bisa mencari taunya langsung lewat aplikasi Ruangguru. Selamat mencoba, kalau suka, jangan lupa berlangganan ya. 

Daftar RGDB Sekarang!

Beri Komentar

Recent Posts