Ada Pasukan AFNEI Hari Ini

Kresnoadi Sep 16, 2020 • 5 min read


kedatangan pasukan afnei di tangjung priok

Artikel ini menceritakan kedatangan Sekutu dan pasukan AFNEI, tanggal 16 September 1945.

--

Belum genap satu bulan semenjak proklamasi kemerdekaan, mereka datang lagi.

Jangkar dijatuhkan. Kapal HMS Cumberland berlabuh ke pesisir Tanjung Priok. Saat itu pukul 10 pagi. Di dalamnya tidak hanya ada pasukan AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies) yang dikomandoi Laksamana Wilfried R. Patterson. Di sisi lain, van Mook, pimpinan NICA (Netherland Indies Civil Admnistration), mengutus van der Plas untuk ikut dalam rombongan.

AFNEI ingin melucuti pasukan Jepang dan mengembalikan mereka ke negaranya.

hms cumberland

Kapal HMS Cumberland (Sumber: uboat.net)

 

Datang dengan keangkuhan, mereka disambut Badan Keamanan (BKR) Laut. Perlawanan terjadi di Menara Air dan Zeeman’s Huis (mess pelaut saat itu). Pelatuk ditarik. Peluru-peluru bermuntahan. Bentrok. BKR Laut kewalahan. Matmuin Hasibuan, bos buruh Pelabuhan yang memimpin ketika itu terpaksa memindahkan markasnya beberapa kali. Dari yang semula di SMA Budi Utomo menuju Gang Z. Lalu ke kantor Jawatan Pelabuhan, sampai akhirnya mundur ke Cilincing.

 

Seminggu Sebelumnya

September adalah bulan penuh gelora. Kata “merdeka” seolah telah menjadi salam nasional. Di masa-masa ini, orang yang lalu Lalang dan berjumpa akan meneriakkan, “Merdeka, Bung!”

Tanggal 8 September 1945, ada tujuh parasut yang terbang di langit Kemayoran. Lalu satu per satu parasut itu tertutup. Kaki-kaki menapak dengan tenang tanpa ada yang tahu. Dalam HJ. Van Mook and Indonesian Independence: A Study of His Role in Dutch-Indonesian Relations 1945-1948 (1982), Cheong Yong menulis bahwa ketujuh orang ini punya misi rahasia: mengulik informasi mengenai situasi di Indonesia sejak kemerdekaan.

Tujuh orang ini adalah perwira Inggris khusus dari AFNEI. Tentu aja, kedatangan tujuh intel ini nggak sembarangan. Lima hari sebelumnya, Belanda “ikut mengompori”. van Mook, pada 3 September 1945, menemui Laksamana Lord Louis Mountbatten (pimpinan SEAC/Komando Pasifik Asia Tenggara).

Baca juga: Kedatangan Pasukan AFNEI di Indonesia

van Mook telah mendapatkan informasi dari intelijennya kalau Belanda datang ke Indonesia, ia akan menghadapi 40.000-45.000 pasukan Indonesia. Maka, ia memberitahu Mountbatten kalau Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaan.

Dari sini lah, Sekutu berjaga-jaga dan mengirim tujuh pasukan terlatih untuk mengecek situasi di Indonesia terlebih dahulu.

Van Mook pun berhihihi saja di belakang Mountbatten. Karena sebetulnya, dia juga butuh tahu situasi di Indonesia lebih dalam: agar niatnya menguasai Indonesia kembali bisa terwujud.

tugas pasukan afnei

Tujuh perwira pun menjalankan misi. Dikomandoi Mayor A.G Greenhalgh, mereka mencari info lewat orang dalam: Letjen Moichiro Yamamoto, Komandan Angkatan Darat Pemerintahan Militer Jepang yang tinggal di Jakarta.

