Cerita Mutiara Menghadapi Masa Sulit Bersama Ruangguru

Fahri Abdillah Des 18, 2019 • 3 min read


Cerita Juara Mutiara

Artikel ini berisi tentang cerita pengalaman Mutiara yang menghadapi masa sulit di hidupnya bersama Ruangguru

--

Bulan Oktober lalu saya mendapat whatsapp dari Puti, Field Educational Consultant (FEC) Ruangguru di salah satu regional di Batam. 

Isi pesannya menggembirakan.

Puti mengirimkan screenshot pesan dari ayah Mutiara. ia berterima kasih kepada Puti karena telah mengenalkan anaknya dengan Ruangguru. Berkat ini, Mutiara mendapat peringkat 3 di kelas.

Pesan ini membuat ingatan saya melompat kembali ke dua bulan lalu, ketika pertama kali bertemu dengan Mutiara di Batam. Mutiara adalah anak ke 2 dari 2 bersaudara. Kakaknya saat ini kelas 9, satu tingkat di atasnya. Seperti halnya anak sekolah lain, Mutiara terlihat malu ketika bertemu dengan orang asing seperti saya.

Tapi, tidak seperti anak sekolah kebanyakan, masa kecil Mutiara pernah diselimuti masa sulit.

Sewaktu kecil Mutiara termasuk anak yang cerdas dan periang. Namun, saat menginjak kelas 4, ibundanya meninggal. Ini menjadi momen yang mengejutkannya. Mutiara benar-benar berubah. Ya, jangankan Mutiara yang saat itu masih dalam masa tumbuh dan lagi dekat-dekatnya dengan sang ibu, orang dewasa seperti kita pun akan merasakan hal yang sama.

Setelah itu, Mutiara tidak memiliki semangat untuk pergi ke sekolah. Tidak ada gairah untuk belajar, dan sering memilih untuk menyendiri. Cukup lama Mutiara berada dalam kondisi tersebut. Ujian Nasional SD, menjadi ketakutan terbesarnya pada saat itu. Baginya, semua menjadi amat sangat sulit.

Hal ini terus berlanjut hingga Mutiara masuk SMP. Pernah di suatu waktu, Mutiara hanya masuk 3 kali dalam 1 minggu. Bagi Mutiara, itu adalah yang terparah. Semangatnya benar-benar belum kembali untuk mengikuti proses belajar mengajar di dalam kelas. Begitu juga saat di rumah. Ia sering mengabaikan perintah ayahnya untuk belajar. Mutiara merasa tidak lagi punya teman belajar yang membuatnya semangat dan senang.

Pada saat kelas 7 semester satu, prestasi Mutiara benar-benar jatuh. Ia hanya mendapat peringkat 23 dari 30-an siswa. Ya, meskipun kita tidak bisa mengukur tingkat kecerdasan seseorang hanya dari peringkat di kelas, tetapi memang nilai-nilai Mutiara saat itu sangat menurun, dan ia mengakuinya sendiri.

Kedatangan Puti dan tim FEC Ruangguru ke sekolah Mutiara, menjadi titik awal bangkitnya semangat belajar anak ini. Saat pulang ke rumah, Mutiara menemui ayahnya, menyampaikan tentang aplikasi Ruangguru.

Melihat aplikasi belajar yang bisa digunakan tanpa harus bepergian dan bisa digunakan kapan saja, membuat ayah Mutiara tertarik. Ia menghubungi Puti, Puti datang menjelaskan, dan Mutiara pun berlangganan.

“Setelah jumpa Ruangguru ini, semangat Mutiara untuk belajar meningkat lagi. Dia lebih senang belajar, kayak ketemu teman baru yang bisa bikin terus semangat,” begitu kata ayah Mutiara.

testimoni pengguna ruangguru-1

Sekarang Mutiara sudah kelas 8. Sebentar lagi ia naik ke kelas 9. Prestasi yang kian meningkat, membuat teman-teman Mutiara sering mendekat untuk belajar bersama. Wali kelasnya pun kerap memuji kemajuannya.

“Mutiara itu banyak kemajuan, dari yang awalnya tidak tahu, sekarang jadi banyak tahu kalau di kelas saya. Keinginan belajarnya sangat kuat. Saya tengok, dia juga sering mengajak teman-temannya kalau belajar,” kata Wali kelas Mutiara.

Melihat kemajuan yang dialami oleh Mutiara, kakaknya yang berada 1 tingkat di atasnya pun ikut menggunakan aplikasi Ruangguru. Kalau kata Mutiara, kakaknya itu memang sudah pintar, dan karena ingin masuk SMA favorit, jadi belajarnya pun tambah giat.

Sedangkan Mutiara, tetap fokus memperbaiki ketertinggalannya selama ini. Terakhir, Mutiara bercerita kalau ia ingin sekali menjadi guru. Melihat apa yang selama ini dilakukan oleh guru-gurunya di sekolah, master teacher Ruangguru, Ayah dan almarhum Bundanya, benar-benar pekerjaan yang sangat keren di mata Mutiara.

Mutiara menutup obrolan dengan menyatakan pernyataan dengan penuh keyakinan.

“Walaupun aku pernah menjadi orang yang paling malas, aku pernah ditinggalin oleh orang yang aku paling sayang, tapi aku bakal ngebuktiin kalau aku pasti bisa menggapai cita-citaku.”

ruangbelajar

Beri Komentar