Sosiologi Kelas 10 | Peringatan Hari Guru, Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

Sosiologi_10_-_Peringatan_hari_guru-01

Dalam memperingati hari guru, artikel ini membahas tentang gejala sosial yang terjadi dalam lingkup dunia pendidikan. Seperti kasus pelecehan seksual yang menimpa Baiq Nuril dan juga kasus-kasus lainnya

--

Baiq Nuril, Ibu dari 3 (tiga) anak sedang berhadapan dengan anak sulungnya. “Ibu mau sekolah lagi, Nak,” dengan sorot mata kosong ia berbicara kepada si sulung.

“Ngapain sih Bu, 'kan udah cukup sekolahnya,” si sulung tahu kalau ibunya sekolah itu memakan waktu cukup lama. Ia sedih jika harus berpisah dengan ibunya untuk waktu yang tidak sebentar.

Baiq Nuril terpaksa berbohong kepada anaknya setelah ia dilaporkan oleh mantan Kepala Sekolah SMA 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat ke Mahkamah Agung. Muslim, nama Kepala Sekolah itu, sebelumnya ia telah dimutasi dari SMA 7 Mataram karena telah melakukan pelecehan seksual secara verbal kepada Nuril melalui saluran telepon.

Nuril sudah cukup risih dengan perlakuan Muslim, hampir setiap hari ia ditelepon Muslim. Muslim selalu menceritakan hal-hal yang sensitif dan mengandung unsur pornografi. Beberapa kali Nuril sudah memperingatkan untuk tidak bercerita hal seperti itu, namun tidak ditanggapi oleh Muslim.

Karena tindakan Muslim yang sudah keterlaluan, akhirnya Nuril merekam pembicaraan mereka, kemudian meminta bantuan temannya yang bernama Imam Mudawin untuk melaporkan ke Dinas Pendidikan.

Setelah dilaporkan, barulah Muslim dimutasi dari SMA 7 Mataram. Namun, ternyata Imam menyebarkan rekaman tersebut tanpa sepengetahuan Nuril. Muslim tidak terima, malah Baiq Nuril yang dilaporkan dengan tuduhan melanggar pasal 7 ayat (1) UU ITE.

Laporan Muslim sempat ditolak oleh Pengadilan Kota Mataram dan hakim membebaskan Nuril, akan tetapi jaksa penuntut umum justru mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Hakim Mahkamah Agung yang juga seorang perempuan, memutuskan Baiq Nuril bersalah. Nuril dijatuhi hukuman 6 bulan penjara dan denda 500 juta.

“Iya Nak, tapi Ibu tetap harus sekolah, doakan Ibu sehat ya,” matanya berkaca-kaca, Baiq Nuril menahan air matanya. Ia masih berharap keadilan akan datang pada dirinya.

Baiq Nuril

Squad, tahu nggak sih kalau kasus pelecehan seksual yang menimpa Baiq Nuril, menambah daftar catatan kasus pelecehan seksual yang terjadi di instansi pendidikan kita, seperti sekolah dan universitas.

Seorang mahasiswi bernama Rena (bukan nama sebenarnya) menceritakan kisah pelecehan seksual yang menimpanya kepada salah satu penulis Tirto.id. Sewaktu SMP, saat itu umurnya 13 tahun, ia pernah mendapat perlakuan yang tidak sopan dari salah satu guru biologi SMP-nya. Saat itu ia sedang presentasi di depan kelas, sang guru kemudian mengejek kalau payudaranya itu terlalu kecil.

“Kalau umur segini masih wajar kecil, pakai (kutang) memang masih yang ukuran segini.” Begitu kalimat yang keluar dari guru biologi Rena. Ketika itu sang guru menghampirinya dan meraba pundaknya untuk menyentuh tali kutang Rena.

Semua siswa di kelas pun tertawa mendengar perkataan sang guru biologi. Sejak saat itu, Rena terus diolok-olok oleh rekan-rekan sekelasnya. Kejadian itu masih membekas dan membuatnya tidak percaya diri di depan umum sampai saat ini.

Kasus yang menimpa Baiq Nuril dan Rena, merupakan fenomena gejala sosial yang terjadi dalam lingkup dunia pendidikan kita. Kita bisa mengartikan gejala sosial sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Emile Durkheim

Kita bisa melihat kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi di dunia pendidikan ini dari sudut pandang sosiologi, yaitu 3 tingkatan gejala sosial. Tiga tingkatan gejala sosial menurut Norman Blaikie adalah gejala sosial mikro, meso, dan makro.

Gejala Sosial Mikro

Sejauh mana interaksi yang terbangun antara guru dengan siswa, guru dengan guru/bagian administrasi dan umum, kepala sekolah dengan guru/bagian administrasi dan umum.

Interaksi guru biologi tadi terhadap siswinya, bisa dikatakan melecehkan karena ia mengejek ukuran payudara siswinya dan membuat siswa-siswi lain mengolok-olok sang siswi. Hal ini melenceng dari fungsinya sebagai tenaga pendidik yang seharusnya mampu mengarahkan peserta didik untuk berfikir secara ilmiah.

