Geografi Kelas 10 | 5 Teori Mengenai Pembentukan Tata Surya dan Sejarahnya

Kresnoadi Jul 9, 2018 • 8 min read


sejarah tata surya

Artikel Geografi kelas X ini menerangkan 5 teori pembentukan tata surya mulai dari teori Kabut, Planetesimal, Pasang Surut, Awan Debu, Bintang Kembar.

--

Entah kenapa di negara ini malam hari identik dengan kegalauan. Sendirian, ngeliatin bintang, bengong, keingat masa lalu.... Ya, tidak bisa dipungkiri, kesunyian malam memang membuat banyak orang sering berkhayal.

Tapi, pernah kah kamu merhatiin: kenapa sih bintang dan planet-planet yang kita lihat itu ada di sana?

Lebih jauh lagi, pernah nggak kamu mikir, "Bagaimana ya bumi ini terbentuk? Gimana bisa ada bola melayang-layang di angkasa dan saling tidak bertabrakan? Seperti apa awal mulanya?"

Ternyata, setelah ditelisik, sampai saat ini, ada 5 teori yang menjelaskan pembentukan tata surya. Apa aja tuh?

teori kabut

Ketika membahas soal teori kabut/nebula di internet, kita pasti akan menemukan nama Immanuel Kant. Selain sangat dikenal sebagai filsuf, Kant juga fokus mempelajari berbagai ilmu. Mulai dari geologi, astronomi sampai fisika. Nah, pada karyanya di tahun 1755 yang berjudul “The Universal Natural History and Theories of the Heavens” (Ya, di tahun segitu dia udah mikirin konsep tentang surga. Kita? Sekarang aja masih bingung mikir kalau pas jam istirahat ditanya temen “Beli makan apa nih?”). 

 

Di dalam tulisannya, dia mencetuskan teori yang menjelaskan asal muasal tata surya. Dia berpendapat bahwa pada awalnya, kabut dan gas yang ada di angkasa berputar lambat dan membentuk cakram datar dengan beberapa inti massa. Nah, inti massa yang berada di tengah memiliki suhu tinggi dan berpijar lalu membentuk matahari, sementara bagian inti massa di pinggirnya mengalami pendinginan dan perlahan-lahan berubah menjadi planet yang mengorbit pada matahari.

Tentu, pada zaman itu, tidak hanya Kant yang berpikir tentang “Gimana sih proses munculnya tata surya?” Salah satunya adalah Pierre Simon De Laplace, seorang astronom asal Perancis. Dia, dalam bukunya yang berjudul Exposition of a World System (1796) memberikan pernyataannya soal proses terbentuknya tata surya.

 

Berbeda dengan Kant yang berpikir kalau tata surya berasal dari kabut yang berputar lambat, Laplace berpendapat bahwa tata surya kita berasal dari kabut gas yang berputar cepat dan mempunyai suhu sangat tinggi.

Kecepatan putaran kabut gas ini akhirnya melemparkan berbagai materi bola gas ke sekelilingnya. Lama kelamaan, bola-bola padat ini berubah menjadi planet-planet dan sumber utama bola panas itu menjadi pusat peredaran planet yang kita kenal dengan matahari.

teori awan debu

Masih ingat kan dengan teori Nebula tadi?

Nah, teori ini kurang lebih seperti itu. Pada mulanya teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory) dicetuskan oleh Carl Friedrich von Weizsӓcker dan “disempurnakan” lagi oleh Gerard Peter Kuiper. Pada dasarnya, mereka mengatakan kalau tata surya terbentuk dari gas dan debu yang berkumpul, berputar menyerupai cakram, lalu berubah bentuk menjadi planet dan matahari. Mirip kan?

Namun, hal yang membedakannya dengan teori Nebula adalah prosesnya.

 

Pada teori Awan Debu, proses yang terjadi adalah pemampatan. Bayangkan gumpalan awan di langit kita deh. Lalu, bayangkan mereka terbang di angkasa. Salah satu gumpalan awan itu mengalami pemampatan. Pada proses pemampatan ini, partikel debu tertarik ke bagian pusat awan, membentuk bola, dan lama kelamaan menjadi cakram. Nah, partikel yang berada di tengah cakram saling menekan, lalu menimbulkan panas dan jadi pijar.

