Jenderal Sudirman dan Taktik Gerilya dalam Perang Kemerdekaan Jilid 2

Kresnoadi

Nov 10, 2019 • 6 min read

Wow Ternyata


jenderal besar sudirman

Artikel ini membahas sosok Jenderal Sudirman dan bagaimana ia memimpin perang kemerdekaan jilid II meski kesehatannya tidak baik.

--

19 Desember 1948

Di salah satu kamar rumah di Jalan Bintaran Timur nomor 8, Sudirman terbaring lemas. Di sebelahnya, istri, Mayor Suwondo sang dokter pribadi, dan beberapa pengawal turut menemaninya.

Kesepian tiba-tiba berubah jadi riuh.

Debur tembakan bersorak di Yogyakarta. Mereka pikir sumber bunyinya berasal dari tentara Indonesia yang sedang berlatih. Hingga Komandan Kompi I Kapten Cokropranolo alias Nolly datang.

Dengan langkah tergesa ia menghadap panglima. Katanya, ada serangan mendadak dari tentara Belanda. Ia mengabarkan kalau pasukan Belanda tengah bergerak dari bandara Maguwo ke pusat kota Yogyakarta. Mereka terbagi menjadi dua kelompok: satu kelompok bertugas menangkap Sukarno-Hatta, dan kelompok lainnya menangkap Sudirman.

Suasana kamar mendadak berubah.

Situasi yang semula tenang menjadi panas. Panglima marah. Sumpah serapah keluar. Gimana nggak, Belanda telah berkhianat. Sebelumnya, mereka sudah berjanji untuk gencatan senjata. Kita, kan, udah merdeka sejak tiga tahun lalu? Eh, kok tiba-tiba datang gini? Kemaren bilangnya mau serius, kok tahu-tahu minta putus? Hhhh.

Sudirman pun bangkit dari ranjang. Istri dan dokternya membantunya berdiri, khawatir akan kondisi kesehatan Sudirman. Saat itu emang kondisinya lumayan parah. Dalam Panglima Besar Sudirman (2004:48) Imran menulis: “Pak Dirman menderita TBC (tuberculosis)… sebuah paru-parunya sudah rusak.”

Tapi, ya, gimana. Sudirman telah bersumpah kalau ia akan menjaga negara ini sampai mati. Seperti yang kita tahu, Sudirman yang dekat dengan Tan Malaka kurang suka dengan sikap Sukarno yang memilih bersikap diplomatis. Makanya, Sudirman melakukan perlawanannya sendiri: perang.

infografik jenderal soedirman-1

Sudirman pun meminta ajudan I Suparjo Rustam alias Parjo untuk menghadap Presiden, bermaksud memberitahu kabar ini. Harapannya, Sukarno akan memerintahkan Sudirman untuk memimpin perang melawan Belanda.

Iya, perang untuk meraih kemerdakaan yang seutuhnya.

Perang Kemerdekaan Jilid 2.

Kalau di film-film Superhero, ini adalah momen di mana si jagoan bilang ke penjaga markas, “Aku pergi dulu” sambil mengemasi barang buru-buru. Penjaga markas bingung. Dalam hati kayak ngomong: “Mau ke mana lagi hadeeeehhh?”

Tokoh utama pun keluar markas dengan keren. Lalu muncul teks di layar “SUDIR MAN!” Sosok pahlawan yang tidak sudi rumahnya diberantakin sama orang jahat. Keren abis.

Oke lanjut.

 

Perang Gerilya

Tembakan sudah mengudara. Bom telah dijatuhkan dari pesawat. Keputusan sudah diambil oleh Sudirman: lawan!

Berhubung kalah jumlah, Sudirman memutuskan berperang dengan taktik gerilya. Sebuah taktik perang di mana Jenderal Sudirman bersama pasukannya harus berpindah-pindah tempat. Menghilang, lalu menyerang dengan tiba-tiba. Bergerak, menyusup, lalu muncul secara mengagetkan. Membuat lawan bingung, lalu terpaksa mundur.

Sekembalinya dari menemui Sukarno, Sudirman meminta anak buahnya untuk membakar seluruh perlengkapan dan dokumen penting untuk menghilangkan jejak. Ia masuk ke mobil dinas. Dikawal berbagai pasukannya yang menaiki mobil bak terbuka, mereka meninggalkan Yogyakarta yang meletus menuju rute pantai selatan.

Tidak ada perlengkapan apapun yang dibawa selain senjata.

Kepergian ini, dengan resmi memulai serangan gerilya kepada Belanda.

--

Salah satu markas Sudirman di awal gerilya adalah desa Pakis, Pacitan. Pada 1 April 1949 Sudirman datang bersama rombongan. Hingga 13 April, ada ratusan pasukan yang tinggal di Desa Pakis Baru ini. Mereka dibagi menjadi enam kelompok kecil. Jenderal Sudirman memang terkenal tertutup dan penuh kehati-hatian. Bahkan, ketika diminta tidur di tempat Parjo, ajudannya, ia menolak. “Jika ada tamu, jika identitas tidak jelas, pasti dia dianggap sebagai musuh,” kata Supadi, dalam Pak Supadi, Saksi Hidup Perjuangan Jenderal Sudirman di Pacitan rilisan Kompas.

