Mengenal Kak Stephanie: Bersemangat untuk Pendidikan Indonesia

Ruangguru Apr 28, 2018 • 6 min read


Halo, Squad! Kamu sedang mempersiapkan diri menghadapi seleksi penerimaan di universitas impian? Supaya kamu semakin termotivasi mengejar cita-citamu, kali ini kita akan mengulas perjalanan pendidikan dan karier Kak Stephanie (Business Development Manager Ruangguru). Perempuan yang akrab disapa Kak Steph ini merupakan alumni dari kampus ternama di Singapura dan sempat bekerja di Jepang. Baru-baru ini ia juga diterima untuk program pascasarjana di Harvard University, Amerika Serikat. Walaupun begitu, Kak Stephanie tetap ingin terus mengabdikan dirinya untuk pendidikan Indonesia, lho. Wah, bagaimana ceritanya? Simak ya!

pendidikan indonesia

Kak Stephanie ketika berdiskusi di Learning Innovation Summit 2018. (Sumber: instagram.com)

Mempelajari banyak hal di National University of Singapore (NUS)

Sebelum menjadi penerima Singapore Scholarship 2010 untuk Bachelor of Social Sciences, National University of Singapore (NUS), Kak Stephanie sempat menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, lho. Menurutnya, ada beberapa perbedaan antara jurusan Economics di NUS dengan Ilmu Ekonomi di Indonesia yaitu,

  • Di NUS mahasiswa bisa mempelajari Ekonomi selama 3 tahun saja, namun jika memperpanjang hingga 4 tahun dengan nilai GPA tertentu, akan ada gelar tambahan yang didapat. Kak Stephanie lulus dengan mendapatkan gelar tersebut, lho. Hal ini cukup berbeda dengan di Indonesia ya, semakin cepat kamu lulus malah akan dianggap semakin baik.
  • Beban perkuliahan yang lebih banyak dan sedikit lebih berat. Mahasiswa dituntut untuk fokus, dan berargumen berdasarkan data yang ada. Misalnya sebelum kelas, mahasiswa diberi 3-4 jurnal untuk dipelajari lalu dituntut untuk memiliki analytical skill yang kuat dengan mencari celah kesalahan yang mungkin terjadi dari jurnal tersebut.
  • Mahasiswa NUS tidak diwajibkan mengerjakan skripsi sebagai tugas akhir. Melainkan melakukan proyek riset berkelompok. 

“Kalau di Indonesia, ketika kamu ambil Ilmu Ekonomi maka kamu akan diwajibkan mengambil mata kuliah lintas jurusan dalam satu fakultas seperti Akuntansi. Namun, di NUS, mahasiswa fokus pada jurusan yang dipilih saja. Tapi bisa ambil modul dari jurusan lain yang dirasa menarik. Misalnya aku ambil modul cosmetics and parfume, yang membahas bahan pembuat kosmetik hingga kenapa kosmetik bisa memberi efek melembabkan. Modul lain tentang mathematics of game yang kasih tau bahwa ternyata casino memang didesain untuk memiliki peluang menang yang kecil.” ujar sosok yang menjadi relawan untuk menyediakan akses air bersih ke Desa Pemenang Timur and Desa Tegal Maja, NTB ini.

Ketika menjadi mahasiswa di NUS, juga tidak ada kisi-kisi untuk ujian. Sehingga mahasiswa benar-benar menganggap ujian dengan sangat serius. Kak Stephanie terbiasa untuk belajar bahkan tidur di perpustakaan. Namun, dibalik hal-hal tersebut banyak manfaat yang didapatkan Kak Stephanie selama kuliah. Di antaranya terbiasa menyampaikan pendapat dan negosiasi dalam bahasa asing.

Dunia kerja di Singapura dan Jepang 

Selama berada di Singapura, Kak Stephanie tidak hanya menempuh pendidikan saja, lho. Melainkan juga mengikuti program magang di dua perusahaan. Pertama adalah Clearstate, sebuah perusahaan konsultan riset di bidang pasar global kesehatan dan The Indonesian Investment Promotion Centre. Masing-masing dilaksanakan selama tiga bulan.

Selanjutnya, berbekal informasi dari portal karir kampus, ia pun berkesempatan bekerja di perusahaan Jepang yang bergerak pada bidang teknologi informasi. Di kantornya yang berlokasi di Tokyo ini, Kak Stephanie mengawasi kantor cabang yang ada di beberapa negara Asia Pasifik seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Selain itu, Kak Stephanie berkesempatan menjalin kerjasama dengan satu perusahaan asal AS, tujuannya agar produk kerjasama tersebut dapat menjadi pemimpin di pasar Asia Pasifik. 

