Sekolah Waldorf: Mengenal Alternatif Belajar Anak Terbaru

Rabia Edra Sep 18, 2018 • 3 min read


Smart Parents, berbicara mengenai pilihan pendidikan terbaik untuk anak, memang tidak akan pernah selesai. Selalu saja ada inovasi serta adopsi sistem terbaru sebagai bentuk perbaikan kurikulum pendidikan atau alternatif belajar. Termasuk yang baru-baru ini mulai dikenal di Indonesia, bernama pendidikan Waldorf yang diambil dari intisari pemikiran filsuf pendidikan asal Austria bernama, Rudolf Steiner. Kini, sekolah Waldorf mulai dipercaya menjadi opsi pembelajaran baru bagi anak. Bagaimana pola pengajarannya di sekolah? Simak cerita lengkap hasil wawancara Ruangguru dengan salah satu praktisi pendidikan berbasis Waldorf, Dr. Naomi Soetikno berikut ini.

alternatif belajar

Sekolah Waldorf Jagad Alit Bandung mengajarkan anak mengelola emosi (Sumber: Facebook Jagad Alit)

"Pendidikan sekolah yang baik, seharusnya bukan hanya memprioritaskan segi kognitif atau inteligensi semata, namun juga penting mengajarkan sikap, cara berinteraksi, serta mengelola emosi," ujarnya saat mengawali penjelasan mengenai pendidikan Waldorf. Menurut Dr. Naomi, sistem pendidikan yang sudah ada sejak tahun 1919 ini, mampu mengintegrasikan semua yang dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak. Contohnya, dengan melibatkan proses karya seni imajinasi seperti berpuisi, bernyanyi, drama, bermusik, atau hal-hal yang berkenaan dengan keindahan lain di sekitar anak. Maka, dengan begitu mereka sebagai manusia akan lebih menghargai hubungan dengan lingkungannya. 

Peran seni yang cukup dominan dalam pembelajaran Waldorf juga diharapkan dapat membantu meningkatkan rasa empati yang tinggi terhadap sesama. "Bisa jadi seorang anak pintar, tapi norma sosial justru ia langgar. Lewat seni, ia bisa jadi anak yang lebih santun dalam bertutur kata dan menyadari bahwa manusia tidak akan lepas dengan sesamanya," lanjut alumni pendidikan Strata-3 (S3) Fakultas Psikologi, Universitas Padjajaran ini. 

alternatif belajar

Kegiatan yang mempioritaskan seni di sekolah (Sumber: phillywaldorf.com)

Pendidikan Waldorf pun tidak pernah menargetkan semua anak memiliki tolok ukur yang sama. Kecepatan belajar mereka, kembali pada kemampuan diri masing-masing. Oleh karena itu, tidak banyak buku pelajaran yang digunakan sekolah berbasis Waldorf. Justru, setiap anak dapat menjadi pembangkit kurikulum bagi dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat pembelajaran jenis ini tampak sulit diaplikasikan pada sekolah formal. Tidak ada kecepatan berpikir anak yang harus diukur, sangat bertolak belakang dengan standar pendidikan di sekolah nasional. "Pada intinya, proses berpikir kreatif itulah yang dikejar melalui Waldorf. Seni sebagai instrumen yang menarik bagi anak-anak untuk dieksplorasi, menjadi media belajar yang tepat. Mereka datang ke sekolah rasanya pasti jadi senang," lanjut Dr. Naomi.

Di sisi lain, tak hanya siswa yang menerima manfaat dari hal ini, para orang tua pun merasakan dampak positifnya. Setidaknya, setiap dua minggu sekali terdapat pertemuan wali murid yang berisikan kegiatan berbasis Waldorf, misalnya saja membuat kerajinan tangan atau diskusi buku bersama. Orang tua yang menginginkan agar anak dapat lebih dekat dengan seni dan lingkungannya, justru harus mencontohkan terlebih dahulu. Termasuk juga mengurangi penggunaan telepon genggam, agar dapat menjalani interaksi langsung dengan sekitar.

alternatif belajar

Partisipasi orang tua dalam belajar anak. (Sumber: Facebook Jagad Alit)

Walau sistem pendidikan sekolah Waldorf sangat jauh berbeda dengan sekolah formal pada biasanya, Dr. Naomi tetap optimis semua siswa akan bisa mengikuti paket ujian nasional sebagai syarat kelulusan dan kesetaraan ijazah. "Mereka 'kan  sudah dilatih teknik berpikir kreatif sedari dini, itu sebagai modal awal. Jadi nantinya mau menghadapi materi ujian apa saja, pasti bisa," ucap tenaga pengajar Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanegara ini.

Selain mampu menguasai pelajaran apapun, beliau juga mengharapkan semakin banyak lagi orang tua di Indonesia yang mengetahui lebih dalam tentang sekolah ini. Pasalnya, saat ini baru terdapat beberapa lokasi yang memiliki sekolah Waldorf, yaitu Jakarta, Bandung dan Bali. Itu pun masih di tahap Taman Kanak-Kanak (TK). Ke depannya, Dr. Naomi dan para penggerak Waldorf masih memiliki tantangan besar untuk melegalisasi yayasan dan juga membangun Sekolah Dasar (SD). 

Nah, bagi Smart Parents yang tertarik dengan skema pembelajaran seperti ini untuk meningkatkan nilai empati dan imajinasi berpikir kreatif, sekolah Waldorf bisa menjadi salah satu opsi yang tepat belajar anak. Anda juga bisa menyeimbangkan belajar si kecil bersama ruangbelajar dengan video pembelajaran beranimasi, latihan soal, rangkuman atau infografis, dan juga catatan belajar sesama siswa! Ayo daftar sekarang. 

ruangbelajar

Beri Komentar