Selama tinggal di markas ini, demi mengantisipasi penangkapan Belanda, pengawas terluar siap melapor dan akan langsung menyembunyikan Sudirman ke hutan.

Masih berdasarkan penuturan Padi, rute yang ditempuh Sudirman mulai dari asrama Magelang lewat Yogyakarta, lalu ke timur Klaten, Wonogiri, Solo, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung sampai Kediri.

rute gerilya sudirmanRute gerilya (Sumber: artMedia via youtube)

 

Gerilya memang taktik yang mampu mengalahkan lawan yang punya jumlah pasukan banyak, tetapi ia jelas membutuhkan energi besar. Terlebih karena saat itu Sudirman sedang sakit. Bayangin deh. Total perjalanannya aja 1000 km.

Nggak kebayang segimana 1000 km? Kamu coba aja puterin satu lapangan bola. Lapangan bola yang gede ya. Nah, Sudirman dan pasukannya muterin itu sebanyak DUA RIBU kali. Kurang lemes apa itu dengkul? Belum lagi medannya yang macam-macam karena tempat mereka sembunyi kebanyakan di hutan. Jalanan yang becek kalau hujan, kadang terjal dan berbatu, sambil koordinasi ke semua lini dengan terus bergerak sambil menyerang.

Baca juga: Otto Iskandar Dinata: Gulita Kematian Sang Menteri Negara

Berdasarkan kesakisian Abu Arifin, Ajudan II jenderal Sudirman dalam Kesaksian Ajudan Jenderal Soedirman saat Bergerilya di Hutan rilisan Rappler “Kami sering tidak makan berhari-hari. Bagaimana kami bisa hidup berbulan-bulan saat gerilya? Jawabannya adalah mukjizat.”

Sebagai sosok pemimpin, Sudirman memang sangat dihormati para pasukannya. Sudirman sempat menawarkan siapapun yang tidak kuat agar kembali ke kota. Tapi tidak ada prajurit yang kembali. Semua ingin bersama panglima mereka.

Hingga belakangan, Belanda mulai tahu markas yang berada di puncak gunung Wilis. Markas ini pun dihancurleburkan. Di lereng gunung ini pula, Tan Malaka ditangkap oleh Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya.

Rombongan pasukan pun terpaksa mundur dan bergerak menuju markas di lereng gunung lawu. Melihat kondisi pasukannya, Jenderal Sudirman memutuskan beristirahat di rumah warga dan berangkat besok pagi.

Tapi, Nolly, pengawal kepercayaan Sudirman, mendapat info dari intelijen kalau Belanda tengah berangkat dari Malang menuju Kediri. Kalau mereka menginap, Belanda pasti keburu menangkap. Akhirnya, keputusan final diambil. Mereka berangkat malam itu juga.

Kebayang dong bahayanya?

Malam hari, tentara pada capek, tersiar kabar kalau Belanda udah "otw gan!". Belum lagi kita nggak bisa percaya sembarang orang karena takutnya mereka jadi mata-mata Belanda. Sekali ketahuan posisi Sudirman dan pasukan, berantakan udah taktik gerilya ini.

Mereka pun membuat ide.

Bagaimana kalau… kita bikin Sudirman palsu?

strategi sudirman menghadapi belanda

Demi menghindari Belanda dan mata-mata di sekitar, seorang letnan muda Angkatan Laut bernama Heri Keser yang perawakannya mirip dengan Sudirman dibuat menjadi “Sudirman palsu”. Mantel dan tutup kepala Sudirman diserahkan ke Heri, lalu ia dinaikkan ke tandu. Sementara Sudirman yang asli digendong oleh Nolly. Ketika ada orang di jalan yang bertanya, “Siapa orang yang digendong Nolly?” mereka akan menjawab: “Muhammad, pengungsi yang sedang sakit parah.” Di sisi lain, agar tidak ada mata-mata yang mengintai, ketika berbicara dengan Sudirman, mereka memanggilnya dengan “Pakde”.

“Kami merasa sedih melihat Pak Dirman harus berjalan kaki sendiri menerobos hutan tanpa digendong atau tandu. Kalau jalannya sangat tinggi atau terjal, harus kita dorong atau taik,” ucap Nolly, melalui rilisan Historia di dalam Tak Selamanya Jenderal Soedirman Ditandu.

Rencana ini sebelumnya pernah dilakukan di Wonosari. Saat itu, Nolly mengumumkan kalau Sudirman ada di Wonosari. Sontak Belanda menurunkan banyak pasukan ke sana. Membombardir kota dan mencari sosok Sudirman. Namun nyatanya Sudirman tidak ada. Beruntung Sudirman Palsu berhasil lolos dari kejaran Belanda.

Pada 10 Juli 1949, Jenderal Sudirman dan pasukan akhirnya kembali ke Yogyakarta. Taktik gerilya sangat sukses memukul mundur Belanda. Meski begitu, kesehatan Sudirman kian merosot. Pada 29 Januari 1950, Sudirman akhirnya meninggalkan dunia di usia 34 tahun. Jenderal Sudirman mungkin telah tiada, tapi bara api perlawanannya masih berkobar hingga kini.

ruangbelajar for desktop

Beri Komentar

Recent Posts