Kardinah dan Roekmini: Pahlawan Perempuan yang (hampir) Dilupakan

Fauzia Astuti Dec 23, 2019 • 6 min read


WT_-_Kardinah_&_Roekmini-01

Yuk, lihat bentuk perjuangan dua adik RA. Kartini, yaitu RA. Kardinah dan RA. Roekmini dalam memperjuangkan hak dan martabat perempuan Indonesia.

--

Bukan lagi rahasia kalau ibu adalah sosok perempuan yang paling kuat di keluarga. Nah, kamu sendiri, udah lakuin hal apa di Hari Ibu kemarin? Apa pun itu, Ruangguru yakin deh kalau ibumu pasti senang dan bangga dengan apa yang kamu berikan. Seperti lirik lagu, kasih ibu itu sepanjang masa pada anaknya.

Duh, jadi melow gini.

Udah yuk, kita berkenalan aja dengan dua sosok “Ibu” kece dari tanah Jawa ini.

Coba Ruangguru tanya dulu deh, siapa tokoh yang kamu bayangkan ketika mendengar “Pahlawan Perempuan Indonesia”? RA. Kartini? Dewi Sartika? Atau Martha Christina Tiahahu? Oke, itu memang nggak salah, tapi ternyata banyak lagi yang perlu dieksplor dari kata kunci “Pahlawan Perempuan Indonesia”.

Selama ini, kita mungkin hanya mengenal sosok Kartini sebagai pahlawan dari Jepara yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Tapi, apakah kalian udah tahu kalau Kartini nggak memperjuangkan itu seorang diri? Untuk mencapai cita-citanya menaikan derajat perempuan Indonesia, khususnya di tanah Jawa, Kartini mencoba untuk menggebrak dunia baru bersama dua saudaranya. Siapakah saja mereka?

kartini-kardinah-roekmini-fotoPotret Kartini, Kardinah, dan Roekmini (sumber: itjeher.com)

Mereka adalah RA. Kardinah dan RA. Roekmini. Yup, dua perempuan ini adalah adik perempuan dari Kartini. Saking kompaknya mereka bertiga, sampai mendapat julukan “Daun Semanggi” atau “Het Klaverblad” dalam bahasa Belanda, lho. Yuk, kenali lebih dalam dua sosok ini.

 

RA. Kardinah

Kayaknya nama Bu Kardinah nggak asing deh. Bener banget! Itu karena nama beliau dijadikan nama sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Tegal. Berbeda dengan kakaknya, Kardinah lebih memusatkan perjuangannya di kota Tegal daripada Jepara. Lho? Lho? Kok tiba-tiba pindah ke Tegal?

Jadi gini, teman-teman. Setelah menikah dengan Bupati Tegal, Ario Reksonegoro X, Kardinah pun harus mengikuti suaminya pindah. Nah, di sana ia mendirikan sebuah sekolah untuk masyarakat pribumi. Hal ini karena Kardinah nggak puas tuh dengan pemerintah Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi. Fyi, saat itu cuma kalangan atas, terutama laki-laki, yang boleh bersekolah tinggi lho.

Sekolah yang didirikan Kardinah tepat pada ulang tahunnya yang ke-35 (1 Maret 1916) ini bernama “Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo”, Kurang lebih sih sistem pengajarannya sama dengan Sekolah Kartini, yaitu sekolah keterampilan perempuan untuk menjadi istri atau ibu yang mapan. Dan, dan, dan, satu yang unik dari sekolah ini adalah karena Kardinah membangunnya dari uang royalti penjualan buku dan ditambah beberapa sumbangan lain. Menurut artikel di tirto.id buku yang ditulis Kardinah adalah buku masakan dan seni membatik, sebanyak masing-masing 2 judul.

perjuangan-kardinah-dan-roekmini-adik-kartini

 

Baca juga: Laksamana Malahayati, Srikandi dari Tanah Rencong

Selanjutnya, Kardinah bersama kakak laki-lakinya, Sosrokartono, mendirikan sebuah perpustakaan dari dana swadaya bernama “Panti Sastra”. Sama seperti ketika membangun sekolah, tujuan mulia Kardinah ini dimaksudkan agar siapa saja bisa mencicipi pendidikan, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Dan hebatnya lagi nih, perpustakaan ini nggak dibangun dengan pembiayaan Pemerintah Belanda lho, teman-teman.