Kembali ke Indonesia dan bekerja di Ruangguru

pendidikan indonesia

Kak Stephanie saat mempresentasikan Ruangguru. (Sumber: instagram.com)

Setelah satu setengah tahun bekerja di Tokyo, Kak Stephanie memutuskan kembali ke Indonesia. Perjalanan bisnisnya ke Indonesia pada April 2016 mempertemukannya dengan CPO Ruangguru, Iman Usman. “Aku merasa pekerjaan di Jepang kurang menantang, jadi aku memutuskan untuk mencari kerja lain. Ketika bertemu Iman, aku tertarik dengan Ruangguru karena bergerak di bidang pendidikan dan merasa ada potensi untuk berkembang sangat besar, karena layanan penyedia pendidikan berdasarkan teknologi masih sedikit,” ucapnya.

Sebagai Business Development Manager Ruangguru, Kak Stephanie memegang kendali untuk program Ruangguru digitalbootcamp (RGDB) dan ruangbelajar. Ia bertanggung jawab atas peluncurkan produk baru, perubahan dan pengembangan produk, evaluasi operasi produk setiap harinya, serta menyelesaikan masalah jika ada. Selama 2 tahun bekerja di Ruangguru, Kak Stephanie merasa apa yang telah dia kerjakan memiliki dampak secara langsung untuk anak-anak Indonesia.

  • Memberi inspirasi untuk anak-anak. Tidak semua anak beruntung untuk mengetahui banyak pilihan pendidikan atau karier. Melalui Ruangguru, Kak Stephanie bisa menginspirasi mereka akan pentingnya pendidikan. Dampak yang diberikan juga bersifat jangka panjang, terutama bagi anak-anak yang tidak berada di kota besar.
  • Menjelaskan bahwa semua hal butuh proses. Tak jarang siswa merasa kebingungan menentukan jurusan kuliah dan juga universitas. Menurut Kak Stephanie, anak-anak Indonesia cerdas tapi seringkali minder, sehingga tidak mau mengusahakan sesuatu yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, proses meyakinkan anak-anak untuk bermimpi dan membangun kepercayaan diri tidak bisa dilakukan dalam sebulan. Untuk itu di ruangbelajar disediakan topik RG Inspire.

Ke depannya, Kak Stephanie berharap Ruangguru bisa membantu Indonesia mengejar ketertinggalan dalam bidang pendidikan. Serta bisa membantu anak-anak Indonesia untuk memiliki soft skills yang mumpuni. Hal ini sudah dimulai dalam program di RGDB, dengan meminta anak-anak memberi pendapat mengenai isu hangat yang terjadi.

Mendapatkan beasiswa ke Harvard University

pendidikan Indonesia

Kak Stephanie. (Sumber: instagram.com)

Dengan beasiswa LPDP, Kak Stephanie akan menempuh pendidikan S2 di School of Education, Harvard University. Alasannya memilih jurusan tersebut adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai pendidikan, karena sebelumnya tidak memiliki latar belakang mengenai ilmu ini. “Aku harap ini bisa memberi manfaat lebih banyak lagi, karena aku sering bertemu dengan guru-guru dan orang-orang berlatar belakang ilmu pendidikan," tuturnya. Ia memilih Harvard sebab universitas tersebut merupakan kampus terbaik dan ingin menemukan lingkungan belajar yang baik pula. Baginya, teman berpikir itu penting.

Pesan untuk anak Indonesia

Mengakhiri bincang-bincang, Kak Stephanie menyampaikan beberapa pesan agar anak Indonesia tetap semangat belajar. “Jangan pernah takut untuk bermimpi walaupun terlihat tidak mungkin untuk diraih, yang penting kamu punya langkah konkret untuk mewujudkannya. Jika kamu punya komitmen dan kerja keras, tidak ada batasan untuk suatu mimpi. Walau aku tidak berasal dari keluarga yang berkecukupan, namun aku terus berusaha. Maka, begitu juga kamu. Tidak ada alasan kamu untuk menyerah," pungkasnya.

Nah Squad, ceritanya sangat menginspirasi ya? Kalau kamu juga tak mau kalah dengan prestasi dan mimpi Kak Stephanie untuk pendidikan Indonesia, belajar lebih giat lagi, yuk! Kamu bisa mulai dengan membahas pelajaran sambil berdiskusi bersama lewat group chat siswa se-Indonesia hanya di Ruangguru digitalbootcamp.

New Call-to-action

Beri Komentar