Apa Sih Dampak Teknologi Terhadap Kebiasaan Belajar Kita?

Kresnoadi Nov 12, 2020 • 10 min read


dampak teknologi terhadap kebiasaan belajar

Secara tidak langsung, adanya teknologi dan internet itu mengubah kebiasaan dan cara belajar kita lho. Kira-kira apa aja, dan kita harus bersikap gimana dari situ? Yuk cari tahu di artikel ini!

--

Buat kamu yang baca ini, kayaknya gak asing deh sama kebiasaan ini. Apalagi yang lagi sekolah online. Hampir seluruh kegiatan belajar kita dibantu dengan internet dan teknologi. Namun, secara tidak langsung, teknologi, khususnya internet, sudah mengubah kebiasaan dan cara belajar kita. Baik dari dampak positif maupun negatif. Mudah-mudahan, setelah baca tulisan ini sampai selesai, kamu jadi tahu harus bersikap seperti apa ya.

Mari kita mulai bahas dari dampak positifnya dulu:

 

Belajar Bukan Lagi Sesuatu yang Saklek

Teknologi, khususnya internet, membuat kita bisa belajar di mana pun dan kapan pun. Tidak hanya terbatas pada ruang-ruang kelas, waktu, dan materi tertentu. Internet dan teknologi melepas batasan tembok kelas, perpustakaan, dan tempat les jadi sesuatu yang lebih luas.

Kita bisa mendapatkan informasi di mana pun dan kapan pun.

Oke oke, maaf. Ini mungkin kedengerannya klise dan kayak dagang ya. 🤐

Tapi benaran. Gak bisa dipungkiri kalau belajar dan memperoleh informasi, bukan lagi jadi hal yang saklek. Kita bisa punya akses apapun di waktu-waktu yang kita pilih sendiri. Lagi nunggu jemputan, kita bisa buka gadget dan mendapatkan informasi yang kita mau. Lagi ngobrol sama temen dan bingung sama satu hal, bisa langsung kita cari tahu. Lagi antri jajan, sehabis olahraga, atau malam hari menjelang tidur, kita bisa browsing sesuatu. Tidak perlu menunggu waktu khusus. Berdasarkan dari sini, 93% murid mencari suatu jawaban dari google.

Selain menghemat waktu dan energi, ini penting karena nggak semua orang bisa maksain fisik dan mentalnya untuk mengikuti kelas-kelas yang jadwalnya dibuat orang lain. Kita bisa menentukan waktu kita sendiri kapan untuk duduk dan menyiapkan mental untuk belajar. Sehingga, belajar jadi kegiatan yang santai dan menyenangkan. Dampak lanjutannya, kegiatan belajar kita jadi lebih efektif.

Kebiasaan ini juga ngebuat kegiatan belajar bukan lagi kegiatan yang sifatnya “berat” dan menegangkan. Belajar, atau mencari ilmu, udah jadi semacam kegiatan harian yang membaur sama hidup kita aja gitu.

Apa yang harus kita sadarin dari sini:

Perkuat rasa penasaran. Dulu, orang-orang seringkali mencatat hal-hal yang ingin dia tanyakan, untuk kemudian ketemuin sumber yang dia anggap bisa jawab (orang atau buku atau sumber lain. Karena, ya, kesempatan ketemunya gak gampang). Sekarang, jangan sampai dengan mudahnya akses ke sumber informasi itu ngebuat kita jadi menyepelekan dan ngilangin rasa penasaran.

 

Membedakan yang Pintar dan Pandai

Kita sama-sama tahu kalau ada stereotipe yang bilang kalau orang yang punya nilai bagus di sekolah adalah orang yang pintar. Ini benar. Namun, beberapa dari kita terlalu berpatokan pada nilai. Dan terkadang, nilai-nilai didapat karena orang tersebut berhasil mengingat pelajaran-pelajaran tertentu.

Artinya, orang tersebut pintar karena punya wawasan yang luas. Mereka tahu tentang banyak hal.

Nah, internet membuat hal ini jadi bias.

Ketika informasi bisa didapat oleh siapa aja dengan cepat, kita jadi punya kesempatan yang sama untuk tahu berbagai informasi. Maksudnya gimana? Misalnya begini. Ada musisi A yang ikut les dan belajar tentang musik dan segala macam. Sampai akhirnya dia mengeluarkan album keduanya. Kemudian, ada B, reporter yang gak paham sama sekali tentang musik, dan harus mewawancarai si A. Nah, si B, dengan bantuan internet, bisa dengan cepat “pintar” (punya wawasan yang banyak) soal musik. Tapi, dia gak pandai, karena nggak bisa menghubungkan informasi-informasi tentang musik dengan baik. Dia cuma punya banyak data tentang musik yang dia kumpulkan dari internet, untuk dijadikan bahan pertanyaan aja.

Kebayang nggak?

