Made Sathya: Pelajar yang Hampir Putus Sekolah Karena Hobi

Fahri Abdillah

Oct 3, 2019 • 5 min read

Cerita Juara


Made Sathya: Pelajar yang Hampir Putus Sekolah Karena Hobi

Artikel ini menceritakan seorang pengguna aplikasi Ruangguru yang tinggal di Bali. Ia memiliki hobi bermain musik sejak kecil, sampai akhirnya sempat memiliki kegalauan dalam belajar.

--

Bagi sebagian orang, apalagi pelajar, memiliki hobi atau fokus menjalani kegiatan yang disukai, rasa-rasanya agak sulit dilakukan. Tugas sekolah yang banyak, kurikulum yang terus berganti yang membuat pelajar harus terus beradaptasi, sampai persiapan-persiapan ujian yang sangat padat, agaknya menjadi kendala utamanya. Bener nggak sih?

Padahal, menurut para ahli, memiliki hobi dan fokus menggelutinya, akan membuat setiap individunya mendapat banyak manfaat. Seperti meningkatkan tingkat kreatifitas, mengurangi stres, bahkan sampai bisa menghasilkan uang. Hmm menarik banget kan.

Nah, belum lama ini, tim Ruangbaca bertemu dengan seorang pelajar asal Bali, namanya I Made Sathya Dharma. Ia adalah anak kelas 10 SMA, tapi prestasinya di bidang musik, udah luar biasa banget. Saat ia SMP, Sathya panggilan akrabnya, sering diundang ke beberapa acara besar untuk mengisi bersama kelompok musiknya.

Namun, saat ia banyak panggilan manggung, Sathya mulai menemui kendala. Ia terbentur oleh tugasnya sebagai pelajar yang saat itu sedang menjelang Ujian Nasional. Persiapan menjelang UN harus segera ia lakukan, tidak bisa lagi main-main. Akan tetapi, ia juga tidak mau meninggalkan hobinya itu. Bahkan Sathya sampai berpikir, apakah ia relakan saja sekolahnya itu, dan kemudian tetap fokus ke dunia musik, hobinya dari kecil, yang sekarang sudah bisa membuatnya mendapat uang sendiri.

Lalu, apa yang dilakukan oleh Sathya? Apakah ia benar-benar keluar dari sekolahnya, atau justru ia mengorbankan hobi bermusiknya itu? Untuk menjawab semua itu, saya bersama tim Ruangguru menyambangi langsung kediamannya di Tabanan, Bali.

Sore itu, di bale kayu rumahnya, sambil dihidangkan kopi dan sedikit cemilan khas Bali, Made Sathya bercerita dengan santai tentang hobi bermusiknya kepada saya, begitu juga kegelisahannya pada waktu belajar, sampai bagaimana ia mengatur waktu menyeimbangkan keduanya.

Sejak kapan kamu bermain musik?

Dari kecil aku kenal musik. Soalnya keluargaku juga suka main musik. Selain itu, mungkin karena aku juga tinggal di Bali ya, Bali itu kan terkenal dengan budayanya, terus juga punya banyak anak muda yang keren-keren, apalagi di bidang musiknya. Dari situlah aku terus menekuni hobiku di musik.

Kenapa musik?

Buat aku, musik itu adalah hidup. Kalau aku lagi pusing, aku main musik, kalau aku lagi galau aku main musik, begitu juga kalau aku seneng, juga main musik. Pokoknya aku kayak nggak bisa lepas dari musik.

Musik adalah hidup kamu, lalu bagaimana dengan pendidikan?

Nah, di situ masalahnya. Saat aku SMP, aku kan punya grup band. Pas di saat itu banyak banget panggilan manggung, mengisi event-event yang ada di Bali, mulai dari event kecil sampai event besar.

Terus, selama mengisi acara itu, aku juga dapat bayaran yang, hmm untuk anak seumuranku sih lumayan banget ya. Dari situ aku sempat kepikiran untuk fokus ke musik dan nggak sekolah.

Terus kamu berhenti sekolah dan sampai sekarang aktif bermusik?

