Rahasia Pola Asuh Bunda Lily hingga Anak Tembus di Beragam Olimpiade Internasional

Rabia Edra Nov 19, 2019 • 5 min read


pola asuh

Artikel ini berisi cerita pola asuh bunda agar anaknya selalu mandiri dan berprestasi .

---

Wah, anak itu pintar banget, dia makan apa ya? Mesti belajar melulu kali ya, apa anakku disuruh begitu juga di rumah? Hmm, sering nggak sih orang tua punya rasa penasaran gimana pola asuh supaya terbaik anak berprestasi? Berharap buah hatinya bisa kayak anak lain yang juara di sekolah. Tapi, gimana ya? Orang tua nggak perlu galau lagi. Kita simak yuk cerita Ibu Lily yang sukses mengantarkan anaknya Kyle jadi langganan juara olimpiade.

Lho, bukannya nggak baik ya membandingkan pola asuh? Eits, membandingkan nggak selamanya berdampak negatif. Menurut Psikolog Sosial Amerika Serikat Leon Festinger, jika usaha membandingkan dengan orang lain ditarik pada garis positif, maka motivasinya akan berbuah jadi evaluasi diri. Hal ini, akan mendorong orang tua menjadi lebih baik.

Sebaliknya, jika motivasi membandingkannya ada pada garis negatif, maka akan menjadi insecurities atau rasa nggak aman. Alhasil, orang tua akan merasa inferior alias rendah diri dan terhambat perkembangannya. Nah, cerita berikut tentunya bisa sebagai penambah wawasan untuk membandingkan diri secara positif. Biar nggak kelamaan, langsung kita bahas aja praktiknya.

pola asuh - leon festinger

---Wawancara bersama Bunda Lily---

Ruangguru: Halo, Bunda Lily. Boleh cerita nggak gimana strategi Ibu bisa ‘mengenali’ anak dengan baik?

Bunda Lily: Halo juga, Ruangguru. Pertama, yang pasti karena saya mengurus dari kecil jadi tahu Kyle seperti apa saat belajar, bermain, dan di aktivitas sehari-hari lainnya. Kedua, saya juga memperhatikan interaksinya dengan guru dan teman di sekolah. Ternyata dia dikenal sebagai anak pendiam, cool, tapi juga masih mau bermain. Ketiga, saya selalu intens berkomunikasi sekaligus bertanya apa keinginannya.  

Ruangguru: Value apa aja yang Ibu tanamkan sejak dini ke anak?

Bunda Lily: Jadi anak yang selalu mau belajar dan mandiri. Apalagi di usia sekolah seperti ini, penting rasanya untuk menanamkan tanggung jawab ke anak. Supaya ketika mau ujian, ulangan, bahkan olimpiade bisa mempersiapkan diri sendiri tanpa ketergantungan dengan orang tua. Bahkan, ketika harus ikut kompetisi di luar kota, dan orang tua tidak bisa mendampingi, juga bisa berangkat sendiri. 

Ruangguru: Gimana caranya meyakinkan anak bisa melakukan itu semua?

Bunda Lily: Sebenarnya karena sedari kecil Kyle selalu saya buat suasana yang fun saat belajar. Sepulang sekolah, kami sering latihan matematika dan menjadikan itu kayak rutinitas aja. Akhirnya, belajar bukan lagi jadi kewajiban tapi justru kebiasaan. Saya bersyukur, pas udah besar begini nggak harus nyuruh karena udah tau sendiri, kapan harus belajar.   

Kalau soal mandiri, sebenernya karena sering saya tinggal di rumah. Kalau saya dan suami harus ke luar kota bersamaan, anak-anak ‘kan tetap harus sekolah jadi memang nggak diajak. Dengan begitu, karena udah sering apa-apa sendiri, dia nggak bingung kalau mau menyiapkan kebutuhan sehari-hari. Tapi, yang penting walau jauh tetap dipantau. Jadi, nggak dilepas sepenuhnya gitu aja, saya tetap tanya gimana kegiatannya dan apa yang mamanya bisa bantu. 

Ruangguru: Bagaimana Bunda berusaha memenuhi keinginan anak?

