Sejarah Kelas 12 | Apa yang Terjadi pada 30 September Hingga 1 Oktober 1965 dari Berbagai Sudut Pandang

Kresnoadi

Sep 30, 2019 • 8 min read

Konsep Pelajaran kelas xii SMA Sejarah XII


Sejarah Kelas 12 | Apa yang Terjadi pada 30 September Hingga 1 Oktober 1965 dari Berbagai Sudut Pandang

Artikel ini akan memberi pengalaman pembaca untuk dapat merasakan kembali situasi pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 dari berbagai sudut pandang

--

CAKRABIRAWA

30 September 1965

Sore hari

Dalam artikel The World of Sergeant-Major Bungkus: Two Interviews with Benedict Anderson and Arief Djati yang dimuat di jurnal Indonesia edisi Oktober 2004 volume 78 terbitan Universitas Cornell, Sersan Mayor Bungkus mengatakan, “Sore hari, saya diberi pengarahan oleh komandan kompi saya.”

Komandan Kompi yang dimaksud adalah Letnan Satu Dul Arif.

Bungkus menirukan apa yang dikatakan Dul Arif, “Komandan Batalyon kita (Letnan Kolonel Untung) telah menugaskan saya memegang unit Cakra berangkat dalam sebuah misi. Ada kelompok jenderal yang disebut Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Sukarno.”

Ucapan ini membuat seluruh pasukan menganggap para jenderal tersebut merupakan penjahat keji yang harus ditumpas. Maka pada G30S, pasukan Cakrabirawa berani menembak mati para jenderal yang mereka bawa.

Sejarah Kelas 12 | Apa yang Terjadi pada 30 September Hingga 1 Oktober 1965 dari Berbagai Sudut Pandang

LETKOL UNTUNG BIN SJAMSURI

30 September 1965

Malam hingga 23:00

Letkol Untung mengawal Presiden Soekarno dalam acara Musyawarah Nasional ahli teknik di Senayan. Setelahnya, ia berangkat ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, untuk mengecek pasukan.

 

1 Oktober 1965

Mengetahui gerakannya kacau balau, Untung berdiam di rumah Anis Sujatno, sersan AURI. Sedari siang, Untung tidak banyak bicara. Ia hanya berdiam diri di ruang makan hingga sore. Sekitar pukul 17:30, Untung akhirnya bersuara. Ia meminjam pakaian sipil kepada Anis, dan menghilang.

 

ah nasution-1

AH Nasution (Sumber: Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

 

AH NASUTION

1 Oktober 1965

03:30 – Dini hari

Melalui wawancara antara TV One dengan Hendrianti, anak Sulung AH Nasution, yang ditulis oleh Tribunnews dalam G30S/PKI, Kisah Heroik Istri AH Nasuiton, Piere Tendean, dan Ade Irma Suryani Ditembak Cakrabirawa mengatakan kalau Jenderal AH Nasution dan Johanna, istrinya, terbangun gara-gara nyamuk di kediamannya di Jalan Teuku Umar Nomor 40, Menteng.

Di saat yang sama, sang istri melihat pasukan Cakrabirawa masuk. “Itu yang akan membunuh kamu sudah datang,” kata Johanna. Ia buru-buru menutup pintu.

Menyadari ada orang di kamar, pasukan Cakrabirawa langsung menembaki pintu.

AH Nasution seketika bangun dan bilang, “Biar saya yang hadapi”, tapi usul tersebut ditolak sang istri. Ia ingin membantu suaminya. Johanna pun menyerahkan Irma, anaknya yang berusia lima tahun, ke adik ipar AH Nasution.

Namun, sang adik ipar panik dan tidak sengaja membuka pintu.

Tembakan dari pasukan Cakrabirawa seketika melesat. Masuk ke tangannya, lalu menembus melewati punggung Irma.

Dalam sepersekian detik, Johanna kembali menutup pintu.

Darah menggenang hingga ke lantai. Kata Hendrianti dalam wawancaranya, “Darah versi asli lebih banyak dari yang ada di diorama.

Johanna pun menggendong Irma, dan membantu AH Nasution untuk kabur dengan melompat pagar ke Kedubes Irak yang berada di sebelah rumahnya. Ia bersembunyi di dalam tong.

Di ruang tamu, Lettu Pierre Tendean sedang beristirahat. Tanggal 30 kemarin seharusnya ia pulang ke Semarang untuk merayakan ulang tahun ibunya. Tapi, karena tugasnya sebagai pengawal Jenderal AH Nasution, ia harus menundanya.

Di saat beristirahat inilah ia mendengar keributan. Sebagai pengawal, ia bergegas mencari sumber keributan itu.

Ia kaget karena penyebabnya adalah sepasukan Cakrabirawa. Mereka lantas mengepung dan menondongkan senjata. Pierre tidak bisa berkutik.

Melihat hal yang tidak beres, demi melindungi atasannya, Pierre mengaku sebagai AH Nasution.

“Saya Jenderal AH Nasution,” serunya kepada Cakrabirawa.

Merasa mendapatkan target, Cakrabirawa langsung menculik dan membawanya ke Lubang Buaya.

Pagi harinya, sambil menggendong Irma, Johanna menemukan putri sulungnya yang bersembunyi di kamar ajudan.

Baca juga: Tan Malaka | Bapak Republik yang Jejaknya Sempat Dihapus

Ade Irma, sempat dibawa ke RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) untuk diberikan pertolongan. Hendrianti si sulung hanya bisa menangis melihat adiknya berlumuran darah.

“Kakak jangan menangis, adik sehat,” kata Irma.

Selain menenangkan sang kakak, Irma juga bertanya ke Johanna.

“Kenapa Ayah mau dibunuh, Mama?”

