Membedah Kasus Pencurian Data: Masih Bisakah Kita Menyimpan Rahasia?

Kresnoadi

Aug 27, 2019 • 6 min read

Wow ternyata


pencurian data di internet - ruangguru

Artikel ini membahas pencurian data dan bagaimana data seseorang yang dipublikasikan di internet bisa saja diolah dan dijadikan bahan pengeruk keuntungan

--

Lima hingga sepuluh tahun lalu adalah waktu di mana media sering mengupas sindikat penculikan melalui kenalan Facebook. Iya, jangan ketawa dulu. Ini benaran lho. Masa itu memang masa di mana Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah user Facebook terbanyak di dunia. Modus operandi para penculik ini sama: mengajak berkenalan sebagai teman Facebook, lalu meminta nomor teleponnya dan mengajak ketemuan di suatu tempat.

Buat kita yang kebanyakan main Instagram, berita ini memang terkesan aneh. Namun, di tahun 2012, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat terdapat 27 kasus penculikan remaja yang bermula dari Facebook. Naik jauh dari tahun sebelumnya yang mencapai 9 kasus.

modus-penculikan-anak-lewat-facebook

Data pribadi seperti alamat rumah, tempat gym yang rutin dipakai latihan, nama mantan, café tempat nge-date, lokasi dia pas ninggalin waktu kita lagi sayang-sayangnya… eh tisu mana tisu… bentar, ini kenapa saya baper ya?

Pokoknya, segala informasi itu, telah menjadi incaran para penjahat.

Kebiasaan para pelaku kejahatan pun berubah. Mereka tidak lagi menguntit korban di gang-gang sempit, melainkan mengawasi akun media sosialnya, sebelum kemudian melakukan aksinya.

Tersibaknya modus ini membuat netizen menjadi lebih waspada dalam menyebarkan data pribadi di internet. Kita mulai menyaring siapa saja yang berhak tahu alamat dan nomor telepon kita di internet.

Namun, bagaimana kalau di balik semua usaha kita, tanpa sadar kita telah membeberkan seluruh data kita ke orang lain.

Bagaimana kalau sebenarnya, kita sudah telanjang di mata internet?

 

cambridge analytica

Pada 2016, kemenangan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump, merupakan peristiwa yang paling melekat dengan hal ini. Cambridge Analytica, perusahaan yang menangani kampanyenya terindikasi kuat melakukan pencurian data secara ilegal.

Dalam laporan yang dikeluarkan The New York Times dan The Observer, Cambridge Analytica telah mengambil data pribadi sekitar 50 juta akun Facebook pada 2014, dan terus berlanjut hingga 2016.

Ya, sebanyak itu.

Sekarang followers Instagram Awkarin aja ada 4,5 juta. Itu berarti, dengan 50 juta followers kita punya 12 Awkarin. Bayangkan. Ada 12 Awkarin di dunia ini. Betapa bad girl-nya pasti hidup ini…

Saat kita mendaftar Facebook, mengisi berbagai biodata seperti nama lengkap, email, dan nomor telepon, kita tidak pernah berpikir bahwa data-data tersebut akan digunakan orang lain untuk kepentingan mereka. Bagi kita, Facebook hanyalah tempat untuk berkomunikasi dengan teman, maupun berbagi foto-foto lama yang ada di gallery ponsel.

Kenyataannya, Facebook tidak hanya sekadar tempat berkomunikasi. Facebook telah menjelma menjadi dunia yang sangat luas. Dengan akun tersebut, kita bisa tersambung ke beberapa grup kerja profesional, mengikuti berbagai macam kuis dan permainan menarik, maupun mengirim pesan yang bersifat rahasia.

Dan, di situ lah masalahnya.

Berdasarkan majalah Time, pada mulanya Cambridge Analytica hanya meminta informasi pengguna Facebook untuk kepentingan penelitian akademik. Mereka membuat semacam kuis-kuis psikologi yang memberitahu sifat dan karakter seseorang.

Familiar dengan kuis seperti itu?

Dari sini, Cambridge Analytica mendapat dua keuntungan. Pertama, Cambridge Analytica tahu sifat, karakter, serta data kita melalui kuis tadi. Kedua, melalui mesin Artificial Intelligence (AI), Cambridge Analytica dapat mencari tahu karakter kita lewat status yang kita update, berita yang kita share, dan foto yang kita like. Mereka bahkan bisa tahu kecenderungan warna kulit seseorang hanya dari komentar yang kita keluarkan pada berita tertentu. Ini mesin AI kok kayak cewek. Kalo kepo bisa sampe dalem banget...