Bunda Lily: Pastinya nggak mungkin langsung mewujudkan ya, tapi lebih ke support dia supaya bisa mendapatkan yang dia inginkan atau cita-citakan. Jadi, tetap usaha sendiri. Misalnya, dia mau persiapan olimpiade atau lomba apapun, berarti orang tua bertugas membuat suasana belajar anak sekondusif mungkin. Atau seperti sekarang ini, Kyle lagi mau persiapan untuk bisa kuliah ke Jepang dengan beasiswa, saya juga konsentrasi cari informasi gimana bisa bersekolah di sana, jenis beasiswanya apa saja, dan juga menemaninya belajar untuk tes IELTS.

Ruangguru: Prestasi apa yang menurut Bunda sangat membanggakan dari Kyle?

Bunda Lily: Mungkin prestasi paling tinggi yang sudah dia capai sampai sekarang, bisa ikut Singapore International Mathematics Olympiad Challenge (SIMOC) dan dapat silver medal. Saya memang suka Matematika dan happy ketika bisa mengajarkan ke anak. Ternyata direspon positif juga sama dia, dan bisa sampai ke tahap olimpiade internasional itu sangat membanggakan buat saya.

pola asuh

Ruangguru: Di balik prestasi, seorang anak juga pasti punya kekurangan. Apa yang Bunda lakukan agar anak bisa mencari solusinya?

Bunda Lily: Meski Kyle itu tenang dan pendiam, justru dia nggak suka suasana belajar yang juga tenang, misalnya membaca buku. Jadi, dia kesulitan ketika harus berhadapan dengan pelajaran yang harus menghafal seperti Biologi dan Sejarah. Nah, untungnya dia menyadari kekurangan ini sedari awal, lalu saat ngobrol masalahnya sama teman ternyata, dia dapat referensi belajar di luar kebiasaannya.

Kyle menemukan video animasi, jadi dia hanya cukup perlu fokus dengan melihat dan mendengarkan. Nggak terlalu banyak membaca. Selama dia bisa menemukan cara yang tepat untuk membantu kekurangannya, saya pasti akan support juga. Dengan begitu, belajar dia bisa jadi lebih imbang, nggak cuma dominan ke matematika terus.

Ruangguru: Kyle senang berkompetisi, bagaimana Bunda mendampinginya ketika gagal?

Bunda Lily: Saya selalu terapkan menang atau kalah itu hal biasa saat lomba. Dia nggak boleh jadi anak yang mudah putus asa, dan harus terus berusaha di berbagai perlombaan lainnya. Pernah ada satu kali, dia mau mundur dari suatu kompetisi. Padahal sudah lulus untuk ke tahap final, setelah mengalahkan ratusan siswa dari seluruh SMA terbaik di Indonesia. Alasannya, di babak final dia harus berhadapan dengan yang sudah biasa jadi lawannya saat lomba.

Dari lomba di dalam sampai di luar negeri, ya ketemunya sama dia. Lawannya saya akui memang pintar luar biasa dan cepat sekali kalau menjawab. Skor Kyle biasanya hanya setengahnya dari skor dia. Wajar jadinya kalau dia sering menang. Misalnya dia dapat gold, biasanya Kyle yang dapat silver. Begitu terus. Jadi setelah sekian banyak kompetisi, dan harus ketemu lagi, makanya semacam udah trauma gitu. Dia nggak mau berangkat ke Jakarta untuk lanjutin babak final. Karena udah tau pasti nggak bisa menang. 

Saya selalu bilang kalau lomba itu bukan cuma untuk cari piala, tapi juga pengalaman. Walau lawan lombanya tetap sama, saya yakin pasti proses yang dilalui dan pengalaman yang didapat akan berbeda. Teman-temannya juga akan bertambah, karena ‘kan bukan hanya mereka berdua saja yang berlomba. 

Dan kalau dia sudah merasa nggak percaya diri, kami sekeluarga akan mendukung dia saat pertandingan. Padahal, mungkin itu hal yang jarang kami lakukan. Setidaknya, saat dia harus kalah dan gagal dalam lombanya, dia bisa melihat kami yang selalu bangga dengan apapun pencapaiannya. 

Bagi Bunda yang juga ingin memberikan pengalaman terbaik untuk anak, ajak Ruangguru untuk jadi teman belajarnya. Lewat ribuan video belajar beranimasi yang disertai latihan soal dan rangkuman berinfografis membuat anak semakin menguasai semua pelajaran dengan fun. Kini, belajar berasa main game!

New Call-to-action

Beri Komentar