Ruangguru Blog

    Banyak yang Penasaran, Ternyata Ini Suka Duka Guru Pedalaman!

    By Ruangguru · May 29, 2017

    Smart buddies, pernahkah kamu terpikir menjadi seorang guru di pedalaman? Kira-kira bagaimana ya perasaanmu kalau tinggal di sana? Takut, sedih, atau justru bikin betah? Daripada penasaran, yuk kita sama-sama simak suka dan dukanya jadi pengajar di pedalaman Papua. Siapa tahu, suatu saat nanti kamu bisa punya kesempatan yang sama. Baca terus ya!

    suka duka - Salah satu lokasi SMP negeri di Kampung Kais, Sorong Selatan (sumber: dok. pribadi) Salah satu lokasi SMP negeri di Kampung Kais, Sorong Selatan (sumber: dok. pribadi)

    Kalau kamu memilih menjadi guru untuk di sekolah, sebenarnya kesediaan bangunannya sudah cukup baik. Selain dari pemerintah, pembangunan sekolah juga mengandalkan bantuan gereja dan swadaya warga. Jumlah siswanya juga luar biasa banyak, namun sayangnya total guru yang ada tetap tidak mampu mengimbangi.

    Padahal, mulai dari dinas, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun masyarakat setempat sudah berpartisipasi menjadi pengajar. Mengenai kurikulumnya, di pedalaman Papua tetap menggunakan kurikulum yang sama seperti di kota-kota besar. Adapun mengenai akses sekolah, khususnya SMP dan SMA/SMK, sebagian siswa harus menempuh jarak 4 jam lamanya dengan menggunakan perahu dari kampung mereka untuk tiba di sekolah.

    Nah, setelah mengetahui fakta tersebut, kira-kira apa sih yang harus disiapkan untuk menjadi pengajar di sana? Pertama, penting untuk bergaul dengan masyarakat lokal. Agar bisa survive, kamu wajib memahami keseharian mereka, mulai dari kebiasaan, gaya hidup, dan adat setempat. Jangan sampai kamu seperti kebanyakan guru pendatang yang stres di bulan pertama, akibat beratnya tanggung jawab dan sulitnya adaptasi dengan siswa. Beberapa masalah yang kerap kali muncul di antaranya, siswa sering datang terlambat ke kelas, sulit mengerti pelajaran, dan tidak masuk sekolah dalam kurun waktu yang lama.

    suka duka - Agar bisa survive harus memahami kebiasaan dan adat masyarakat di sana (sumber: dokumen pribadi) Agar bisa survive harus memahami kebiasaan dan adat masyarakat di sana (sumber: dok. pribadi)

    Mengapa hal-hal di atas bisa terjadi? Faktanya, anak-anak pedalaman di wilayah gunung biasa mengukur waktu dengan melihat matahari. Sementara itu, di daerah aliran sungai terbiasa melihat pasang-surut air sebagai patokan jam. Jadi, walau sudah pukul 7 pagi, belum tentu semua siswa telah berkumpul. Wajar kan, kalau pada akhirnya banyak yang terlambat hingga siang hari.

    Belum lagi, anak-anak sering diminta membantu orang tua ke hutan, untuk mencari makanan. Alasannya, kampung mereka tidak memiliki pasar. Oleh karena itu, butuh waktu setengah hari mengumpulkan bahan makanan, dan ini membuat mereka menomorduakan sekolah. Tentu saja, dampak negatif dari kebiasaan ini, anak-anak pun jadi ketinggalan banyak materi. Kalau sudah begitu, kamu sebagai guru perlu usaha ekstra untuk menjelaskan pelajaran kembali, baik di sekolah atau belajar di rumah.

    suka duka - Salah satu kegiatan di hutan yaitu menokok sagu (sumber: dokumen pribadi) Salah satu kegiatan di hutan yaitu menokok sagu (sumber: dok. pribadi)

    Selain itu, kamu pun harus membekali diri dengan mempelajari bahasa setempat. Pasalnya, di pedalaman Papua, bahasa yang digunakan itu berbeda-beda setiap kampung. Adapun tantangan lainnya, kamu dituntut menguasai hampir semua mata pelajaran lho. Walau keahlianmu di bidang sejarah, tapi keadaan menuntutmu buat memahami matematika, ekonomi, bahkan biologi. Hal ini disebabkan, guru-guru lain terbiasa izin meninggalkan sekolah, pergi ke kota membeli berbagai bahan makanan. Jadi, mau tidak mau, kamu yang menggantikan mereka.

    Namun yang pasti, di balik beratnya tugasmu di sana, kamu akan dapat banyak beragam insight baru tentang hidup. Saat sudah biasa dikelilingi masyarakat yang berbeda-beda, justru itu membuat kamu jadi lebih penyabar dan bijak dalam bersikap. Kamu pun terbiasa menghargai pendapat dan bisa mengurangi sifat egois.

    suka duka - Beberapa guru SM3T yang ditempatkan di Sorong Selatan (sumber: dokumen pribadi) Beberapa guru SM3T yang ditempatkan di Sorong Selatan (sumber: dok. pribadi)

    Keuntungan lainnya, sekembali dari masa tugas, bisa jadi kamu akan dapat beberapa penawaran kerja atau kesempatan sekolah. Berdasarkan riset Departemen Pendidikan di Australia, satu keuntungan jadi guru di kawasan terpencil, yaitu bisa melakukan fast-track di karier mereka ketika kembali bekerja di kota. Jadi secara otomatis, jerih payah kamu di pedalaman, bukan hanya berdampak baik untuk masyarakat, tapi juga untuk pengembangan diri sendiri.

    Nah, seru banget kan? Gimana nih, sudah mulai tertarik mengabdi ke pedalaman belum? Ada baiknya, sebelum  ke sana, kamu boleh juga lho mencoba untuk jadi guru di RuangLes. Bisa juga pelajari dulu beragam materi yang mau kamu ajarkan, di RuangVideo. (RE/TN)

    Share this:

    Tags: Wow ternyata, inspirasi, Mengajar Cerdas

    Tulis Komentarmu

    Paling Banyak Dibaca

    Subscribe Blog Ruangguru