Ruangguru Blog

    Tahun 2017, Kemendikbud Wajibkan Guru Mengajar 40 Jam Seminggu. Akankah Efektif?

    By Ruangguru · Oct 27, 2016

    guru mengajar Guru sedang mengajar siswa-siswi di sekolah. (Sumber: tanjungpinangpos.co.id)

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan merevisi kewajiban tatap muka minimal 24 jam per minggu bagi guru. Aturan tersebut diberlakukan sebagai syarat pencairan tunjangan profesi guru. Syarat tersebut diganti dengan kewajiban berada di sekolah selama delapan jam sehari atau 40 jam untuk lima hari kerja dalam sepekan. Kebijakan tersebut ada di dalam Pasal 35 ayat (1) UU Nomor 14 tentang Guru dan Dosen. Pada ayat (2) disebutkan, bahwa beban kerja tersebut adalah 24 jam minimal, lalu maksimalnya 40 jam tatap muka. 

    Selama ini, untuk memenuhi tatap muka tersebut, beberapa guru mencari (mengajar) hingga ke sekolah lain. Hal ini berdampak pada guru yang hanya disibukkan dengan mengejar pemenuhan target tatap muka. Ketentuan delapan jam berada di sekolah dalam sehari tersebut merujuk jam normal, bukan jam pelajaran. Dengan demikian, guru tidak lagi harus ke sana kemari untuk mencapai target, tapi cukup di sekolah tempatnya bertugas. Pola ini sangat cocok untuk pelaksanaan revolusi mental sebagaimana nawacita presiden. Nantinya, hal ini akan berlaku untuk seluruh guru SD, SMP, termasuk juga SMA di sekolah negeri maupun swasta. Baik guru yang sudah PNS dan sudah mendapat tunjangan profesi, maupun guru swasta yang bersertifikat.

    guru mengajar - guru dengan siswa Guru dengan siswa. (Sumber: republika.co.id)

    Selain itu, ketetapan ini juga bertujuan agar guru tidak perlu membawa pulang pekerjaannya ke rumah. Termasuk lima kewajiban guru, seperti melaksanakan aktivitas pembelajaran, merencanakan kegiatan belajar dan mengajar, melakukan pembinaan, serta penilaian, dan juga tambahan tugas lainnya.

    Peraturan yang masih bersentuhan dengan rencana full day school (kini Penguatan Pendidikan Karakter) ini juga menyangkut profesionalitas guru, yang salah satunya diukur melalui waktu kerja. Jadi, kalau guru masuk pukul 08.00, pulangnya minimal pukul 16.00. Peraturan itu juga berlaku untuk guru di pedalaman, sementara guru tidak tetap tidak diwajibkan.

    Penerapan ini nantinya akan diproses dengan pembuatan absensi nasional oleh pihak Dirjen. Bagi guru yang tidak mematuhi, akan dikenakan sanksi berupa penundaan  dana sertifikasi dan administrasi.

    guru mengajar - Guru mengajar di kelas Guru sedang mengajar di kelas. (Sumber: mynewshub.cc)

    Kebijakan ini tentu mendapat sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya dianggap seperti ingin memuluskan konsep full day school yang masih menuai pro dan kontra, dengan mengorbankan guru. Selain itu, Retno Listyarti selaku Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia juga turut berpendapat, Mendikbud seperti hendak menjadikan guru pegawai struktural bukan fungsional. Ia menambahkan, guru bekerja justru tanpa batasan jam. Misalnya, membuat soal dan koreksi pekerjaan siswa, bisa dilakukan kapan saja termasuk di rumah, di luar jam kerja. Dengan kebijakan itu, Retno mengatakan guru akan kelelahan dan bisa tidak maksimal melayani peserta didik.

    Well, program ini memang masih dalam proses pengkajian secara mendalam. Jika jadi diterapkan, maka sekolah akan meliburkan siswa selama dua hari dalam sepekan, yakni Sabtu dan Minggu. Dua hari itu dapat dimanfaatkan untuk berkumpul lebih lama dengan keluarga.

    Muhadjir Effendy mengatakan bahwa kewajiban setiap pengajar adalah memberikan yang terbaik bagi para siswanya. Ke depannya, melalui penerapan kebijakan ini, waktu mengajar bisa jadi lebih kondusif. Dengan jam kerja guru yang lebih khusus, maka siswa pun akan mendapatkan pembelajaran yang efektif.

    Tidak hanya itu, Mendikbud pun kini tengah berupaya memperbaiki sistem pengelolaan di sekolah. Selama ini, kepala sekolah masih memiliki tanggung jawab mengajar. Namun sekarang, kepala sekolah bukan guru lagi, tapi manager. Jadi, setiap kepala sekolah akan dibebaskan dari jam pelajaran dan fokus mengelola manajemen yang ada.

    Kemudian, Mendikbud sedang mengkaji pengurangan mata pelajaran untuk jenjang SD dan SMP. Apabila diketahui terlalu banyak beban mata pelajaran untuk siswa, maka beberapa di antaranya akan dihapuskan. Kita doakan saja program-program dari Kemendikbud dapat memberikan pengaruh yang signifikan untuk pendidikan Indonesia ya. Kalau menurutmu, bagaimana? Share pendapatmu di kolom komentar ya! Mari berdiskusi :) (IH/TN)

    Share this:

    Tags: Wow ternyata, Nasional

    Tulis Komentarmu

    Paling Banyak Dibaca

    Subscribe Blog Ruangguru