Bedah Jurusan Hubungan Internasional (HI): Berbagai Seterotip dan Kebenarannya

Kresnoadi Jan 14, 2020 • 6 min read


jurusan hubungan internasionalArtikel ini membahas tentang jurusan Hubungan Internasional (HI), stereotip, apa yang dipelajari, kampus, prospek kerja, dan siapa saja para alumni dari jurusan ini.

 

--

“Saya menjamin bahwa tanggal 17 Agustus 1945 akan terjadi proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Kalau saudara-saudara ragu, nyawa sayalah yang menjadi taruhannya!”

Menurut kamu, siapa orang yang berani mengeluarkan omongan kayak gitu? Soekarno? Muhammad Hatta? Roy Kiyoshi? Jawabannya bukan ketiganya. Kalimat itu keluar dari mulut Achmad Soebardjo. Kalimat sakti itu lah yang membuat para golongan muda, yang kepalanya panas karena golongan tua tidak segera melangsungkan kemerdekaan, menjadi tenang.

 

Achmad-Soebardjo

Achmad Soebardjo (Sumber: fajarpos.com)

Betul. Achmad Soebardjo adalah sosok diplomat yang menjadi penengah perbedaan pandangan antara golongan tua dan golongan muda. Berkat kepiawaiannya dalam berdiplomasi, dia dipilih menjadi Menteri Luar Negeri pertama di Indonesia. Dengan kantor pertama di rumahnya sendiri, dan pegawai yang berjumlah 10 orang saja. Secara gitu, lho, setelah menasbihkan diri sebagai negara yang merdeka, kita perlu banyak ngobrol sama negara luar.

Tentu, untuk bisa jago berdiplomasi, diperlukan ilmu tersendiri. Di sinilah jurusan HI (Hubungan Internasional) berguna. So, yeah karena artikel ini tidak akan jadi artikel yang serius serius amat, mari kita mulai bedah jurusan HI dari stereotip orang-orang dulu.

stereotip jurusan hi

Kalau kamu googling, lumayan banyak stereotip dari jurusan HI ini. Beberapa di antaranya adalah: anak HI harus jago menguasai banyak bahasa, sering keluar negeri, dan, sama kayak Achmad Soebardjo… akan berakhir menjadi diplomat di Kementerian Luar Negeri.

Konon, kalau kamu masuk ke pergaulan anak HI, cara bicara kamu akan berubah menjadi jaksel style. Kalau mau ngajak makan, kamu akan bilang, “To be honest gue laper nich… ngebaks yuk! (maksudnya ngebakso)”.

“Lo bukannya baru makan sebelum kelas Pak Roni yang which is 2 jam lalu? Kena Food Coma aja lo!”

Sementara anak sastra jawa di pinggiran cuma: “Wuopo, toh, coeg...”

confused-2

Sumber: Giphy.com

Tidak hanya itu, konon anak HI gemar mengeluarkan diksi-diksi ajaib yang sering mereka baca dari jurnal. Kehidupan sehari-hari pun penuh dengan pengandaian dari hubungan antarnegara.

“Gue perhatiin lo sama doi kok gak pernah keliatan bareng? Lagi ribut ya kayak Iran Amerika?”

“Ya, secara empiris sih kita nggak bilang kalau lagi ada konflik. Tapi kalo dari apa yang gue rasa, de facto-nya emang iya.”

Itulah beberapa stereotip yang melekat dengan jurusan HI. Tapi apakah itu sesuai dengan kenyataannya? Apa aja yang dipelajarin di sini? Apakah ini termasuk jurusan yang susah masuknya? Atau malah lebih susah keluarnya alias… TOLONG TUHAN, AKU INGIN LULUS! Yuk, mari kita bahas satu per satu.

Well, pertama. Seperti namanya, di jurusan HI, tentu kamu akan banyak mempelajari hubungan internasional. Politiknya, kebijakannya, cara komunikasinya. Itu artinya, kamu akan banyak cari tahu, baca, dan mempelajari berita-berita internasional. Apa yang terjadi dengan dunia ini. Kenapa negara A dan negara B bisa temenan akrab. Kenapa negara A dan C kok kayak beranteeem terus.

Di jurusan ini kamu akan riset, riset, dan riset. Studi kasus, studi kasus, dan studi kasus. Kelasnya pun akan lebih banyak diskusinya dibanding pengajaran satu arah. Hal ini supaya isu yang lagi diomongin bisa berkembang dan dibedah bersama di kelas.

