Sejarah Banjir Jakarta, dari Tarumanegara Sampai Pemerintahan Belanda

Fahri Abdillah Jan 9, 2020 • 5 min read


Sejarah Banjir Jakarta

 

Banjir Jakarta kembali terjadi di awal tahun baru 2020 masehi. Sejak kapan sih Jakarta bermasalah dengan banjir? Bagaimana menanggulangi banjir Jakarta?

--

Hujan dengan intensitas tinggi di penghujung tahun 2019 sampai di tahun baru 2020, sepertinya membuat banyak orang di Jabodetabek, khususnya Jakarta, mengalami kerugian yang cukup atau bahkan banyak banget.

Mulai dari abang-abang kembang api yang dagangannya jadi sepi, abang terompet yang terompetnya jadi sembleb (tidak berbunyi seperti seharusnya), dan kamu-kamu yang nggak jadi kumpul sama temen-temen buat merayakan tahun baru 2020 masehi ini.

Tapi itu belum seberapa, dibandingkan musibah banjir yang menimpa warga Jabodetabek. Selama 1-3 hari, kota-kota itu lumpuh akibat banjir besar yang merendam tempat tinggal mereka. Barang elektronik, pakaian, sampai berkas penting banyak yang rusak. Sampai-sampai, memakan korban jiwa.

Kalau kita analisa dari setiap tahunnya, saat musim hujan datang, Jakarta selalu menjadi kota yang terparah mengalami banjir. Saat musim kering, juga yang terparah mengalami kekeringan. Hmm, kenapa ya Jakarta ini kok terus-terusan bermasalah sama air? Apakah butuh avatar sang pengendali air?

Nah, menurut hasil penelusuran tim ruangbaca, ternyata musibah banjir di Jakarta ini sudah terjadi sejak kerajaan Tarumanegara berdiri lho. Ya, kira-kira 15 abad yang lalu lah.

Sudah sejak saat itu, banyak orang yang heran, kenapa masih banyak yang mau singgah dan tinggal di Jakarta. Padahal kota ini, dulunya itu sebagian besar adalah rawa-rawa, kemudian terpisah dari teluk, dan dipisahkan oleh lumpur-lumpur gosong. Jadi ya kalau lagi kemarau jadi kering, kalau musim ujan jadi banjir.

Terus nih, kamu tahu nggak kalau dulu itu, ternyata Jakarta adalah bandar tempat kapal-kapal pedagang singgah lho. Namanya bandar Jakarta atau bandar Jayakarta, dan Ciliwung sebagai muaranya. Jadi, pada saat itu, banyak kapal-kapal pedagang dari Belanda yang singgah untuk berdagang.

Nah salah satu pedagang asal Belanda itu mengamati, dan mengatakan kalau Jakarta memiliki penataan air yang sangat buruk. Wiih keren ya, sambil berdagang, nyambi jadi pengamat. 

Meskipun sangat buruk, Jakarta tetap memiliki daya tarik yang besar. Hah? Kok bisa gitu ya? Lho iya, bahkan pada tahun 1612, berdiri gudang sekaligus kantor, dan juga pangkalan di muara Ciliwung. Tempat itu dijadikan pusat perdagangan, dan juga tempat bertemunya kapal-kapal Belanda.

 

Sejarah Banjir Jakarta.2

 

Udah tau kan alasan kenapa Jakarta tetap diminati?

Jadi, ternyata selain sudah banjir sejak dulu, Jakarta juga sudah menjadi pusat bisnis toh. Nah karena kota ini dijadikan pusat bisnis, maka Belanda pun mulai memikirkan bagaimana caranya supaya tidak terus menerus bermasalah dengan banjir.

Penanggulangan Banjir Jakarta

Belanda mulai melakukan pembangunan kota Jakarta, dengan meniru dan menggunakan pola perencanaan salah satu kota di Belanda. Dilakukanlah penggalian untuk membuat terusan-terusan yang berhubungan dengan sungai Ciliwung, yang merupakan sungai besar. Ada 2 model terusan yang dibuat. Pertama, terusan yang memotong-motong kota. Kedua, terusan yang dibuat dengan melingkungi kota.

Tujuan dari terusan pertama adalah sebagai drainase dan juga lalu lintas air. Agar saat musim hujan datang, air bisa tersebar-sebar dan secara efektif dapat mengalir ke hilirnya. Kalau tujuan terusan yang kedua, hanya sebagai pertahanan saja.