Dengan bantuan Yamamoto, kelompok Greenhalgh berhasil mendapat banyak informasi. Dalam The Birth of Indonesia (1948), David Wehl mencoba menulis berbagai info yang didapat mereka. Beberapa di antaranya: 1) kaum nasionalis di Indonesia memimpin gerakan rakyat dan menyebarkan gerakan anti-Belanda dan Jepang. Gerakan-gerakan ini memang terbilang kurang terorganisir dengan baik, tetapi pemimpin mereka mengarahkan rakyat agar tidak terlihat memusuhi Sekutu agar bisa mempertahankan kemerdekaan. 2) tahanan perang dan orang Eropa di Indonesia membutuhkan bantuan secepatnya, dan 3) perwakilan Sekutu yang datang ke Indonesia jangan membawa Belanda agar tidak berpotensi menimbulkan konflik di masyarakat.

Yamamoto juga memberitahu agar Sekutu tidak cari perkara dengan Soekarno, Hatta, atau tokoh nasional yang berpengaruh karena bisa menimbulkan perlawanan dari rakyat Indonesia. Dan informasi tambahan lain: agar tidak menurunkan bendera Indonesia dan mengibarkan bendera Belanda.

Baca juga: Kedatangan NICA di Indonesia

Meskipun sudah tahu kalau Indonesia geram akan Belanda, NICA tetap ikut dalam rombongan. Civil Affairs Agreement yang ditandatangani pada 24 Agustus bikin Belanda bisa bonceng. Mungkin van Mook ngomong, “AFNEI, gue nebeng ya sampe Pelabuhan. Lo lucutin Jepang terserah deh. Gue mau ngecek nih. Kali aja bisa dapetin Indonesia lagi.”

Mook, Mook, nama lo gue tulis, Mook. Bapak lo baca nih Mook.

 

Oktober

Akhir September, pasukan Inggris diterjunkan ke Tanjung Priok. Oktober, Sekutu dan NICA sudah menguasai Priok. Kekuasaannya bahkan sampai ke Cilincing.

Hasibuan dan kawan-kawan tidak ingin menyerah begitu saja. Bantuan juga didapatkan dari berbagai pelosok Utara Jakarta dan Bekasi. Mereka bertahan di Jembatan Kali Kresek. Namun, Inggris yang menurunkan pesawat P-40 ke medan tempur membuat pasukan Hasibuan kelabakan.

Di saat yang bersamaan, pasukan AFNEI sudah menyebari di berbagai lokasi di Indonesia. 10 November, Sekutu menguasai Koja, Jembatan Tinggi, dan Pasar Ikan. Sementara di kota Surabaya, pertempuran panas juga sedang berlangsung.

Kedatangan AFNEI (yang diboncengi NICA) memang banyak memecah konflik. Mulai dari Palagan Ambarawa, Pertempuran Surabaya, Bojong Kukusan, Pertempuran Bogor, sampai Bandung Lautan Api.

Nah, itu tadi sekelumit cerita tentang bagaimana pasukan AFNEI datang ke Indonesia, 75 tahun lalu. Gimana, seru nggak? Kalau kamu masih penasaran dan pengin bisa lebih ngebayangin materi-materi kayak gini dalam bentuk video, yuk tonton di ruangbelajar!

ruangbelajar

 

Sumber foto:

Foto HMS Cumberland: Allied Warship [Online]. Avaiable at: https://uboat.net/allies/warships/ship/1175.html (Accessed: 15 September 2020).

Foto Sir Philip Christison - Berserker276. 2010. [Online]. Avaiable at: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sir-Alexander-Frank-Philip-Christison-4th-Bt.jpg (Accessed: 12 September 2020).

Referensi:

Yong, Cheong. (1982). HJ. Van Mook and Indonesian Independence: A Study of His Role in Dutch-Indonesian Relations 1945-1948.

Wehl, David. (1948). The Birth of Indonesia.

'Jejak di Kemayoran yang Membuka Jalan Kepada Perang Kemerdekaan', Tirto.id, 8 September 2020 [Online]. Avaiable at: https://tirto.id/jejak-di-kemayoran-yang-membuka-jalan-kepada-perang-kemerdekaan-f3Yp (Accessed: 12 September 2020).

'Merdeka Bung! Kalimat yang Paling Dibenci Tentara NICA', Republika.co.id, 10 November 2018 [Online]. Avaiable at: https://republika.co.id/berita/phx6z7282/merdeka-bung-kalimat-yang-paling-dibenci-tentara-nica (Accessed: 13 September 2020).

Beri Komentar