Blog Ruangguru

    Demi Mengantongi Gelar Sarjana, 5 Anak Muda Ini Rela Menjadi Sopir Angkot Hingga Pemulung

    By Ruangguru · Apr 26, 2017

    Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tinggi, tidak peduli dari mana dan bagaimana latar belakangnya. Akan tetapi, nyatanya hingga kini masih banyak pelajar yang kesulitan untuk melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Dengan begitu, mereka pun harus memikirkan jalan keluar agar bisa menjadi seorang sarjana kebanggaan bangsa. Salah satu caranya adalah dengan bekerja. Berbagai jenis pekerjaan pun disambangi demi meraih pendidikan terbaik. Inilah lima sosok anak muda yang rela melakukan apapun demi mengantongi gelar sarjana.

    1. Kakak tukang ojek dan adik tukang sampah

    Abdurrahman, salah seorang anak muda yang tinggal di ibu kota, sehari-hari harus membagi waktunya antara kuliah dan menjadi tukang ojek online. Ia merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta Jakarta. Tiap hari, ia bekerja sampai pukul 12 atau 1 dini hari. Abdurrahman mulai dikenal masyarakat ketika seorang pengguna Facebook menceritakan pengalamannya waktu berbincang dengan sang driver ojek online.

    Abdurrahman, menjadi driver ojek online untuk biayai kuliah Abdurrahman, menjadi driver ojek online untuk biayai kuliah. (Sumber: tribunnews.com)

    Abdurrahman memutuskan bekerja sebagai tukang ojek online karena butuh biaya untuk biaya kuliah. Nampaknya, ia berasal dari keluarga pekerja keras. Pasalnya, adiknya, mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta pun turut melakukan pekerjaan sambilan saat tidak kuliah, yaitu tukang sampah. Tukang sampah di sini adalah pasukan oranye yang sering bertugas menyapu jalan. Kini, sudah diberi gaji UMR. Jadi, sekiranya cukup untuk biaya kuliah. Menurut Abdurrahman, ia dan adiknya senang melakukan pekerjaan yang mereka jalani.

    2. Menjual gorengan selepas kuliah

    Namanya Asnawi. Selama ini ia memilih untuk mencari nafkah dengan cara berjualan gorengan guna membiayai kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pekerjaan ini sudah sejak 2006 ia lakoni untuk membantu orang tuanya. Bahkan, ia sempat putus sekolah lho, smart buddies.

    Asnawi, menjual gorengan untuk menjadi sarjana Asnawi, menjual gorengan untuk menjadi sarjana. (Sumber: detiknews.com)

    Pria asal Bangka itu selalu memulai aktivitas sehari-harinya dengan belanja ke pasar seusai shalat subuh. Ia pun terjun langsung untuk membuat adonan hingga menjadi gorengan yang siap dinikmati. Kemudian, sepulang kuliah, di siang hari ia mulai berjualan dengan memikul dagangan keliling kampung. Biasanya, ia akan kembali pukul 18.00 untuk menuntaskan tugas-tugas kuliahnya. Inilah rutinitas yang tiap hari ia lakukan hingga berhasil mendapat gelar Sarjana Ekonomi dengan IPK 3,39.

    "Saya pernah bernazar dulu, kalau saya lulus, saya akan pakai toga dengan membawa dagangan ke kampus. Saya ingin menunjukkan, penjual gorengan juga bisa menyelesaikan kuliah. Saya membayar kuliah dan membiayai hidup saya juga pakai ini," ujarnya.

    Ketika hari wisudanya tiba, Asnawi nenggenapi nazarnya. Dengan memakai toga kebanggaan, ia memikul gorengan dagangannya. Tapi, kali ini bukan untuk dijual, melainkan untuk dibagi-bagikan pada orang di sekitar. Mulai dari sesama mahasiswa, orang tua mahasiswa, termasuk satpam, hingga tukang parkir.

    3. Rela jadi sopir angkot sampai kuli bangunan

    Brenda Trivena Grace Salea, seorang mahasiswa cantik yang memilih untuk melakukan pekerjaan pria demi mendapatkan tambahan biaya kuliah. Dara asal Manado ini sudah dikenal sebagai seorang sopir angkot di daerah Likupang, Minahasa Utara.

