Di Balik Layar Indonesia Teacher Prize: Elisabeth Santoso dan Kepeduliannya Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus

Kresnoadi

Jul 20, 2019 • 3 min read

Tips Mengajar


interview elisabeth santoso

Artikel ini merupakan kisah balik layar Elisabeth Santoso, peserta Indonesia Teacher Prize, yang peduli terhadap kesejahteraan pendidikan anak berkebutuhan khusus


--

Tidak bisa dipungkiri, masih ada perbedaan perlakuan terhadap kita dengan mereka yang berkebutuhan khusus. Sering kita melihat trotoar, arsitektur gedung, maupun fasilitas umum yang kurang ramah terhadap mereka. Begitu pula di ranah sosial. Masyarakat sering menganggap orang yang berkebutuhan khusus sebagai kaum yang berbeda.

Ini lah yang membuat Elisabeth Santoso bergerak.

Kepeduliannya akan anak berkebutuhan khusus mulai tumbuh sejak ia berusia 11 tahun. Sebagian besar masa kecil Elisabeth dihabiskan di Banyuwangi dengan membaca buku. Beberapa yang sangat menginspirasinya adalah buku-buku karya Torey Hayden.

Torey Hayden adalah seorang guru bagi anak berkebutuhan khusus. Dalam bukunya, ia banyak menceritakan pengalamannya bertemu anak-anak berkebutuhan khusus yang cukup ekstrem. Dari buku-buku ini, Elisabeth sadar satu hal: potensi anak berkebutuhan khusus akan keluar, jika ia bertemu dengan orang yang tepat.

Dan Elisabeth ingin menjadi salah satunya.

Ia pun mengambil kuliah Psikologi di Universitas Ciputra, Surabaya. Kepeduliannya akan anak berkebutuhan khusus menjadi semakin nyata. Ia memutuskan untuk menjadi pengajar anak berkebutuhan khusus.

“Menjadi guru memungkinkan saya untuk berkomunikasi lebih intens ke tiap siswa dan keluarganya,” jelas Elisabeth, saat ditemui di belakang panggung Indonesia Teacher Prize.

Di masa kuliahnya, Elisabeth sadar bahwa ada beragam anak berkebutuhan khusus dan, kalau ia ingin bisa mengembangkan potensi salah satu dari mereka, ia harus fokus pada satu bidang. Sembari mencari ilmu akademis di kampus, ia mendapati satu fakta: data anak yang mengidap Autism Spectrum Disorder (ASD) terus bertambah.

Dari situs CDC Amerika, misalnya. Pada tahun 2000, tercatat ada 1 dari 150 orang mengidap ASD dan di 2014 sudah ada 1 dari 59 orang. Data ini bisa berarti dua kemungkinan: 1) jumlah penderita ASD yang semakin bertambah, atau 2) banyak orang yang semakin aware terhadap ASD. Mereka yang sebelumnya sudah mengidap ASD tetapi belum terdiagnosa, kini sudah terdiagnosa dengan baik.

Kenyataan ini yang membuat Elisabeth tertarik dan semakin peduli dengan anak ASD. Ia mencari tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan ASD. Seperti yang kita tahu, gangguan terbesar dari ASD adalah dalam melakukan komunikasi timbal balik.

“Berbeda dengan siswa umum yang kalau kita tanya dia akan jawab, anak ASD tidak melakukannya. Komunikasi yang kita berikan ke dia, biasanya tidak akan dia respons. Dan itu bukan salah dia, karena sebetulnya, kan, dia juga tidak menginginkan (menjadi ASD),” jelas Elisabeth.

Hal ini membuat Elisabeth harus memutar otak dalam mengajar. Ia tidak bisa melakukan pendekatan normal seperti orang lain. Di tengah-tengah mengajar, bisa saja ia berhenti dan mengajak muridnya bernyanyi dan bermain.

Ada satu pengalaman yang tidak bisa ia lupakan. Saat itu, Elisabeth sedang mengajak si anak bernyanyi bersama-sama. Seusai bernyanyi, Elisabeth duduk di meja untuk menulis lembar kerjanya sebentar. Tiba-tiba, dari arah bangku murid, ada satu anak yang berdiri dan maju ke meja Elisabeth.

Anak ini mengambil buku yang sedang ditulis Elisabeth, dan melemparnya.

Lalu, ia memeluk Elisabeth.

Sontak Elisabeth kaget. Padahal, seperti yang ia tahu, anak ASD sulit untuk membalas komunikasi. Tetapi, anak ini malah inisiatif melakukan komunikasi terlebih dahulu. Pengalaman itu yang menambah keyakinan Elisabeth: potensi seseorang, siapapun, akan bisa keluar, selama bertemu dengan orang yang tepat.

elisabeth santoso

Selain memiliki ketertarikan terhadap anak berkebutuhan khusus, Elisabeth juga punya kepedulian terhadap critical thinking. Baginya, ini adalah salah satu aspek yang penting dalam pendidikan. Adapun critical thinking yang dimaksud adalah rasa penasaran yang dimiliki siswa untuk bertanya lebih lanjut terhadap topik-topik yang diberikan guru. Makanya, dalam pengajarannya, ia lebih menekankan pada topik yang dinarasikan, bukan informasi yang diberikan mentah-mentah. Karena sekadar fakta tidak akan memicu siswa dalam berpikir kritis.

Menurut Elisabeth, critical thinking yang baik bisa dimulai dengan pemahaman literasi yang baik. Walaupun, misalnya, di kelas kita tidak ada kurikulum yang menunjang critical thinking, kita dapat mencarinya di luar. Mulai dari memperbanyak baca buku yang bersifat naratif, lalu mendiskusikannya dengan teman, dan menjadikannya rutinitas bersama.

Tentang Indonesia Teacher Prize

Indonesia Teacher Prize adalah ajang pencarian guru terbaik dan berbakat di seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh Ruangguru.

Adapun para pemenangnya akan bekerjasama dengan Ruangguru untuk membuat konten pendidikan berkualitas yang dapat kamu tonton di ruangbelajar.

ruangbelajar

Artikel Lainnya

Beri Komentar

Recent Posts