Begitu juga dengan interaksi Muslim (Kepala Sekolah) terhadap Baiq Nuril (Tata Usaha). Bahasa-bahasa yang dilontarkan Muslim sudah membuat Nuril risih. Nuril merasa, interaksi yang terlalu sering dilakukan oleh Muslim terhadap dirinya sudah di luar batas, maka dari itu ia melaporkannya kepada Dinas Pendidikan setempat.

Gejala Sosial Meso

Gejala ini terjadi pada lingkup organisasi, kelompok masyarakat, gerakan sosial, dan massa.

Masyarakat meminta hakim MA menggagalkan putusannya terhadap Baiq Nuril. Gerakan masyarakat mendukung keadilan bagi Baiq Nuril ramai tersebar di media sosial, dan berbagai elemen masyarakat meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan kasus-kasus yang sering terjadi di dalam institusi pendidikan, baik yang menimpa murid, tenaga pendidik, dan pekerja lainnya.

Gejala Sosial Makro

Gejala sosial makro berpengaruh pada aspek-aspek masyarakat. Ketidaktegasan institusi pendidikan (kementerian dan dinas) dalam menyikapi kasus-kasus pelecehan seksual, bisa berdampak pada kembali terjadinya kasus tersebut dalam lingkup sekolah atau universitas.

Begitu juga dengan lembaga hukum, belum dibuat dan diterapkannya Undang-Undang penghapusan pelecehan seksual, memperlihatkan ketidaktegasan dan kurangnya perhatian lembaga hukum pada kasus-kasus pelecehan seksual yang semakin sering terjadi.

Infografik tirto

Infografik dari Tirto.id menggambarkan kondisi sekolah kita akhir-akhir ini

Nah Squad, gejala-gejala sosial yang dicontohkan tadi, adalah gejala sosial yang seringkali terjadi di sekolah dan universitas. Selain pelecehan seksual, ada juga intimidasi, bullying, dan kenakalan anak-anak yang diluar batas.

Seperti kasus yang menimpa Pak Joko Susilo, Guru SMK NU 03 Kaliwungu Kendal yang dibully oleh siswa-siswanya. Kemudian ada pula Pak Dika, Guru Sejarah SMA 13 Depok yang dimutasi oleh sekolah karena mengkritik sekolahnya.

Padahal, Pak Dika hanya ingin menerapkan metode belajar yang lebih asik dan menyenangkan, supaya para siswa lebih banyak melakukan kegiatan positif ketimbang nongkrong-nongkrong yang kurang bermanfaat.

Ternyata banyak ya masalah yang menimpa para pendidik, pekerja administrasi dan umum, dan juga peserta didik di lingkup sekolah. Nah, mumpung hari ini adalah hari guru, ada baiknya kita mengingatkan instansi dan lembaga pendidikan untuk segera mengevaluasi kinerja serta kebijakan yang selama ini dijalankan.

Wah kalau melihat gejala sosial yang terjadi tadi, bisa-bisa Kementerian Pendidikan, Dinas Pendidikan, dan Instansi pendidikan lainnya dikasih rapot merah nih.

kartu merah buat pendidikan indonesia

(Sumber: giphy.com)

Hari Guru adalah momen yang pas untuk berbenah, mulai dari bahan materi pelajaran yang diberikan, metode pengajaran, kesejahteraan Guru, serta ketegasan hukum dalam menyikapi masalah-masalah seperti tadi.

Banyaknya kejadian pembullyan sesama siswa, siswa terhadap guru, menggambarkan bagaimana pendidikan masih gagal dalam memberi pengajaran tentang norma, nilai-nilai sosial, dan moral. Seorang guru harus mampu menjadi pendidik, karena menjadi pendidik tidak semudah menjadi pengajar.

Guru harus punya tujuan dan capaian dalam membentuk pola pikir serta perilaku anak-anak didiknya. Ketika interaksi dan kerjasama antara guru dengan murid sudah terjalin dengan baik, maka masalah-masalah seperti tadi bisa dihindarkan.

Tentunya ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Pendidikan, Dinas Pendidikan, sekolah, guru, orang tua, dan juga masyarakat.

Gimana? Adakah di antara kamu yang pernah mengalami masalah seperti tadi? Jika kamu pernah mengalami atau melihatnya langsung, jangan ragu-ragu untuk melaporkannya yaa.

Nah karena hari ini adalah Hari Guru, kita ucapin yuk buat para guru kita yang ada di ruangbelajar, digitalbootcamp, ruanglesonline, dan juga ruangles. Kamu bisa titip salam lewat kolom komentar di bawah ini atau kamu langsung ucapin ke gurunya. Oke, Selamat Hari Guru ya Bapak/Ibu Guru, semoga pendidikan kita semakin baik dan tidak ada lagi pelecehan seksual, bullying, atau kekerasan di sekolah.

ruangbelajar

Beri Komentar