Ingin Beasiswa Luar Negeri Tapi IPK Rendah dan Bahasa Inggris Pas-Pasan? Ini Triknya!

Ruangguru Sep 6, 2016 • 6 min read


Kebanyakan beasiswa luar negeri memberi standar tertentu untuk IPK dan skor bahasa Inggris. Bagaimana kalau IPK dan kemampuan bahasa Inggris kamu pas-pasan? Akankah kamu berpikir untuk tetap nekad mencoba beasiswa luar negeri?

Well, nilai kurang memenuhi standar memang bikin minder. Dengan modal segitu, untuk menembus beasiswa dengan ribuan pelamar terdengar sangat mustahil ya, smart buddiesEits, jangan berkecil hati dulu. Nilai pas-pasan bukan berarti bodoh ya. Mungkin ada sesuatu yang mempengaruhi di balik itu semua. Seperti halnya waktu dan konsentrasi yang terbagi dengan kegiatan lain yang menyita waktu belajar. Jadikan hal ini sebagai motivasi untuk mendapatkan cara agar potensimu yang lain dapat menonjol. Nilai akademis memang penting. Tapi, banyak hal lain di luar akademis yang bisa dijadikan nilai plus kok. 

Jangan putus asa! Ada caranya lho supaya kamu yang IPK-nya kurang dari standar dan kemampuan bahasa Inggrisnya kurang. Simak yuk!

 

beasiswa luar negeri Foto: mcrtlife

 

#1. Organisasi

Banyak-banyaklah aktif dalam organisasi. Pemberi beasiswa tidak hanya menilaimu dari sisi akademis saja, tapi juga kemampuan dalam menghadapi berbagai persoalan. Semakin banyak pengalamanmu berorganisasi, kamu akan sering bertemu berbagai karakter orang beserta masalah-masalah. Dengan demikian, kamu akan jadi terbiasa menghadapi macam-macam kondisi. So, hal ini akan menarik perhatian pemberi beasiswa untuk memilihmu. 

 

#2. Surat rekomendasi

Surat rekomendasi sangat penting untuk jadi paspormu mendapat beasiswa. Dokumen ini bisa jadi faktor penentu yang cukup signifikan bagi pelamar beasiswa. Banyak kasus di mana si pelamar berhasil dapat beasiswa karena surat rekomendasi, meskipun nilai rapor, IPK, bahasa Inggris, nilai tes, dan wawancaranya tidak outstanding.

Siapa saja yang sebaiknya dimintai rekomendasi? Dosen, guru, mentor, atau atasanmu jika kamu sudah pernah bekerja. Setidaknya, mereka tahu kemampuanmu. Nah, akan lebih baik lagi jika orang-orang yang kamu jadikan perekomendasi tersebut sudah pernah mempublikasikan jurnal internasional. Setidaknya, punya pengalaman mengikuti seminar internasional.

 

#3. Motivation Letter

Ketika mendaftarkan diri untuk beasiswa, pasti kamu akan diminta untuk membuat motivation letter. Apa itu motivation letter? Surat yang menceritakan apa alasan, tujuan, serta motivasimu ingin belajar di negara tujuan. Biasanya, surat ini dikirimkan bersama dengan dokumen untuk persyaratan beasiswa.

 

Diskusi Foto: aiminghigherconsultants

 

Apa saja yang sebaiknya kamu tuliskan di sana? Apa pencapaian terbaikmu, skill yang membedakan kamu dengan orang lain, masa tersulit yang pernah kamu lewati selama hidup, termasuk kegagalan, dan sebagainya. Bahkan hobi, bacaan, dan film favoritmu pun akan menggambarkan kamu. Jadi, buatlah sedetil mungkin, namun jangan sampai berbelit-belit.

Jangan pernah anggap remeh motivation letter lho. Buatlah semaksimal mungkin sehingga si pemberi beasiswa akan terkesan pada semangatmu. Sajikan dengan tata bahasa yang rapi, jujur, dan tidak mainstream. Surat ini akan menunjukkan kesungguhanmu dan akan kembali dipertimbangkan saat tes wawancara. 

 

#4. Akses lain

Ingat, kesempatan beasiswa bukan hanya datang dari lembaga-lembaga seperti ADS, AMINEF, NESO, dan sebagainya. Rajin-rajinlah mencari informasi dari international office di universitas, mailing-list beasiswa, lembaga pemberi beasiswa, dan kerabat yang juga penerima beasiswa.

 

riset produk Foto: pomona

 

Mungkin kamu juga bisa coba cara cerdas dengan mencari beasiswa pintu belakang. Daripada ikut tes yang pelamarnya ribuan orang, carilah jalur beasiswa anti-mainstream. Here's some tips for you:

  • Hubungi universitas tujuanmu, kirimkan CV serta riwayat pendidikan. Kemudian, tanyakan apa universitas tersebut membuka jalur beasiswa independen atau tidak.
  • Cari kontak profesor universitas tujuan. Pilih profesor yang setidaknya sudah pernah menulis buku di bidang-bidang yang sudah kamu pelajari. Ajukan dirimu untuk membantu risetnya. Nah, di saat inilah kamu harus menunjukkan performa sebaik mungkin. Perlahan, bernegoisasilah agar ia bersedia mendanaimu kuliah di sana. Kalau sang profesor berpikir kamu cukup kompeten, ia tidak akan ragu membiayai kuliahmu dengan kocek pribadinya lho!
  • Hubungi kembali senior yang saat ini di luar negeri. Mereka pasti sudah tahu kondisi di negara asing. Terutama jalur khusus untuk mendapat beasiswa jalur belakang.

 

#5. Tes wawancara

Kalau kamu bisa tampil meyakinkan saat tes wawancara, bisa jadi pemberi beasiswa akan 'lupa' dengan nilai IPK, bahasa Inggris, dan tes lainnya yang kurang memenuhi syarat. Oleh sebab itu, tunjukkan kesan cerdas, profesional, dan bertanggungjawab. Oh ya, jangan pernah berbohong demi terlihat keren ya. Kalau sampai kamu didapati mengada-ada, akibatnya akan fatal.

 

#6. Kelebihan lain

portofolio Foto: thecreativeissue

 

Kalau IPK-mu rendah, kamu harus bisa menunjukkan kelebihanmu di bidang lain. Tulisan, karya ilmiah, penghargaan baik nasional maupun internasional pasti akan banyak membantu. Jangan lupa ceritakan juga jika kamu aktif dalam kegiatan sosial. Di luar negeri, kemampuan yang bermanfaat bagi masyarakat sangat dihargai. Kalau skor TOEFL di bawah standar, coba pilih jurusan sains. Di jurusan ini biasanya tidak akan terlalu mengutamakan bahasa karena akan lebih banyak bertemu hitung-hitungan.

 

#7. Negara yang pakai bahasa non-Inggris

Pada umumnya, beberapa negara non-bahasa Inggris tidak menuntut nilai skor TOEFL/IELTS terlalu tinggi. Ada Belanda, Spanyol, Jepang, Italia, dan masih banyak lagi. Biasanya sebelum keberangkatan, kamu akan diberi kesempatan untuk belajar bahasa setempat agar lebih memudahkan proses belajar nantinya. Skill tentu akan semakin banyak dong pastinya.

 

Intinya, apa pun jadi mungkin kalau kamu mau berusaha. Inovasi dan keberhasilan tidak muncul dari pribadi yang cepat menyerah. Remember! If there's a will, there's a way, smart buddies! Cheers! (TN)

 

Beri Komentar