    Brenda, sopir angkot cantik di Manado Brenda, sopir angkot cantik di Manado. (Sumber: tribunnews.com)

    Gadis yang kerap disapa Brenda ini mengaku bahwa ia tidak merasa segan melakukan pekerjaan "kasar" demi membantu perekonomian keluarganya. Selain menjadi sopir angkot, anak kedua dari tiga bersaudara ini juga memiliki pekerjaan lainnya. Mulai dari menjadi tukang angkat kardus air mineral untuk dipasok ke warung-warung, hingga kuli bangunan yang mengangkut semen dan pasir. Kalau judge dari perawakannya yang kurus, mungkin tidak ada yang menyangka kalau Brenda mampu memikul tiga kardus air mineral di pundaknya.

    Brenda memang sudah biasa bekerja membantu orang tuanya sejak SD. Setiap pulang sekolah, ia berjualan ikan dan pisang goreng. Hal yang sangat menginspirasi juga, ia tidak pernah malu dengan pekerjaan tersebut selama hasil yang diperoleh halal. Tidak heran, ia dikenal dengan sosok yang tidak sombong dan sangat humanis.

    Menjadi office boy di kampus

    Dodi, mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan jurusan Administrasi Keuangan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Padjajaran. Apa yang unik? Agar bisa mendapat gelar ini, Dodi bekerja sebagai office boy di kampusnya. Profesi ini telah dijalankannya selama kurang lebih tujuh tahun.

    Dodi, menjadi office boy dan sukses jadi sarjana Unpad Dodi, menjadi office boy dan sukses jadi sarjana Unpad. (Sumber: jadiberita.com)

    “Saya kerja sebagai OB sejak tahun 2005 sampai sekarang tahun 2012. Sudah hampir 7 tahun. Lalu masuk DIII FISIP Unpad angkatan 2008. Saya menyelesaikan studi diploma 3 ini, selama 3 tahun setengah,” cerita Dodi.

    Tiap hari, sesudah menunaikan shalat subuh, ia langsung berangkat ke tempat kerjanya. Segala pekerjaannya harus dikerjakan sebelum ia masuk kelas. Tugas sehari-harinya adalah menyapu lantai, membersihkan sampah, melayani permintaan fotokopi, merapikan meja serta kursi, dan sebagainya. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat rajin. Oleh karenanya, tidak heran orang di sekitarnya selalu memberi semangat pada Dodi untuk terus fokus kuliah.

    Menghabiskan waktu di antara tumpukan sampah

    Kisah inspiratif terakhir datang dari Wahyudi, pemuda asal Bekasi, Jawa Barat. Ia rela menjadi seorang pemulung guna mengumpulkan biaya untuk kuliah. Anak dari pasangan petani ini sudah melakoni pekerjaan ini sejak duduk di bangku SD. Ia melihat tetangganya bisa bertahan hidup dari hasil memulung. Nah, di saat itulah Wahyu tergerak untuk mengikuti jejak tetangganya agar jangan sampai putus sekolah seperti kakaknya. Kerap kali ia menerima ejekan dari teman-temannya karena bekerja di antara tumpukan sampah. Selain memulung, Wahyu juga pernah menjajal pekerjaan lain, yaitu menjual hasil ternak dan gorengan.

    Dodi, pemulung tampan yang kini sukses S2 ITB Dodi, pemulung tampan yang kini sukses S2 ITB. (Sumber: tribunnews.com)

    Kini, hasil perjuangannya sudah bisa dipetik. Berkat tumpukan sampah, ia berhasil membanggakan orang tuanya dengan wisuda. Bahkan, sekarang ia adalah mahasiswa pascasarjana di ITB lho! Wah, salut!

    Selain inspiratif, lima kisah di atas cukup membuktikan bahwa dengan niat dan keinginan yang kuat, siapa pun bisa menggapai cita-cita. Selama mau berusaha, masalah ekonomi sudah bukan menjadi penghalang untuk raih pendidikan tinggi. Semangat, smart buddies! (TN)

    Share this:

    Tags: Wow ternyata, Tokoh

    Tulis Komentarmu

    Paling Banyak Dibaca

    Subscribe Blog Ruangguru