Sejarah Kelas 11 | Valentine Bersama Pemberontakan PETA

Kresnoadi Feb 14, 2020 • 6 min read


pemberontakan peta

Artikel ini membahas tentang pergolakan pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) pada hari valentine, 14 Februari 1945.

--

Meski manusia selalu berupaya menjauhi kesederhanaan, Sapardi berharap ia mampu mencintai dengan sederhana. Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, atau dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Di sisi lain, Eka Kurniawan merasa bahwa seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas, meski jalan di belakangnya samar-samar dan penuh dengan kegelapan.

September 77 tahun yang lalu, Raden Gatot Mangkupraja mengirimkan surat kepada gunseiken (kepala pemerintahan militer Jepang). Pada 3 Oktober 1943, surat ini mendapat balasan: lahirnya Osamu Seirei No 44. Sebuah maklumat yang memperbolehkan pemuda Indonesia membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia.

Dari sana, terbentuklah Gyugun (tentara sukarela) yang bernama Pembela Tanah Air (PETA).

Di Blitar, sore hari sepulang latihan, pasukan PETA mendengar jeritan tak enak. Asalnya dari petani. Para petani, yang merupakan rakyat asli Indonesia, meringis karena dipaksa menjual hasil padi kepada kumiai (organisasi pembeli padi).

Tentu ada sebabnya kenapa saudagar tak suka dagangannya laku. Dalam autobiografi Kemal Idris: Bertarung dalam Revolusi (1997), Kemal menulis bahwa pihak kumiai memaksa membeli padi melebihi jatah yang disepakati. Hasilnya, petani-petani ini tak punya sisa padi, bahkan untuk keluarganya sendiri.

Mereka juga mendapati Jepang membeli telur dalam jumlah banyak dengan harga murah. Pihak Jepang bilang kalau telur itu akan diberikan ke tentara PETA. Kenyataannya, telur itu entah masuk ke perut siapa.

Di waktu yang lain, tentara PETA diminta mengawasi romusa yang sedang membangun kubu di Pantai Selatan. Di saat itu balatentara PETA melihat kekejaman Jepang secara langsung. Bagaimana para romusa disiksa untuk bekerja dari dini hari sampai lewat petang.

Seperti belum cukup menjadi kaum yang menyebalkan, Jepang tidak memberi makanan dan upah kepada romusa ini hingga separuhnya jatuh sakit dan meninggal. Akhir 1944, romusa laki-laki yang tumbang digantikan perempuan. Tentu, makhluk penuh perasaan ini juga kena imbas: Jepang menyiksanya, dan sebagian dari mereka dilecehkan dan menjadi pemuas nafsu seks para tentara.

Baca juga: Dampak Imperialisme dan Kolonialisme Terhadap Indonesia 

Menyaksikan aktivitas seperti ini jelas menyakitkan. Empati melahirkan cinta yang sederhana, seperti kata yang tak sanggup diucap tentara kepada rakyat yang tak bisa melawan.

Seperti yang ditulis Joyce L. Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang (1988), Supriyadi, pemimpin pasukan PETA, diam-diam menggelar rapat rahasia. Rapat pertama diadakan di kamar asrama Suiji, kira-kira bulan Agustus. Membicarakan betapa sulitnya keadaan rakyat Indonesia yang dijadikan romusa. Rapat kedua terjadi di bulan Desember, dan ketiga pada Januari 1945. Di waktu ini lah muncul seruan untuk mengajak batalion lain untuk melakukan gerakan pemberontakan bersama.

kronologis pemberontakan peta

Tanggal sudah ditentukan: 14 Februari. Valentine. Waktu ini dipilih karena bertepatan dengan pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar. Rencananya, di pertemuan itu, mereka akan bagi-bagi coklat valentine mengajak seluruh anggota lain untuk melawan.

Sebetulnya, Supriyadi pernah menyampaikan rencananya ke Soekarno. Ketika Soekarno pulang ke Blitar, beberapa perwira PETA menyambangi kediamannya. Setelah memberitahu siasatnya, Soekarno terdiam.

“Kita akan berhasil!” kata Supriyadi, meyakinkan.

Soekarno ragu. Ia tahu jumlah pasukan dan senjata yang dimiliki Jepang dan membandingkannya dengan pasukan PETA. “Pertimbangkanlah masak-masak. Pertimbangkanlah untung dan ruginya,” nasehatnya.

Namun, siasat tinggal siasat dan nasehat cuma bumbu yang ditabur paling akhir.

Tiga hari menjelang pemberontakan, di dalam asrama PETA, seorang perwira Jepang pura-pura mabuk dan mengamuk sambil meneriakkan nama Supriyadi. Meski hanya desas-desus, kempetai (pasukan militer Jepang) sudah mengendus adanya rencana pemberontakan.

Demi berjaga-jaga, pasukan PETA menyarankan Supriyadi untuk menghindari Blitar. Setelah tiga hari bersembunyi, di hari yang telah disepakati, Supriyadi, dengan piyama lurik coklat-hijau dan keris yang tersisip di pinggang, sambil menggenggam pistol vickers, kembali muncul di asrama.

