Sejarah Kelas 11 | Martha Christina Tiahahu: Pahlawan Muda dan Perjuangannya di Maluku

perjuangan martha christina tiahahu di tanah maluku

Artikel ini membahas tentang perjuangan Martha Christina Tiahahu melawan kolonial Belanda di Maluku

--

Setiap anak berumur 17 tahun punya perjuangannya masing-masing. Bagi anak sekolah seperti kita, perjuangan itu bisa berupa bangun lebih pagi untuk mempelajari ulang materi demi lulus UN.

Pada 14 Mei 1817, perjuangan bagi Christina Martha Tiahahu adalah soal membujuk ayahnya, Paulus Tiahahu, demi bisa ikut pertemuan yang membahas perlawanan rakyat Nusa Laut terhadap kolonial di Hutan Saniri, Saparua, Maluku Tengah. Ayahnya, tentu melarangnya. Mengingat usia anaknya yang masih remaja. Apalagi karena pertemuan itu dilaksanakan secara besar-besaran, bersama Kapitan Pattimura, pahlawan besar yang kita tahu itu.

Dalam buku yang disusun Dra. Nyonya L.J.H Zacharias terbitan Depdikbud berjudul Martha Christina (1981) disebutkan, 3 kali Martha ingin ikut bertempur melawan pemerintah kolonal, tapi ayahnya melarangnya. Pada akhirnya, larangan pun jadi kesia-siaan. Putri tunggalnya itu ikut pula (hlm.60).

Dan seperti yang bisa ditebak, Martha akhirnya ikut dalam pertemuan. Di sana, Paulus meminta izin kepada para Kapitan—sebutan untuk pemuka masyarakat—raja, dan orang kaya agar anaknya diperbolehkan ikut mendampinginya dalam medan pertempuran.

Sejak saat itu,

Martha Christina Tiahahu resmi bergabung dalam gerakan perlawanan Pattimura.

Awalnya, perlawanan berjalan mudah.

Tiga hari setelah rapat, Paulus dan pengikutnya berhasil merebut benteng Dursteede di pesisir pulau Saparua melalui serangan mendadak. Berkat kegigihan mereka, benteng Beverwijk yang berada di pesisir utara pulau Nusa Laut pun berhasil ditaklukan.

lokasi perang martha chirtina tiahahu

Hal ini membuat kolonial cemas dan langsung bertindak. Beberapa kapal berisi serdadu dikirimkan untuk menindak “pemberontak” Maluku. Tidak hanya melalui kekerasan, Belanda juga melakukan pendekatan dengan orang setempat demi menemukan “titik lemah” para pejuang.

Pada 26 Juli, komandan Groot memerintahkan kapten Pool berpatroli di perairan Nusa Laut. Ternyata, ini lah hari keberuntungan Belanda. Mereka berhasil mendapatkan pengkhianat: Patih Akoon dan Dominggus Tuwanakotta. Mereka membocorkan rahasia mengenai kekuatan rakyat Nusa Laut, siapa tokoh perang, serta kondisi benteng yang ada di sana. Mulai dari benteng Beverwijk yang hanya memiliki dua meriam dengan besi tumpuan dihancurkan, dan benteng Duurstede yang masih utuh, tapi meriamnya tidak digunakan. Lokasi ranjau di tepi pantai pun diberi tahu kepada kelompok kolonial.

Berdasarkan informasi itu, pada 6 November, Belanda berupaya menguasai benteng Beverwijk. Mereka mengeluarkan ultimatum agar rakyat Nusa Laut menyerah, tapi ditolak dengan tegas. Tidak tinggal diam, Belanda menyusun siasat licik. Mereka menyusupkan seorang guru yang bernama Sosalisa untuk memasuki benteng tersebut.

Guru Sosalisa, mengatasnamakan diri sebagai raja dari seluruh Nusa Laut, melakukan tipu muslihat terhadap rakyat setempat. Ia menyatakan bahwa para raja telah sepakat untuk berdamai dengan Belanda.

Padahal, ya jelas nggak.

Tetapi, rakyat tertipu. Mereka mengira apa yang dikatakan Sosalisa adalah fakta. Perjanjian pun dibuat. Belanda diperbolehkan masuk dan justru menguasai benteng Beverwijk.

Lain di Nusa Laut, lain di Saparua.

Saat Belanda menguasai benteng Beverwijk, di pulau seberang, tepatnya desa Ouw, Ullath, Martha memberikan kobaran semangat perlawanan. Dengan rambut terurai dan kain merah yang mengikat kepalanya, pasukan Martha bersikeras mempertahankan daerahnya.

Suatu ketika, kapal Belanda turun dengan sekoci di pantai Ullath. Martha menjemput dan langsung memberondongnya dengan lemparan batu hingga sang Nahkoda berlumuran darah dan kembali masuk kapal.

infografik martha christina tiahahu

Keberanian pasukan Martha terus tumbuh hingga mereka berhasil menumbangkan Richemont, salah seorang pemimpin Belanda serta Komandan Meyer, penggantinya. Rakyat pun bersorak. Teriakan memenuhi seluruh penjuru hutan. Baru kali ini, perempuan ikut mendampingi kaum laki-laki dalam pertempuran.

