Perjuangan Rozy, Si Putra Sorong yang Sukses “Mendarat” di ITB

Fauzia Astuti

Nov 5, 2019 • 4 min read

Cerita Juara


rozy-beasiswa-itb

Artikel ini menceritakan perjuangan Rozy dari Sorong, sampai akhirnya bisa berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

--

Apa sih yang kamu bayangkan ketika dengar nama Kota Sorong? Letaknya di Papua Barat membuat belum banyak fasilitas yang ada seperti di Pulau Jawa, terutama dalam hal pendidikan. Dilansir dari antaranews.com pada November 2018, Sorong masih minim dengan tenaga pendidik. Selain itu, masyarakatnya juga belum sepenuhnya terbuka dengan kedatangan tenaga pendidik. Hasilnya, seperti yang dikatakan Ketua Gugus Tugas Papua UGM, Bambang Purwoko, bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua dan Papua Barat menjadi lebih rendah dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

Keadaan tersebut, membuat Fardoni Rozy Saputra, siswa SMA Averos Sorong, penasaran mengunjungi Pulau Jawa sekaligus mencicipi pendidikan di pulau terpadat di Indonesia ini. Ia memulai usaha pertamanya melalui seleksi lomba. Sayang, anak yang lahir dan besar di Papua Barat ini berkali-kali ditolak pihak sekolah dan Kemdikbud untuk mengikuti Lomba Sains Nasional di Jakarta. Alasannya, karena nilainya belum cukup. Namun, ia tidak menghentikan upayanya begitu saja. Dua tahun mencoba, semua kerja keras pun terbayar.

masuk ITB

Rozy (kanan) di ASEAN-CHINA STEM Camp for Youth Singapura (Sumber: dok. pribadi)

Impian Rozy, begitu panggilan akrabnya, untuk naik pesawat ke Pulau Jawa pun terwujud. Bahkan, ia sudah pernah terbang jauh sampai Singapura. Beberapa prestasi yang pernah diraih Rozy antara lain, menjadi perwakilan Papua Barat pada Olimpiade Sains tingkat Nasional 2018, dan delegasi Indonesia untuk ASEAN-CHINA STEM Camp for Youth di Singapura. Tidak hanya di luar sekolah, Rozy juga aktif dalam berbagai kegiatan intra sekolah, seperti klub robotik dan KIR (Karya Ilmiah Remaja).

Rozy memang merasa bangga dengan segala prestasi yang diraihnya di luar sekolah, tapi ternyata hal tersebut berdampak pada nilainya di sekolah. Mulai dari semester 5, nilainya anjlok. 

“Aku pernah satu bulan nggak masuk sekolah sama sekali,” akunya.

Ia tentu tidak ingin menyalahkan kesibukan perlombaan. Namun di satu sisi, ia tidak bisa memungkiri jika kesibukannya itu membuat harus mengubur harapannya untuk ikut di jalur SNMPTN. Sebab, ia tidak bisa memenuhi syarat utama dari sekolah, yaitu nilai yang selalu naik dari semester 1-5. 

rozy-beasiswa-itb-2

Satu jalan tertutup, membuat anak pertama dari dua bersaudara ini tidak mau main-main untuk persiapan UNBK dan UTBK. Meski ia mengaku belum siap karena hampir semua waktunya sejak Juli-Desember 2018 dihabiskan untuk persiapan kompetisi dari Kemdikbud. Pertanyaannya adalah, bagaimana bisa mengejar ketertinggalan?

Baca juga: Dayat: Anak di Pedalaman Aceh yang Lulus SNMPTN untuk Gelar Ganda

Ada masalah, pasti ada solusi. Rozy akhirnya direkomendasikan bimbel online Ruangguru oleh teman kelasnya. Sejak saat itu, Ruangguru hadir menjadi teman belajarnya. 

“Mulai belajar itu sulit, istiqomah belajar juga sulit. Tapi ingat, bersama kesulitan ada kemudahan.”

rozy-beasiswa-itb-3

Rozy dan kawan-kawan di Indonesia Science Expo 2018 (Sumber: dok. pribadi)

Alhamdulillah semua terkejar berkat Ruangguru,” ucap anak laki-laki berdarah Jawa dalam wawancaranya bersama Ruangguru.

“Materinya nggak jauh berbeda dengan yang di sekolah. Tapi, dengan penjelasan menarik dan video animasi, semua jadi lebih mudah dipahami. Apalagi ditambah latihan soal untuk menguji kemampuan.”

Menurutnya, tryout UTBK Ruangguru sangat membantu untuk memahami gambaran mengenai ujian yang akan dihadapi. Pelajaran yang sempat tidak dimengerti di sekolah pun dapat dipahami lewat video dan tutor interaktif Ruangguru.

Kurang dari 6 bulan selama setiap hari ia belajar di Ruangguru, Rozy berhasil lolos di 2 perguruan negeri sekaligus, FITB (ITB) jalur SBMPTN dan Teknik Kimia (UGM) jalur prestasi. Namanya pun tercatat sebagai penerima beasiswa. Dengan pertimbangan ekonomi, Rozy akhirnya memilih ITB karena beasiswa yang didapat mengharuskan ia berkuliah di kampus kebanggaan presiden pertama Indonesia itu. 

Sekarang, Rozy berhasil meraih mimpi terbesarnya—menikmati pendidikan di Pulau Jawa. Tapi, itu bukan berarti Rozy puas diri. Di kampus pun, mahasiswa Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini tetap aktif mengikuti kegiatan. Ia kerap mengikuti UKM Gamais (keagamaan), Unit Kegiatan Irian, Robotika, dan juga aktif dalam kegiatan di asrama.

Tidak ada yang tidak mungkin. Cerita Rozy yang tinggal di Sorong untuk bisa “naik pesawat” ke kampus favorit seperti ITB adalah salah satu bukti bahwa kerja keras pasti membuahkan hasil. Ruangguru hadir menjadi solusi bagi yang memiliki kekhawatiran seperti Rozy. Jadi, kamu yang juga punya keluhan sepertinya, nggak perlu khawatir lagi. Ada ribuan video belajar di ruangbelajar yang bakal bantu kamu memahami materi pelajaran lebih mudah.

ruangbelajar

Beri Komentar

Recent Posts