Pembuatan terusan-terusan sungai ini mengalami kendala. Air-air yang mengalir di sungai, membawa lumpur dari pegunungan, dan mengakibatkan pendangkalan. Untuk mengatasi itu, kemudian dilakukanlah pengerukan-pengerukan.

Kemudian, sekitar abad ke 17, sistem terusan-terusan yang telah dibuat, diperluas ke wilayah-wilayah di luar kota. Hal tersebut penting dilakukan karena terusan yang dibuat itu bisa mengaliri persawahan dan juga ladang tebu.

Masalah Sampah dan Lumpur

Banyak cara yang sudah dilakukan sejak dahulu, sampai dibuat terusan untuk bisa memecah debit air saat musim hujan, tapi masih aja banjir tidak terhindarkan. Ternyata, yang menjadi masalah adalah, kebiasaan orang-orang yang sejak dulu sering membuang sampahnya ke sungai.

Sejak tahun 1600-an, penduduk Batavia sudah memiliki kebiasaan buruk itu. Misalnya seperti membuang sampah rumah tangga, kotoran kuda, sampah pembungkus belanjaan, sampah-sampah jalanan, dan sampah-sampah lainnya. Semua itu dibuang dan diceburkan langsung ke sungai.

Belum lagi, masalah lumpur yang terbawa dari pegunungan, dan limbah yang berasal dari kilang-kilang gula, membuat sungai menjadi dangkal dan tercemar.

Tidak rutinnya melakukan normalisasi atau pengerukan, membuat kerja-kerja pembuatan terusan itu menjadi tidak efektif lagi.

Sejarah Banjir Jakarta.1

Pembuatan Banjir Kanal

Sejak kejayaan Tarumanegara, kemudian berganti ke pemerintahan Belanda, kemudian Inggris, kemudian Belanda lagi, banjir Jakarta masih juga belum teratasi. Akhirnya pada tahun 1911, seorang anggota dewan Kota Batavia yang bernama Ir. Hendrik Van Bareen, mengajukan proyek penataan air, yaitu banjir kanal.

Selain anggota dewan kota, Hendrik Van Bareen pernah bekerja sebagai Insinyur Sipil bagian Pengairan, Departemen Pekerjaan Kolonial. Ia juga merupakan seorang Guru Besar Sekolah Tinggi Teknik Bandung.

Tahun 1913, proyek banjir kanal mulai dijalankan. Pembuatan saluran dilakukan mulai dari pintu air Manggarai, kemudian menelusuri pinggiran-pinggiran kota bagian selatan dan barat. Kemudian, terakhir akan bermuara di Muara Karang. Bagian ini selesai di tahun 1919.

Proyek pembangunan kanal Van Bareen ini membuahkan hasil. Saat itu kira-kira penduduk Jakarta hanya sebanyak 300.000 jiwa. Akan tetapi, lambat tahun penduduk Jakarta semakin meningkat. Peningkatannya sangat pesat.

Meningkatnya jumlah penduduk ini, tidak direspon cepat oleh pemerintah kolonial. Termasuk ide dan proyek-proyek yang sudah dirancang oleh Van Breen, pun tidak ditindaklanjuti, ya termasuk kanal-kanal banjir yang melingkari Jakarta itu.

Akibatnya, sampai jumlah penduduk Jakarta yang pada tahun 1961 mencapai 3 juta jiwa, bencana banjir pun tidak bisa lagi dihindarkan. Menurut data yang ditampilkan pada databoks katadata.id, tahun 2018, penduduk Jakarta mencapai angka 10,4 juta jiwa.

Oh ya, Hendrik Van Breen ini juga yang merampungkan Bendungan Katulampa, dan membuatnya menjadi permanen lho.

Nah, ngomongin soal banjir yang baru saja terjadi, segenap tim ruangbaca, mengucapkan turut berduka cita ya. Semoga teman-teman semua cepat pulih, dan bisa kembali beraktifitas seperti biasanya. Kamu bisa kembali bermain, bekerja, sekolah, membaca artikel ruangbaca, belajar pakai ruangbelajar, dan juga berkumpul bersama keluarga.

New Call-to-action

Artikel Lainnya

Beri Komentar