Soedjono, sang komandan regu, bergegas menuju gudang mesiu dan membagikan peluru ke awak pasukan.

Tentara PETA memecah diri menjadi tiga. Kelompok pertama bergerak ke Kediri, kelompok dua ke Madiun, dan kelompok tiga ke Malang, bertugas menguasai radio untuk mengajak batalion lain yang berada di sekitar.

14 Februari, pukul tiga dini hari, pemberontakan meletus. Di hari valentine, seperti rindu, kebebasan harus dibayar tuntas. Tentara PETA melempar mortir ke Hotel Sakura, tempat menginap perwira militer Jepang. Mereka juga menembaki markas kempetai dengan senapan mesin. Salah seorang pasukan bhudanho (bintaro) memungut poster bertuliskan “Indonesia Akan Merdeka” dan menggantinya jadi “Indonesia Sudah Merdeka!”

Sialnya, Jepang seperti sudah benar-benar tahu niat Supriyadi. Dua bangunan tersebut telah dikosongkan.

berapa gaji perwira peta

Perang pun bergulir. Kota terbakar. Ledakan memekakkan telinga. Pada 29 Februari, dalam Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno (2008), Supriyadi dan pasukan bergerak melawan tentara dini hari. Tembakan mortir dilesakkkan, senapan mesin direntet dan granat dilempar.

Tidak mau kalah, Jepang melawan balik menggunakan tank dan pesawat udara. Seperti menang senjata, mereka berhasil meredam amukan pasukan Supriyadi. Jepang kembali menguasai Blitar. Mereka menyuruh tentara PETA menyerah.

Beberapa kesatuan tunduk. Namun, mereka yang kembali justru ditangkap dan disiksa polisi Jepang. Pasukan Supriyadi dan Muradi yang bertahan tersisa setengahnya. Dengan pasukan seadanya, mereka bertahan di lereng Gunung Kawi dan Distrik Pare.

Entah bagaimana ceritanya, Supriyadi menghilang. Sebagai orang yang posisinya sama, Muradi mengambil alih tanggung jawab pasukan.

Kolonel Teisha Katagiri geregetan dengan pasukan yang ulet bertahan. Maka ia mengeluarkan jurus tipu muslihat: pura-pura menyerah.

Jepang merayu dengan bilang kalau pemberontakan ini hanya masalah internal, pasukan PETA yang memberontak akan aman, dan tidak perlu dibawa ke pengadilan militer. Persis siasat ibu-ibu yang menyuapi anaknya dengan bilang, “Ini terakhir, kok. Aaaaa!” sambil mengarahkan sendok berisi bubur bayi ke mulut anaknya. Padahal bubur di mangkuk masih ada setengah.

Muradi tidak menjawab pernyataan Katagiri dengan “iyain aja deh biar cepet”. Ia mengajukan dua syarat:

Pertama, jangan melucuti senjata anggota PETA yang tidak terlibat. Dan kedua, mereka tidak boleh diadili atas pemberontakan PETA ini.

Katagiri menyanggupi permintaan Muradi. Dalam Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial (2005), R.P Suyono menulis “Katagiri memberikan samurai kepada Muradi di depan anggota PETA dan tentara Jepang, sebagai bukti persetujuan atas ucapannya.”

Meyakinkan sekali Katagiri ini.

Pukul delapan malam, pasukan Muradi kembali ke batalion, yang, dipenuhi gerombolan tentara Jepang yang mengepung mereka. Muradi kaget. Mungkin dalam hati dia bilang: “Brengsek kau Katagiri. Nggak gini dong mainnya wey!”

Katagiri: Fufufufu~

Pemberontakan pun berakhir dengan kekalahan. Lebih dari 78 anggota PETA dibawa ke pengadilan militer. Hasilnya, Muradi dan 5 terdakwa lain dihukum mati, dan sisanya diberikan sanksi sesuai dengan kesalahan. 4 pasukan bahkan tewas ketika disiksa di dalam tahanan.

Sesaat setelah Indonesia merdeka, Soekarno mengangkat Supriyadi sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia pertama. Tapi, hingga pelantikan tiba, Supriyadi tidak muncul. Ketika melantik menteri lain, ada tulisan “Menteri Pertahanan belum diangkat”. Sampai, karena Supriyadi benar-benar tidak ada, Soekarno menggantinya dengan Imam Muhammad Suliyoadikusumo. Banyak spekulasi atas hilangnya Supriyadi ini. Ada yang mengira dia ditangkap Jepang, tertembak di Gunung Wilis saat hendak mengambil minum. Dalam Sudjojono dan Aku (2006) tertulis: “Beredar kabar yang menyebut Supriyadi melarikan diri ke Gunung Kelud.”

Gimana cerita kali ini? Kalau kamu suka belajar sejarah dalam bentuk cerita kayak gini, tulis di kolom komentar ya. Peristiwa apalagi yang mau dipelajari dengan format penceritaan kayak gini. Kalau kamu demen belajar sejarah pakai video, cus aja tonton di ruangbelajar. Di sana udah menunggu tutor ahli yang bakal ceritain kisah sejarah menarik ke kamu!

New Call-to-action

Beri Komentar