Kemulian beliau nggak cuma itu. Seperti yang disinggung di awal kalau nama Kardinah dijadikan nama sebuah RSUD di Tegal. Jadi, pada tahun 1927, Kardinah mendirikan sebuah rumah sakit yang dinamakan Kardinah Ziekenhuis atau Rumah Sakit Kardinah. Latar belakang pendirian rumah sakit itu karena rasa simpatinya pada kesehatan masyarakat miskin di Tegal, Dana pembangunan rumah sakit ini pun dari royalti penjualan buku-bukunya dan ditambah dari hasil penjualan kerajinan tangan murid-murid Wisma Pranowo.

Mulia banget ya Ibu Kardinah.

 

Roekmini

Nah, teman-teman. Mungkin cerita perjuangan Roekmini agak berbeda dari dua saudaranya nih. Dibanding dengan Kartini dan Kardinah, perempuan yang lahir pada 4 Juli 1880 ini memiliki pribadi yang lebih maskulin. Dan karenanya, Roekmini adalah satu-satunya di antara ketiga bersaudara itu yang menikah tanpa lewat perjodohan, padahal mereka bertiga sama-sama menentang sistem feudal dan konservatif masyarakat Jawa.

Karena hobinya adalah membuat kerajinan kayu dan melukis, akhirnya Roekmini membuka sebuah sekolah vokasional atau kejuruan. Nah, ini juga yang membuatnya beda dari dua saudaranya, pola pengajaran Roekmini lebih ke arah praktikal daripada ideal.

Kalau Kardinah membangun masyarakat dengan fasilitas-fasilitas, Roekmini lebih memilih di jalur organisasi. Yup, adik tiri Kartini ini sangat aktif di organisasi dan komunitas yang memperjuangkan hak para perempuan. Ia pernah bergabung dengan organisasi pejuang hak pilih perempuan Eropa bernama Vereeniging voor Vrouwenkiesrecht (VVV). Nggak cuma sebagai anggota biasa, Roekmini bahkan masuk sebagai badan eksekutif sejak Juli 1927 - pertengahan 1931.

kardinah-dan-roekmini-adik-kartini-perjuangan

Roekmini turut berkontribusi dalam beberapa misi, di antaranya adalah pengajuan proposal pendirian cabang VVV di Kudus pada tahun 1928. Dengan menggunakan nama dari bahasa Jawa “Mardi Kamoeljan” untuk cabang di Kudus, Roekmini berharap perempuan lokal bisa semaju perempuan Eropa. Cabang ini berada di bawah bimbingan dokter lokal, bidan, dan perkumpulan istri pejabat, jadi diharapkan nantinya penduduk lokal bisa lebih siap dalam kesehatan, pertolongan pertama, dan perawatan anak.

Di tahun yang sama pula, Roekmini bergabung dalam Kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada bulan Desember. Bahkan di Kongres Perempuan Indonesia II, ia dipilih menjadi perwakilan Indonesia untuk Kongres Perempuan se-Asia di Lahore, Pakistan bersama Sunaryati Sukemi pada Januari 1931. Wah, hebat ya! Ternyata Bu Roekmini adalah salah satu delegasi perempuan Indonesia pertama di pergerakan internasional.

Tentunya semua prestasi Kardinah dan Roekmini nggak diraih dengan gampang. Banyak rintangan-rintangan yang mereka lalui, seperti ketika ayah mereka meninggal di tahun 1905 dan membuat keluarga Adipati Ario Sosroningrat harus kehilangan pengakuan publik. Tapi kenapa mereka tetap berhasil? Kuncinya adalah karena mereka nggak berhenti mencoba dan bekerja keras.

Kamu juga harus seperti itu dong! Nggak peduli kamu cewek atau cowok, sebagai anak kebanggaan bangsa Indonesia pastinya harus berjuang demi kemajuan negara ini. Salah satu bentuk perjuangan yang paling mudah adalah dengan belajar. Nah, apalagi zaman sekarang udah jauh lebih mudah. Cari bimbel, nggak perlu lagi tuh yang mahal dan jauh dari rumah. Dengan ruangbelajar, kamu bisa lebih mudah memahami materi pelajaran dengan video animasi yang keren dari mana saja dan kapan saja.

New Call-to-action

Beri Komentar