Sejarah Ketupat: Kenapa Ketupat Selalu Ada Setiap Lebaran?

Riza Miftah Muharram

May 29, 2019 • 3 min read

Wow ternyata


WT_-_Sejarah_ketupat_lebaran_di_Indonesia-01

Sejarah ketupat sampai bisa jadi makanan khas saat lebaran tiba ternyata sangat menarik, lho. Penasaran asalnya dari mana?

--

Menjelang lebaran, salah satu hal yang pasti selalu disiapkan adalah ketupat. Penganan unik yang satu ini seolah sangat erat kaitannya dengan lebaran ya, Squad. Tapi, tahukah kamu gimana sejarahnya ketupat bisa jadi makanan khas lebaran? Yuk kita kenalan dulu sebelum bersiap menenggelamkannya ke kuah opor!

Menurut Hermanus Johannes de Graaf, seorang sejarawan Belanda yang mengkhususkan diri menulis sejarah Jawa, dalam karya tulisnya Malay Annual, ketupat yang terbuat dari beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda itu pertama kali muncul di Tanah Jawa sejak abad ke-15, pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.

Oh iya, sudah tahu dong Squad sejarah mengenai Kerajaan Demak? Wah, kalau belum tahu, coba deh langganan fitur ruangbelajar. Kamu akan belajar sejarah dengan video animasi yang menarik dan tentunya bisa banyak menambah wawasanmu.

Jadi kala itu, adalah Sunan Kalijaga yang memperkenalkan ketupat pertama kali dalam rangka untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa yang notabene "sulit di-Islamkan" karena masyarakat Jawa sudah punya sistem kepercayaan sendiri yang dikenal sebagai Kejawen.

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya. Ketupat merupakan salah satunya yang dipilih karena dianggap bisa dekat dengan kebudayaan masyarakat Jawa saat itu.

Berkat ketupat, penyebaran agama Islam pun akhirnya bisa diterima luas, banyak yang pada akhirnya memeluk agama Islam.

sejarah ketupat

Nah, filosofi ketupat sendiri begitu dalam lho, Squad.

Mulai dari penggunaan daun kelapa muda sebagai bungkusnya saja sudah menggetarkan hati. Ya gimana nggak, daun kelapa muda yang dalam bahasa Jawa disebut juga sebagai janur merupakan akronim dari "Jannah Nur" atau "Cahaya Surga".

Baca juga: Intip Keseruan Tradisi Lebaran di Berbagai Negara

Nggak cuma itu, janur juga kadang dianggap merupakan akronim dari "Jatining Nur", atau yang dalam bahasa Jawa memiliki arti "hari nurani". Filosofinya, saat lebaran, kita harus membersihkan hati dari segala macam hal negatif sehingga bisa kembali ke fitri, kembali suci dengan saling memaafkan.

Selain itu, pembuatan ketupat yang harus dianyam dengan rumit itu juga punya makna tersendiri. Kerumitan anyaman ketupat menggambarkan keragaman masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturahmi. Sementara itu, beras dimaknai sebagai nafsu duniawi.

sejarah ketupat

Nggak ketinggalan, bentuk segi empat ketupat yang begitu khas menggambarkan prinsip "kiblat papat, limo pancer (empat arah, satu pusat)", yang memiliki makna "ke mana pun manusia melangkah, pasti akan kembali pada Allah".

Bentuknya yang punya empat sisi itu juga melambangkan empat macam nafsu dasar manusia, yaitu amarah (emosi), lawamah (lapar dan haus), sufiah (nafsu untuk memiliki sesuatu yang bagus atau indah), dan muthmainah (memaksa diri). Keempat nafsu dasar ini dikendalikan saat puasa. Dengan memakan ketupat saat lebaran, seseorang sudah dianggap mampu menahan nafsunya.

Baca juga: Keragaman Budaya Indonesia dalam Menyambut Ramadan dan Idul Fitri

Secara keseluruhan, ketupat memiliki makna sebagai nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani.

Wah, berat juga maknanya ya, Squad! Sejak disebarkan oleh Sunan Kalijaga, tradisi membuat ketupat saat lebaran pun terus dilakukan hingga saat ini. Bahkan nggak hanya masyarakat Jawa saja yang membuat ketupat, tetapi juga masyarakat di luar Jawa.

Itu dia Squad sejarah ketupat sampai akhirnya bisa menjadi makanan khas ketika lebaran di Indonesia. Sudah siap makan ketupat berapa ikat nih di lebaran kali ini?

ruangbelajar

Beri Komentar

Recent Posts