Bagian tengah ini, kemudian menjadi matahari.

Sementara bagian luarnya berputar dengan sangat cepat, lalu, sampai pada titik di mana mereka “bermentalan” dan terpecah menjadi gumpalan yang lebih kecil. Bagian ini lah yang pada akhirnya menjadi planet.

teori planetesimal

Hayo, kalo dari namanya, kira-kira kayak apa teori planetesimal?

Baca juga: Apa Saja manfaat Flora dan Faunda Indonesia Bagi Kehidupan Kita?

Teori ini dikemukakan oleh Forest R Moulton dan Thomas C Chamberlin pada tahun 1905. Lain halnya dengan teori nebula, pada teori ini, Moulton dan Chamberlin berpendapat bahwa pada mulanya, matahari udah ada.

 

Ya, pokoknya mereka beranggapan kalau matahari udah ada aja gitu di angkasa.

Lalu, pada suatu waktu, ada sebuah bintang yang ukurannya sebesar matahari dan, mengorbit dekaaat dengan matahari. Berhubung si bintang gede ini punya gravitasi, akibatnya ada partikel matahari yang “terseret” keluar.

jari-jari matahari

Partikel-partikel yang tidak terseret jauh berhasil kembali masuk dan bergabung dengan matahari. Tetapi, partikel yang terseret jauh hanya mengambang di angkasa.

Partikel-partikel kecil yang mengambang ini lama-kelamaan mengumpul, menyatu, dan, mengeras sehingga menjadi berbagai planet.

teori pasang surut

Pasang surut? Bukannya itu air laut? Kok ada di angkasa? Apa hubungannya sama pembentukan tata surya?

Sabar..

sabar(sumber: giphy.com)

 

Hilangkan dulu bayangan kamu tentang laut laut itu. Teori pasang surut ini, sebenarnya mirip kayak teori planetesimal. Hmmm mungkin terinspirasi kali ya?

Jadi, pada zaman dulu matahari udah ada.

Tetep.

Lalu lewatlah satu bintang besar yang mengorbit dekat matahari. Nah, kalau dalam teori planetesimal, gravitasi bintang besar ini membuat partikel-partikel di matahari tertarik. Kalau dalam teori pasang surut, yang dibawa adalah gelombang pasang gas-gas panas matahari.

Gelombang pasang ini tertarik dan jadi semacam “menempel” pada bintang. Lalu, sama deh kayak orang main tarik-tarikan tali tambang menggunakan tali rafia, tali itu putus. Sebagian gas matahari masuk kembali ke matahari, dan sebagian lagi pecah menjadi partikel-partikel yang akan menjadi cikal bakal planet.

teori-pasang-surut

Teori Pasang Surut

 

Terus kok disebutnya pasang surut?

Karena peristiwa saat gas itu tertarik ke bintang mirip seperti peristiwa pasang. Dan saat gelombang panas itu “lepas”, lalu sebagian kembali masuk ke matahari mirip seperti peristiwa surut.

teori bintang kembar

Teori ini mungkin cukup “unik” dan berbeda dari sebelumnya. Ditemukan oleh Raymond Arthur Lyttleton, seorang berkebangsaan Inggris pada tahun 1956. Menurutnya, sebelum galaksi terbentuk, terdapat dua “bintang raksasa” di luar angkasa.

 

Iya, makanya disebut bintang kembar.

Sewaktu lagi tenang-tenangnya di angkasa, pada suatu waktu, datang bintang ketiga (udah gak enak kan perasaan kita?). Si bintang ketiga ini menabrak salah satu bintang dan membuat keduanya hancur. Pecahannya mengambang-ambang di angkasa, lalu perlahan-lahan mengorbit ke bintang yang masih utuh.

Pecahannya ini lama kelamaan menjadi planet yang kita kenal saat ini dan bintang yang masih utuh menjadi matahari.

 

Gimana, Squad. Sekarang sudah tahu kan 5 teori pembentukan tata surya. Tentu teori-teori ini masih belum terbukti secara seluruhnya. Mana teori yang benar dan mana yang bukan. Kalau kamu ingin memelajari materi seperti ini langsung dalam bentuk video beranimasi lengkap dengna rangkuman infografis, langsung aja tonton di ruangbelajar!

ruangbelajar

Beri Komentar