Hampir. Aku hampir berhenti sekolah, tapi itu nggak jadi, untungnya. Tapi memang bikin galau banget pas masa-masa itu, sudah mau Ujian Nasional, eh tawaran manggung juga banyak-banyaknya. Galau banget deh.

Lalu bagaimana dengan ujiannya?

Akhirnya berjalan lancar, setelah melewati fase galau, tiba-tiba Bapak Guru menyarankan aku untuk ikut sebuah program beasiswa dari Ruangguru. Aku pesimis banget dan nggak terlalu niat daftarnya waktu itu. Eh ternyata aku kepilih. Akhirnya aku mulai deh pakai itu aplikasi Ruangguru, yang masih asing banget buat aku.

Dari situ aku dapat akses belajar melalui grup chat yang isinya siswa-siswa seumuran yang juga sedang berjuang menghadapi UN. Terus aku juga dapat akses ruangbelajar. Saat itulah aku mulai mengejar ketertinggalanku di mata pelajaran-mata pelajaran yang banyak aku lewati selama ini.

Baca juga: Belajar dari ikhbal, kondisi ekonomi bukan alasan tidak bisa berprestasi

Apakah berpengaruh?

Sejauh yang aku rasakan, sangat berpengaruh, juga sangat membantuku yang sampai hari ini juga masih menggeluti bidang musik. Setiap hari aku mulai belajar, menonton video belajar yang ada di ruangbelajar, malamnya diskusi dengan tutor dan teman-teman sebaya di grup chat rgdb.

Biasanya, kalau mau manggung, aku sempatkan 30 menit untuk menonton video belajar, biasanya sampai menjawab soal-soal latihannya. Sangat membantu. Akhirnya aku mendapat nilai UN yang bagus, meskipun bukan yang terbaik, tapi seenggaknya jauh lebih baik dari nilai-nilai ujian sekolahku sebelumnya.

Sekarang kan sudah SMA, pelajaran semakin banyak, ditambah fokus penjurusan, bagaimana mengaturnya dengan menjalankan hobi?

Waktu itu ibu nonton televisi, terus ibu melihat acara talk show Ruangguru, terus ibu manggil aku dan bilang “Sathya, kamu pakai Ruangguru lagi sana, ibu bayarin untuk langganannya,” gitu. Soalnya beasiswaku dari Ruangguru udah selesai. Ya sekarang untuk nyeimbangin belajar dengan hobi tetap pakai Ruangguru.

Bukan niat promosi ya, tapi aku emang udah nyaman belajar kayak gini, ke mana aja bisa diakses, ditambah lagi aku akan les musik, dan ini pasti sangat membantu aku menjalankan kewajiban sebagai pelajar, di tengah kesibukanku bermusik.

Apa harapan kamu selanjutnya?

Aku kepingin banget masuk Udayana jurusan kedokteran nantinya. Semoga dengan apa yang sekarang aku jalani, semua itu bisa tercapai. Aku juga akan tetap menjalankan kegiatanku bermusik.

 

Made Sathya: Pelajar yang Hampir Putus Sekolah Karena Hobi

 

Obrolan saya dengan Sathya, ditutup dengan permintaan saya kepadanya untuk memainkan satu lagu. Kami pun beranjak, masuk ke dalam studio kecil berisi piano dan gitar akustik. Sathya mulai memainkan pianonya, dan ia membawakan sebuah lagi dari Banda Neira, berjudul Sampai Jadi Debu. Malam di Bali kemudian menjadi semakin syahdu. Sathya memang sangat berbakat.

Saat ini dia percaya, kalau perkembangan teknologi, berdampak positif bagi banyak hal, salah satunya cara belajar. Dengan menggunakan ruangbelajar, Sathya bisa terus mengikuti pelajaran yang ada di sekolah, begitu juga dengan aktifitas bermain musiknya. Ia yang sebelumnya hampir merelakan statusnya sebagai pelajar, sekarang ia tampak terlihat optimis dengan cita-cita yang ia inginkan, menjadi dokter, sekaligus musisi.

ruangbelajar for desktop

Beri Komentar

Recent Posts