Dalam pertempuran ini, Belanda lebih sabar dalam menghadapi serangan rakyat Maluku. Mereka menunggu hingga para pasukan melawan dengan lemparan batu, yang menandakan kalau amunisi sudah habis. Vermeulen Kringer, pemimpin Belanda, langsung memanfaatkan momen ini dengan serangan balik. Pertempuran sengit tidak terhindarkan. Korban berjatuhan. Belanda berhasil menumbangkan pejuang.

Seluruh wilayah Ullath dan Ouw, rata dengan tanah.

Baca juga: Cerita tentang Anthonius Gunawan Agung, Monginsidi, dan Pahlawan-Pahlawan Lain

Tanggal 10 November 1817, Belanda berhasil merebut kembali Benteng Beverwijk, menguasai Hitu, dan Saparua. Kapitan Pattimura pun berhasil ditangkap. Lusanya, Belanda melakukan serangan umum dan membuat para pejuang mundur. Pertahanan terakhir para rakyat Maluku di Lease berhasil dikuasai. Beberapa Kapitan seperti Said Perintah, Hihanussa, Raja Ullath, Patih Ouw, serta Paulus dan Martha Tiahahu berhasil diringkus.

Mereka semua, dibawa ke kapal perang Evertsen.

kapan evertsen

15 November 1817, Belanda memeriksa satu per satu Kapitan yang berhasil ditangkap. Mereka pun menjatuhkan vonis hukuman mati untuk Paulus. Mengetahui kabar ini, Martha memohon kepada Buyskes, orang yang memvonis, untuk membatalkannya. Tapi hukuman tetap berjalan.

Lusanya, hukuman mati untuk Paulus dilaksanakan di lapangan Benteng Beverwijk. Belanda meminta Martha masuk ke dalam benteng agar tidak melihat eksekusi ayahnya.

Saat itu, algojo yang merupakan serdadu dari daerah Maluku mengeluarkan serentetan peluru yang merobohkan tubuh Paulus. Setelahnya, mereka menusuknya dengan kelewang, senjata tradisional mirip golok.

Berbeda dengan ayahnya, Martha, karena masih dianggap terlalu muda, tidak dijatuhi hukuman mati. Belanda meminta Guru Sosalisa untuk mengasuh dan mendidiknya. Martha yang kini sebatang kara (Ibu Martha meninggal saat Martha masih kecil) lebih sering mengasingkan diri ke hutan. Belanda yang merasa tempat pengasingan Martha berbahaya, menangkapnya bersama 39 orang lain dan mengangkutnya ke kapal. Niatnya, Martha ingin dijadikan budak perkebunan kopi di Jawa.

Dalam pelayarannya ke Batavia, di atas kapal Evertsen, Ver Huell seringkali menghiburnya. Huell bahkan memberikannya tempat tersendiri untuk Martha. Supaya Martha mendapatkan kenyamanan dan kemewahan.

Tapi, ini Martha Christina Tiahahu.

Seorang anak yang dididik dari pembelajaran penindasan.

Segala kemewahan itu ia tolak mentah-mentah. Ia sadar akan niat busuk kolonial. Dalam keadaan tidak berdaya, Martha tetap berjuang. Melakukan pemberontakan sebisanya dengan aksi mogok makan dan pengobatan. Ia tidak mau berkomunikasi dengan awak kapal. Ia menolak obat yang diberikan Belanda. Ia sama sekali tidak menyentuh makanan pemberian Belanda.

“Saya tidak akan menggulung rambut saya, sebelum mandi dengan darah Belanda,” ujar Martha.

Hingga akhirnya, 2 Januari 1818, di tengah Laut Banda, di antara Pulau Buru dan Manippa, Martha Christina mengakhiri perjuangannya. Ia wafat akibat kelaparan.

Iya, secara fisik, perjuangan Martha berakhir sampai di sana. Tapi, semangat dan keberaniannya dalam melawan hingga akhir menjadi perjuangan yang tidak akan pernah berakhir. Perjuangan Martha Tiahahu terus menjalar dan diabadikan dalam bentuk monumen pada 20 Mei 1969 di Ambon, Maluku. Di tahun yang sama, Martha pun secara resmi dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Gimana, Squad. Sekarang udah tahu, kan, bagaimana perjuangan salah satu tokoh dari daerah Maluku yang bernama Martha Christina Tiahahu. Meskipun masih muda, tapi semangat juangnya sungguh gigih. Kalau kamu merasa perjuanganmu sebagai pelajar dalam menghadapi ujian nasional maupun SBMPTN, cobain aja tonton materi-materi di ruangbelajar!

 ruangbelajar

Beri Komentar

Recent Posts