Ade Irma Suryani, akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tanggal 6 Oktober. Di depan nisannya, AH Nasution menuliskan kata-kata: “Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu.

 

jenderal ahmad yani-1

Ahmad Yani (Sumber: Tirto.id)

AHMAD YANI

1 Oktober 1965

04:00 Dini hari

Selepas dari Lubang Buaya, tujuh prajurit Cakrabirawa mendatangi rumah Ahmad Yani di Jalan Lembang No 67, Menteng, Jakarta Pusat. Seperti yang telah ditugaskan, mereka ingin menangkap dan membawa salah satu Dewan Jenderal itu.

Di kediaman Ahmad Yani, salah satu prajurit membentak, yang justru disambut dengan hantaman tinju Ahmad Yani ke kepala prajurit tersebut.

Prajurit itu roboh.

Ahmad Yani, berdasarkan pengakuan Amelia, anak Ahmad Yani, kepada Kumparan dalam tulisan Cerita Putri Ahmad Yani Jelang Kematian Ayahnya di Peristiwa G30S/PKI mengatakan, “Saat itu Ayah berbalik badan dan menutup pintu kaca.”

Di saat itu lah, dari jarak 1,5 meter, prajurit mengeluarkan tembakan beruntun ke Ahmad Yani. Ia jatuh dan bersimbah darah. Pasukan ini lantas menyeret tubuh sang Panglima Angkatan darat yang masih mengenakan piyama kebiruan. Lantai berlumur jejak darah. Jerit tangis keluarga memenuhi seisi rumah.

Amelia beserta tujuh saudaranya berusaha mengejar Ahmad Yani yang diangkut ke dalam truk. Namun, mereka tidak bisa mengejarnya terlalu jauh. Prajurit Cakrabirawa dan ratusan pasukan berbaju hijau tanpa sepatu menghadangnya sambil membawa senjata.

“Kalau tidak masuk akan ditembak semua!” seru salah satu pasukan.

Pasukan Garnisum yang bertugas menjaga rumah Yani hanya terpaku. Mereka tidak berdaya karena senjatanya telah dilucuti.

Isak tangis menggenang. Raung jerit histeris dari istri dan keluarganya mengiringi gerung truk yang perlahan menghilang seiring dengan perjalanannya ke Pasar Rumput. Ahmad Yani dibawa ke Lubang Buaya.

 

DI Panjaitan-1

DI Panjaitan (Sumber Tirto.id)

 

DI PANJAITAN

1 Oktober 1965

04:30 Dini hari

Bunyi derap sepatu boots pasukan Cakrabirawa mengelilingi rumah di Jalan Hasanuddin 53, Kebayoran Baru. Pintu depan rumah ditembaki. Seruan, “Bapak Jenderal! Bapak Jenderal!” memperkeruh suasana subuh itu. Di lantai dasar rumah, terdapat keponakan dan 2 saudara DI Panjaitan yang menahan pasukan Cakrabirawa.

Di antara keriuhan, terdapat rentetan bunyi tembakan.

“Tulang! Jangan turun, Tulang! Jangan menyerah!” seru Albert, keponakan DI Panjaitan, dari lantai bawah, mengirimkan tanda bahaya, agar DI Panjaitan tidak turun dari lantai dua.

Di lantai atas, DI Panjaitan mondar-mandir. Dari balkon ke kamar. Ia sempat mengokang pistol mitraliurnya, tapi ternyata macet. Catherine, sang anak, sempat bertanya tentang apa yang terjadi, tapi sang ayah hanya bergeming. Bunyi perabotan dan barang pecah belah memekakkan telinga akibat tembakan Cakrabirawa di bawah.

“Tiarap! Tiarap!” perintah DI Panjaitan ke seluruh anggota keluarganya.

Sang Jenderal kemudian mengganti pakaiannya dengan seragam. Ia bersiap turun untuk menemui pasukan Cakrabirawa. Riri Panjaitan, dalam wawancara kepada NET TV mengatakan, “Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan.

Khawatir akan apa yang terjadi pada sang ayah, Catherine, mengintip dari kamarnya di atas. Marieke Panjaitan boru Tambunan, di buku DI Pandjaitan: Pahlawan Revolusi Gugur Dalam Serangan Kebesaran (1997), menulis: “anggota gerombolan itu memukul kepala ayahnya yang sedang berdoa, yang langsung jatuh dan tembakan memberondong ayahnya.”

Sesaat setelahnya, Catherine turun. Namun, ayahnya telah diseret dan dilempar melewati pagar. Setelah dimasukkan ke truk, pasukan pergi menuju Lubang Buaya. Meninggalkan bekas darah di halaman depan garasi, dan sisa kenangan yang paling buruk.

--

Itulah tadi beberapa sudut pandang dan beragam peristiwa pada malam tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965 pagi hari. Sampai saat ini, banyak versi yang beredar mengenai siapa dalang di balik tragedi ini. Karena pada saat itu, sumber pemberitaan hanya sedikit (berita dari koran Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha). Informasi yang beredar pun terkesan ditutup-tutupi. Ada yang mengatakan kalau di Lubang Buaya, para jenderal ini disiksa secara tidak manusiawi. Mulai dari dicongkel matanya, sampai dipotong alat kelaminnya. Namun, hasil otopsi dalam tulisan How Did The Generals Die yang dibuat oleh Universitas Cornell mengatakan hal yang berbeda.

Gimana? Seru banget ya pembelajaran kali ini. Kalau kamu punya pendapat soal tragedi ini, coba aja yuk share di kolom komentar! Materi-materi kayak gini juga bisa banget kamu temukan dalam bentuk video beranimasi, lho! Cobain aja tonton lewat ruangbelajar!

ruangbelajar

Beri Komentar

Recent Posts