Hal inilah yang kemudian diolah oleh Cambridge Analytica, dan pada akhirnya memunculkan iklan yang berbeda di laman Facebook setiap orang, sesuai dengan sifat dan perilaku kita. Sehingga, pada akhirnya, tanpa sadar, kita “dicuci otak” untuk memilih salah satu kandidat pasangan presiden.

Akademisi Harvard, Shoshanna Zuboff, pada 2015, memperkenalkan istilah “kapitalisme pengawasan” yang menggambarkan pengawasan besar-besaran via internet yang mengakibatkan perubahan perilaku manusia. Serem abis gak sih?

Baca juga: DNA Menggantikan Flashdisk Sebagai Tempat Penyimpanan Data, Memang Bisa?

Dalam tulisannya di Open Democracy, peneliti dari Universitas Cambridge, Jennifer Cobbe menjelaskan bahwa tiap kali menggunakan internet, bisa jadi kita sedang menjadi subjek percobaan internet untuk mendapatkan uang secara efektif. Tanpa kita sadari, segala tindak tanduk kita di dunia maya sudah direkam, dan “digunakan” untuk memperoleh keuntungan.

Senada dengan itu, Andrew Lewis, seorang software developer juga mengatakan, “Apabila kamu mendapatkan sesuatu dengan cuma-cuma, sebenarnya kamu bukan konsumen, tetapi produk yang sedang dijual.”

Lalu, apa yang bahaya dari ini semua?

Ya kalau aplikasi Facebook bisa, bukan tidak mungkin data kamu di media sosial lain juga bisa disedot. Terlebih lagi, hampir semua aplikasi komunikasi seperti Instagram dan Whatsapp dimiliki oleh perusahaan Facebook.

pencurian data di internet - ruangguru

 

Lain di Amerika, lain di Indonesia.

Pencurian data di Indonesia tergolong lebih konvensional dan melibatkan banyak pihak. Berbeda dengan Cambridge Analytica yang langsung "mencuri" data user dari internet, pengambilan data pribadi di Indonesia lebih masuk ke ranah “jual beli data”. Biasanya, oknum akan membeli data ke makelar yang mempunyai jutaan data meliputi nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, Nomor Induk Kependudukan (NIK), nomor telepon rumah dan ponsel, nama ibu kandung, status perkawinan, email, alamat rumah, status kepemilikan rumah, tempat bekerja, alamat kantor, lama bekerja, jabatan di kantor, hingga nomor kontak darurat.

Seluruh data yang sama persis ketika kita mengisi formulir pembukaan rekening di bank atau kartu kredit.

Dari hasil video liputan Kumparan berjudul Awas Sindikat Pencurian Data Pribadi, data-data ini biasanya digunakan oknum untuk menelepon dan menawarkan kartu kredit, asuransi, dan berbagai jasa lain. Makanya, tidak jarang handphone kita “diserang” oleh telemarketer yang entah mendapat identitas kita dari mana.

jual beli data pribadi

 

Beberapa waktu lalu, berita tentang Kementrian Dalam Negeri yang memberikan akses data kependudukan kepada lebih dari 1200 lembaga pemerintah maupun swasta. Meski pihak pemerintah mengaku data yang dbagikan aman dan tidak akan disalahgunakan karena selalu dimonitor, tapi hal ini terasa cukup dilematis. Mengingat di mana seharusnya Pemerintah menjaga data pribadi warganya.

Otoritas Jasa Keuangan, sebetulnya sudah mengeluarkan peraturan melalui surat edaran OJK Nomor 14/SEOJK.07/2014 mengenai kerahasiaan dan keamanan data dan informasi pribadi konsumen. OJK juga melarang perusahaan yang bergerak di bidang jasa perbankan, gadai, asuransi, pasar modal, dan lain-lain agar tidak memberikan data atau inforamsi kepada pihak ketiga kecuali ada kesepakatan dengan konsumen.

Namun, pada kenyataannya, data-data pribadi kita telah bocor. Dan justru diperjualbelikan atau dimanfaatkan.

Sebelum menutup tulisan ini, coba kamu jawab satu pertanyaan terakhir ini:

Di era sekarang ini, masih kah kita bisa menyimpan rahasia pribadi?

Gimana pendapatmu? Coba tulis di kolom komentar yuk! Ternyata, hal yang kita anggap sepele bisa digunakan kelompok tertentu untuk kepentingannya dan dampaknya berbahaya. Kalau kamu ingin mempelajari materi pelajaran sekolah yang penuh konsep dan seru kayak gini, cobain aja tonton videonya di ruangbelajar!

ruangbelajar

 

 

Beri Komentar

Recent Posts