Mengapa Vaksin Anak Banyak Ditentang Orang Tua?

Rabia Edra

Jun 27, 2019 • 4 min read

parenting


Header_-_parenting_-_vaksin-01

Akhir-akhir ini, bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan tubuh alias vaksin kembali ramai diperbincangkan di dunia maya. Pemberian vaksin anak yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi penyebab penyakit-penyakit tertentu ditolak oleh sebagian orang tua. Wah, kenapa ya? Padahal sudah terdapat 88% total anak Indonesia yang sudah divaksinasi dan perannya telah menyelamatkan puluhan juta orang, lho. Simak anggapannya berikut ini.

1. Vaksin adalah bakteri

Vaksin biasanya memang menyerupai mikroorganisme penyebab penyakit dan sering dibuat dari mikroba yang dilemahkan atau mati. Kemudian, hal tersebut menjadi rangsangan yang dimasukkan ke dalam tubuh dan mengaktifkan sistem imun. Dengan begitu, sistem imun akan mengenalinya sebagai ancaman, menghancurkannya, dan dapat lebih mengenali serta membunuh mikroorganisme terkait, yang mungkin dapat ditemui di masa depan. Jadi, bukan sembarang bakteri, vaksin justru dapat bersifat profilaksis, misalnya untuk mencegah atau memperbaiki efek infeksi di masa depan. Jadi, orang tua tidak perlu takut dengan hal ini ya!

2. Dibuat dengan cepat

vaksin anak

Tahap pembuatan vaksin (Sumber: bioprocessintl.com)

Dilansir dari Kompas.com, pembuatan vaksin anak harus diperlukan keseimbangan antara manfaat vaksin yang diberikan dengan manfaat yang akan dicapai. Untuk mencapai ini, diperlukan berbagai penelitian jangka panjang sebelum vaksin digunakan. Tak heran, jika dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan vaksin yang benar-benar aman dan bermanfaat. Menurut buku Panduan Imunisasi Anak yang ditulis oleh Satgas Imunisasi PP IDAI, ternyata dibutuhkan waktu sekitar 15-20 tahun untuk membuat vaksin lho, terhitung sejak vaksin ditemukan di laboratorium hingga aman disuntikkan pada anak-anak. 

vaksin anak

3. Menimbulkan efek samping

Sebelum vaksin disebarluaskan dan diinjeksi pada anak-anak, terdapat pengujian klinis terlebih dahulu yang dinamakan dengan fase satu yaitu pemberian vaksin ke orang dewasa sehat, misalnya 35 orang. Hal ini untuk melihat apakah vaksin bereaksi baik tanpa menimbulkan ada efek buruk. Selanjutnya, akan dilakukan fase kedua yaitu pada kelompok yang rentan pada penyakit yang akan dicegah. Di fase ini, akan terlihat efektivitas vaksin dalam darah dengan mengukur kadar antibodi. Efektivitas ini akan bekerja apabila sesuai dengan dosis, jadwal, dan usia yang tepat. 

Jika ternyata cocok,  maka akan dilakukan uji klinis fase tiga yaitu terhadap anak bayi namun dalam jumlah terbatas. Tujuannya agar dapat melihat daya pencegahan secara langsung pada bayi maupun anak. Oleh karena itu, jika pada fase-fase sebelumnya dapat menyebabkan efek samping. Maka, di fase selanjutnya dan sebelum penyebarluasan dapat semakin terminimalisir kekurangannya.

4. Sama dengan imunisasi

vaksin anak

Salah satu vaksin, yaitu vaksin cacar (Sumber: suarapalestina.com)

Siapa yang masih bingung dengan perbedaan keduanya? Tahukah Anda kalau vaksin dengan imunisasi adalah dua hal berbeda yang fungsinya memang sama-sama memberikan kekebalan tubuh terhadap virus. Namun, vaksin diberikan terlebih dahulu untuk membentuk antibodi untuk penyakit tertentu. Kemudian, baru disusul dengan memberikan imunisasi agar antibodi yang sudah diberikan menjadi semakin kuat. Beberapa vaksin untuk penyakit tertentu hanya perlu diberikan sekali, namun tetap perlu disertai imunisasi.

5. Sering beredar vaksin palsu

vaksin anak

Perbedaan vaksin palsu dan asli (Sumber: aktual.com)

Sebenarnya, vaksin palsu dapat dikenali dengan melihat kode seri (batch produksi) dan kelengkapan segel. Namun apabila ternyata sudah pernah mendapatkan vaksin palsu, sebenarnya kandungannya tidak berbahaya bagi tubuh. Biasanya, botol vaksin hanya berisikan cairan infus atau pelarut vaksin yang merupakan cairan garam. Nah, jika orang tua ingin mendapatkan vaksin yang aman, disarankan untuk pergi ke rumah sakit pemerintah dan mendapatkan vaksin secara gratis di sana. 

Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia yaitu WHO menyatakan bahwa keragu-raguan orang untuk menggunakan vaksin merupakan satu dari 10 ancaman terbesar terkait masalah kesehatan global. Gerakan antivaksin secara individu maupun per kelompok, menurut Boston Children’s Hospital justru membuat penyakit yang sebenarnya mampu dicegah malah menjadi merebak dan mengakibatkan kematian.

Nah, Smart Parents, jadi jangan sampai punya keputusan yang keliru terhadap penggunaan vaksin anak ya. Sama halnya dengan belajar, serahkan pada ahlinya untuk jadi teman belajar buah hati Anda. Gunakan ruangbelajar untuk akses ribuan video belajar, lengkap dengan soal dan rangkuman. Hanya Rp1.000/hari, download sekarang!

ruangbelajar

Beri Komentar

Recent Posts