Internet memang membuat kita jadi gampang banget punya akses ke informasi. Tapi, gak semua dari kita bisa menghubungkan informasi-informasi itu dengan tepat. Gimana kita bisa connecting the dots sampai akhirnya benaran paham terhadap suatu hal.

Baca juga: Cara Membentuk Kebiasaan Baik dengan Identity-Based Habit

Alhasil, kalau dulu definisi pintar adalah orang yang berwawasan luas, sekarang, dengan teknologi, kata “pintar” sendiri jadi bias. Kita jadi gak boleh cuma sekadar pintar—dan punya wawasan yang diambil dari internet—tapi juga harus paham akan informasi itu.

Apa yang bisa kita pelajari:

Dalam melihat suatu informasi, kita juga perlu tahu banyak hal. Misal, dari mana informasi itu berasal, gimana hubungan sebab-akibatnya dengan hal lain. Jadi, kita bisa benaran paham terhadap suatu informasi.

 

Jembatan Belajar yang Lebih Personal

Kebiasaan belajar lain yang berubah adalah ini: setiap orang jadi punya perjalanan belajarnya masing-masing. Dengan teknologi dan internet, sebagai murid, kita jadi tidak begitu “terseragamkan”. Maksudnya begini. Sebelum internet, kita semua sudah ditentukan bahwa di minggu ketiga kamu harus paham materi A, misalnya. Masalahnya, gimana nasib orang-orang yang belum nguasain? Akhirnya, di minggu keempat dia bakal ketinggalan. Begitu pula sebaliknya. Orang yang udah paham duluan materi A, terpaksa nungguin temen-temennya yang lain.

Artinya, pembelajaran jadi nggak personal. Karena kita terpaksa sama dengan yang lain. Dengan teknologi dan internet, kita bisa melenturkan itu. Kalo udah paham dan pengin lanjut materi lain, bisa pelajarin duluan, dan sebaliknya. Jadi, perjalanan pembelajaran setiap orang lebih personal.

Ini berlaku juga untuk materi yang nggak ada di sekolah. Dari internet kita bisa belajar apa aja yang kita pengin, sampai life skills sekalipun. Kayak dasar-dasar filsafat, belajar computational thinking, mempelajari media sosial (pelajarin gimana interaksi orang-orangnya dll ya, bukan mainnya doang. :p), belajar design thinking, atau coding. Atau di sini, misalnya. Banyak informasi lain yang gak mungkin kamu dapet dari sekadar kurikulum sekolah. Ngomongin apa itu Ikigai, falsafah hidup orang Jepang, yang menurut beberapa orang tuh versi realistis dari passion.

Jadi, sifatnya benaran lebih lebar, tergantung minat kita masing-masing. Hal-hal kayak gini bisa ngebentuk pola pikir kita di masa depan, lho!

Apa yang bisa kita pelajari:

Coba kulik apa minat dan kemauan kita, lalu cari di internet. Tapi, cari tahu sumbernya. Pastikan sumbernya valid dan benar ya!

 

Komunikasi Lebih Luas

Salah satu faktor yang gak boleh hilang di sekolah adalah gimana dia bisa membuat sebuah society. Apa sih tujuannya? Ya, supaya kita bisa terbiasa dan praktekin ilmu yang kita punya. Di society kan kita pasti ngedapatin masalah. Belajar, deh, tuh gimana caranya problem solving. Kita juga jadi terbiasa mendapatkan pola pikir yang berbeda dengan orang lain. Di situ juga kita bakalan ngelatih cara kita bersikap, mengambil keputusan, dan menumbuhkan rasa empati.

Nah, internet membuat jangkauan kita jadi jauh lebih luas lagi. Dengan teknologi, kita bisa aja berinteraksi sama murid yang beda pulau, atau bahkan beda negara. Kebayang gak tuh? “Oh, ternyata kalo di kota C tuh di sekolahnya kayak gini.” “Oh, ternyata kalau di D tuh mikir A sebagai sesuatu yang B. Selama ini gue mikirnya A, lho. Ternyata ada pemikiran-pemikiran lain di luar yang selama ini gue pikir paling benar.”

Baca juga: Mengapa Seseorang Bisa Ketagihan Smartphone?

Terus apa untungnya? Ya itu tadi. Kita bakalan ngelihat point of view yang berbeda dari yang selama ini kita percayai. Dan itu akan ngebuka mata kita terhadap hal-hal baru yang selama ini gak pernah kita dapat.

Apa yang bisa kita pelajari:

Gunakan internet untuk berkomunikasi, atau mendapatkan lingkungan yang baru. Tapi, tetap harus hati-hati ya. Biar bagaimana pun juga banyak kejahatan yang bisa terjadi melalui dunia maya.

 

Nah, kita udah ngomongin gimana teknologi dan internet mengubah kebiasaan kita dalam belajar. Tapi, kayak pedang, internet juga bisa bikin kita luka. Ada hal-hal yang merugikan dari internet terhadap kebiasaan belajar kita. Kita coba bahas satu persatu ya, lalu kita cari tahu gimana cara ngindarinnya.

