5 Cara Mengatasi Gempa Bumi dan Tsunami

Shabrina Alfari Okt 1, 2018 • 5 min read


Squad, duka Indonesia akibat gempa Lombok belum sepenuhnya pulih, namun negara kita tercinta kembali mengalami bencana serupa di Palu, Sulawesi Tengah. Jumat sore, tanggal 28 September 2018, gempa disertai tsunami terjadi di Palu dan Donggala dengan magnitude 7,4 SR. Memang secara geografis, banyak wilayah Indonesia yang rawan akan bencana alam, salah satunya adalah gempa dan tsunami. Masih ingatkah kamu musibah yang melanda Aceh dan menelan ratusan ribu korban jiwa?

Peristiwa tsunami Aceh, gempa Lombok, dan tsunami di Palu seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya tindakan antisipasi dan penanggulangan bencana gempa dan tsunami di Indonesia. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat terjadi gempa besar yang memicu tsunami warga hanya mempunyai waktu 10 hingga 30 menit untuk menyelamatkan diri. Hal inilah yang disebut dengan waktu emas (golden time). Keputusan dan tindakan yang diambil dalam rentang waktu yang sempit ini akan menjadi penentu hidup dan mati seseorang. So, idealnya setiap dari kita harus memiliki pengetahuan yang lengkap saat terjadi bencana. Apa saja yang harus dilakukan? Yuk, kita lihat!

1. Membuat tempat berlindung tahan gempa

gempa dan tsunamiBangunan tahan gempa (Sumber: wands.gr)

Jepang adalah salah satu negara yang sering dilanda bencana gempa dan tsunami. Namun, hal ini tidak menghalangi Jepang untuk tetap bangkit dan menjadi negara yang maju seperti sekarang. Nah, banyak hal yang dapat kita tiru dari Jepang untuk menghadapi bencana, salah satunya membuat bangunan tahan gempa. Gedung tinggi di kota-kota besar di Jepang dirancang agar dapat bergoyang, bukan terguncang saat gempa melanda. Konstruksi ini menjadikan bangunan lebih aman. Selain itu, sebagian wilayah pesisir Jepang juga memiliki tsunami shelter atau tempat berlindung dari tsunami yang juga dirancang tahan gempa. Kawasan lain juga dilindungi dengan pintu banjir yang dirancang bisa menahan arus air dari tsunami. Keren banget ‘kan Squad?

2. Ketahui cara melakukan evakuasi mandiri

gempa dan tsunamiEvakuasi mandiri (Sumber: share.america.gov)

Memanfaatkan waktu emas atau golden time sebaik mungkin adalah hal terpenting yang harus kamu lakukan jika kamu tinggal di wilayah pesisir. Nah, memiliki pengetahuan yang cukup mengenai evakuasi mandiri akan sangat membantu, lho. Evakuasi mandiri adalah tindakan evakuasi yang dilakukan tanpa menunggu arahan dari petugas. Saat kamu merasakan gempa yang kuat dan lama, maka kamu harus curiga dan segera lari menjauhi pantai atau bergerak ke daratan yang lebih tinggi. Pelatihan evakuasi mandiri ini harus termasuk penyediaan jalur dan tempat evakuasi yang telah disiapkan pemerintah kepada warga di daerah rawan.

3. Pahami status peringatan dini

gempa dan tsunamiKenali peringatan dini tsunami (Sumber: noaa.gov)

BMKG biasanya akan mengeluarkan peringatan dini lima menit setelah gempa terjadi ke wilayah dengan potensi tsunami. Penting untuk kamu memahami status peringatan ini agar dapat segera melakukan evakuasi. Peringatan ini diberikan dalam tiga kategori berbeda, yaitu:

  • AWAS: Tinggi tsunami diperkirakan lebih dari tiga meter dan warga diminta evakuasi segera. Pemerintah daerah setempat harus menyediakan informasi jelas mengenai jalur dan tempat evakuasi terdekat.
  • SIAGA: Tinggi tsunami diperkirakan ada dikisaran 0,5 meter hingga tiga meter. Pemerintah diharapkan dapat mengerahkan warga untuk evakuasi.
  • WASPADA: Tinggi tsunami kurang dari 0,5 meter. Walau kecil, warga tetap diminta untuk menjauhi pantai atau sungai.

4. Tetap tertib dan tidak melebih-lebihkan keadaan


gempa dan tsunamiJangan melebih-lebihkan keadaan dan saling membantu (Sumber: act.id)

Saat terjadi bencana, jangan melebih-lebihkan kondisi bencana seperti membuat video berisikan tangisan atau komentar yang menyalahkan pemerintah, apalagi menyebarkan foto kondisi korban di media sosial. Sebarkanlah tips seputar mengatasi bencana, peringatan pemerintah, nomor telepon penting call center, atau update terkini kondisi bencana.

Untuk kamu yang berada di daerah bencana, dianjurkan untuk tetap tertib. Janganlah bertindak semena-mena karena hal ini hanya akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jangan membuat kericuhan saat proses pembagian bantuan dan tingkatkan solidaritas serta gotong royong.

5. Mengembangkan sistem pemantau agar selalu siap menghadapi bencana

gempa dan tsunamiSistem pemantau agar siap hadapi bencana (Sumber: news.sky.com)

Kembali mencontoh dari Jepang yang memiliki sejarah gempa yang panjang, mereka telah mempersiapkan sistem respon, prasarana, dan warganya untuk siap menghadapi potensi bencana. Pemerintah Jepang melakukan investasi besar-besaran untuk mengembangkan sistem pemantau. Melalui Badan Meteorologi Jepang (JMA), Jepang mempunyai sistem yang dapat mengirimkan peringatan tsunami dalam waktu tiga menit dari gempa bumi terjadi. Mereka juga mempunyai sistem pengeras suara untuk menyiarkan informasi darurat kepada warga. Untuk di daerah pedesaan, warga juga diberikan radio oleh pemerintah agar dapat menerima perintah mengungsi. Kesiapan dalam menghadapi gempa juga telah menjadi bahan latihan untuk anak usia sekolah, lho.

Squad, hal terpenting yang harus kita lakukan saat terjadi bencana adalah tetap bersatu dan saling membantu. Jangan sebarkan ketakutan, tetapi sebarkanlah pengetahuan agar kita semua dapat melakukan langkah antisipasi serta penanggulangan bencana dengan cepat. Siapa tahu kamu akan menjadi seorang ahli yang dapat membantu pemerintah membuat teknologi pemantau yang berhasil meminimalisir korban saat terjadi bencana gempa dan tsunami. So, belajarlah lebih giat untuk kemajuan bangsa melalui ruangbelajar! #BelajarJadiMudah dengan video beranimasi yang akan membantu kamu memahami materi dengan lebih cepat.

ruangbelajar

Beri Komentar