 

 

Gara-gara sering riset ini, mau gak mau kamu akan belajar bahasa inggris. Karena apa? Ya karena semua jurnalnya kebanyakan berbahasa inggris. Berita-berita luar juga, kan, dikemas dalam bahasa inggris. Mungkin, kebiasaan ini lah yang bikin jurusan Hubungan Internasional diasosiasikan dengan “harus jago bahasa inggris”. Padahal, ya, nggak juga. Seiring berjalannya waktu juga kamu bakal belajar sendiri kok. Jadi, ya, stereotip tadi tuh cuma efek sampingnya aja. Karena hal yang ditekankan di HI sebenarnya adalah seberapa kamu bisa kritis terhadap hal-hal yang terjadi di dunia internasional.

Baca juga: Bedah Jurusan Komputer: Bedanya Jurusan Sistem Informasi dan Teknik Informatika

Oiya, konon di jurusan HI kamu akan dapat satu kitab suci baru. Namanya adalah World Politics. Siapa tahu kamu pengin curi-curi duluan tentang materi di HI, cari tahu aja tentang buku itu. Atau, kamu juga bisa baca-baca artikel tentang HI di situs e-International Relations ini.

 

buku world politicsSumber: goodreads.com

 

Lalu, bagaimana dengan masalah anak HI harus sering keluar negeri? Apa ini benar? Apa ini jadi kewajiban di kampus-kampus? Kenyataannya nggak. Anak HI bisa aja lulus tanpa pernah keluar negeri sama sekali. Namun, harus diakui bahwa anak HI punya banyak kesempatan untuk bisa keluar negeri. Misalnya, mengikuti konferensi semacam Model United Nation (MUN), atau buat paper yang akan dipresentasiin di luar.

Di beberapa kampus mungkin akan agak beda, tapi ketika sudah di dalam, kamu akan memilih penjurusan. Berbagai di antaranya adalah mengecek hubungan internasional dari aspek ekonomi (bagaimana interaksi politik global antarnegara bisa berpengaruh dengan tingkat ekonomi suatu negara), atau sisi politik, keamanan, maupun jurnalistik.

Berhubung sifatnya yang dinamis, materi yang dipelajarin juga akan terus berkembang. Kayak misalnya, dulu, setiap kita ngomongin “keamanan suatu negara”, kita langsung kepikiran tentang perang. Bagaimana kita bisa menjalin hubungan baik dengan negara lain supaya terhindar dari peperangan dan tercipta perdamaian. Tapi, seiring berjalannya waktu, sekarang concern-nya jauh lebih dalam. Ketika membahas keamanan suatu negara, sifatnya lebih ke human security. Bukan aman dari serangan luar saja, tapi apakah manusia bisa hidup sejahtera dan tenteram di negara itu.

prospek kerja di jurusan hubungan internasional

Pada awalnya mungkin kamu berpikir bahwa semua anak HI akan jadi diplomat. Bekerja di kedutaan besar suatu negara. Pakai baju rapi, dan hobi keluar negeri. Ini bisa benar dan juga salah. Ya, mungkin tujuan awalnya itu, tapi, lulusan HI nggak cuma bisa jadi diplomat.

Ada berbagai profesi lain yang bisa dipilih oleh alumni HI. Kamu bisa bekerja di INGO (Lembaga nonpemerintah yang skalanya Internasional), di perusahaan-perusahaan multinasional, BUMN (kayak Pertamina gitu-gitu), peneliti, dosen, atau bahkan jurnalis dan konsultan bisnis (Boston Consulting Group, McKinsey, dll) yang mana namanya sangat digandrungi dan penghasilannya cukup ehem.

kampus jurusan hubungan internasional

Kalau sewaktu kuliah kamu tertarik dengan isu HAM, kamu bisa aja masuk ke perusahaan NGO yang menaungi isu itu. Amnesty Internasional, misalnya. Biasanya, kan, sewaktu kuliah kamu udah dibiasain untuk riset dan baca jurnal, jadi pengetahuan dan cara kamu menangani suatu masalah bisa lebih dalam.

Nadiem Makarim, sosok yang sekarang jadi Menteri Pendidikan juga tadinya anak HI dari Brown University. Atau Dewi Lestari, penulis yang buku-bukunya penuh dengan observasi matang. Dee percaya bahwa riset itu bukan hanya untuk kepentingan “kebenaran isi buku” yang dia tulis, tapi juga bikin hati tenang. Karena sebagai penulis, kita jadi tidak merasa parno dan waswas apakah hal yang kita hadirkan benaran sesuai dengan kehidupan nyata atau tidak. Bisa jadi, sih, mindset Dewi Lestari itu didapat dari kebiasaan anak HI yang doyan ngulik dan riset.

Nah, itulah tadi sekilas penjelasan mengenai jurusan Hubungan Internasional (HI). GImana, kamu udah dapat bayangan, kan, kayak apa isi dan prospek kerjanya? Demi mempersiapkan diri supaya bisa masuk kampus impian, yuk segera perdalam materi dari Master Teacher yang berpengalaman di bidangnya lewat ruangbelajar!

ruangbelajar

 

 

Beri Komentar