 

Terlalu Banyak Informasi

Ini salah satu dampak buruknya. Karena terlalu banyak informasi, kita jadi bingung menentukan mana informasi yang harus kita ambil dan mana yang nggak. Bukan gak mungkin kita malah terjerat ke arus informasi yang begitu banyak dan termakan hoax.

Di samping itu, banyaknya informasi ini terkadang bikin pembelajaran kita jadi gak terstruktur. Kalau di sekolah, kan, jelas tuh. Ada urutannya. Untuk belajar D, misalnya. Kita harus paham A, B, C dulu. Supaya nggak bingung dan efektif. Nah, karena internet itu luas banget. A, B, C, D tadi dijembrengin semuanya. Untuk sebagian orang, bisa aja kita bingung harus pelajarin yang mana duluan.

Apa yang bisa kita sadari:

Kita tetap perlu skeptis terhadap sumber yang ada di internet. Cari tahu apakah itu informasi yang didapat dari sumber yang benar, lalu apakah ada sumber informasi yang mengabarkan hal sebaliknya. Ini supaya kita tidak hanya mendapat suatu informasi dari satu sisi saja. Kabar baiknya, kami pernah menulis tentang cara menghindari hoax: klik di sini untuk baca.

 

Penurunan Kualitas di Membaca, Menulis, dan Aritmatika

Dalam riset berjudul Four Ways Technology Has Negatively Changed Education, Khadija menulis kalau teknologi bisa mengurangi kemampuan membaca, menulis, dan aritmatika. Kok aneh? Di jurnal itu dikasih tahu kalau pergeseran dari kertas ke layar nggak cuma mempengaruhi cara kita menulis, tapi juga mengurangi attention of span. Maksudnya, kita jadi gampang terdistraksi. Kemampuan kita untuk fokus ngerjain satu hal tanpa keganggu jadi rendah. Katanya, ketika kita online, kita akan masuk ke dunia yang meminta kita untuk baca secara skimming (gak detail), kita gampang kedistrak, dan buru-buru.

Baca juga: Jangan Sampai Salah, Ini Cara Belajar yang Efektif Menurut Penelitian

Di riset ini juga dijelasin kalau kita menulis dengan pulpen, kita bakalan belajar lebih banyak ketimbang ngetik. Kebiasaan ini sedikit banyak membuat kita “ngeremehin” kegiatan mencatat. Bukannya nyatet, malah ngeluarin hape dan motret slide… yang entah kapan dibuka lagi.

Jadi, perlu diingat kalau kita perlu mengerem dan tahu apa yang kita lakuin saat mencari sumber informasi dari internet. Karena, tidak bisa dipungkiri, teknologi dan internet bisa juga mengubah kebiasaan belajar kita dan malah bikin itu jadi gak efektif.

Mudah-mudahan setelah baca ini kamu jadi tahu ya, apa plus dan minusnya dari teknologi dan internet buat kebiasaan belajarmu. Semoga ke depannya kamu bisa menggunakan itu dengan lebih bijak. Jangan sampai mudah terjebak dengan informasi yang begitu banyak dan tetap bisa menggunakannya sebagai alat bantu belajar yang efektif. Coba, tulis di kolom komentar dong! Menurutmu, internet lebih ngebantu kamu buat belajar, atau malah lebih sering ngejebak kamu. Ceritain juga gimana kamu make internet untuk kebutuhan belajarmu. Nah, kalau kamu pengin make internet untuk nyari materi sekolah, ruangbelajar jawabannya! Di sana, kamu bakalan dapet materi yang terstruktur, lengkap, dan ngebikin kamu paham konsepnya lho!

ruangbelajar

 

Referensi:

New Global Data Reveal Education Technology’s Impact on Learning’, Mckinsey.com, 12 Juni 2020 [Online]. Tautan: https://www.mckinsey.com/industries/public-and-social-sector/our-insights/new-global-data-reveal-education-technologys-impact-on-learning (Diakses: 10 November 2020)

‘How Internet Affected The Modern Educational Process’, Educationbeyondborders.org, 2 Mei 2018 [Online]. Tautan: https://bit.ly/2IwGSti (Diakses: 10 November 2020)

Mautref, Jessica. ‘The Top 7 Ways the Internet Has Changed Learning’, Gutentberg Technology, 8 November 2018 Tautan: https://blog.gutenberg-technology.com/en/7-ways-the-internet-has-changed-learning (Diakses: 11 November 2020)

Mueller, Pam, ‘The Pen is Mightier Than the Keyboard: Advantages of Longhand Over Laptop Note Taking’, [Daring] Tautan: https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0956797614524581 (Diakses: 11 November 2020)

Alhumaid, Khadija, ‘Four Ways Technology Has Negatively Changed Education’, [Daring] Tautan: https://www.researchgate.net/publication/336969538_Four_Ways_Technology_Has_Negatively_Changed_Education (Diakses: 11 November 2020)

Beri Komentar