Tingkatkan Kualitas Menjadi Guru dengan Baca 4 Novel Ini!

Ruangguru Agu 15, 2016 • 6 min read


Selama ini, apa saja bacaan yang kamu konsumsi? Apa bacaan ringan seperti komik dan novel percintaan? Atau mungkin buku yang berbau pelajaran? Kali ini Ruangguru.com ingin merekomendasikan beberapa judul novel yang bisa ditambahkan ke reading list-mu. Mungkin di antara kamu sudah tahu Laskar Pelangi, Totto-Chan, dan Sokola Rimba. Namun, Ruangguru.com tidak akan membahas ketiga novel dengan penjualan tinggi itu. Ada 4 novel  lainnya yang bisa jadi referensi tambahanmu di kala bosan. Apalagi, untuk para tenaga pengajar yang sedang membutuhkan penyegaran, motivasi, dan inspirasi. Keempat novel ini akan memberikan semuanya, juga meningkatkan kualitas menjadi guru. Apa saja ya?

Botchan

Novel yang sangat populer di Jepang ini dikatakan sebagai novel favorit dari Natsume Soseki. Dengan 224 halaman, novel ini mengisahkan tentang Botchan, guru muda yang memberontak sistem sekolah di tempatnya mengajar. Botchan kecil adalah seorang biang kerok, juga biang keributan. Hal ini membuat ayah dan ibunya pesimis dengan masa depannya. Banyak anggapan orang tua maupun guru bahwa anak yang penurut, rajin dan tidak neko-neko akan bermasa depan cerah. Kalau dinilai dari standar tersebut, jelas saja masa depan Botchan terlihat suram. Tidak heran banyak yang memandangnya sebelah mata. Kenakalannya ketika kecil sebenarnya adalah bentuk pemberontakkan terhadap keadaan yang dihadapinya.

Botchan

Namun hal ini tidak berlaku pada Kiyo, asisten rumah tangga keluarga Botchan. Kiyo percaya pada Botchan, selalu menyanjungnya meski melakukan kenakalan. Nah, pujian ini melekat dalam pikiran Botchan dan mengakar menjadi karakter. Botchan tumbuh menjadi orang yang lugas dan benci kepura-puraan. Begitu pun ketika dewasa dan menjadi guru muda. Biasanya, menjadi orang baru di sebuah lingkungan, maka kita harus menyesuaikan dengan keadaan, kan? Ia berjuang menjalani kehidupannya di losmen dan mengajar murid-murid sekolah menengah. Di sinilah kita bisa melihat perjuangannya 'meluruskan' semua hal yang salah dengan sikap kerasnya. Ia akan berontak dengan keadaan sekitar yang menurutnya tak sejalan dengannya.

Gejolak kehidupan tempo dulu di negeri bunga sakura diceritakan secara gamblang dari mata Botchan yang terus terang dan blak-blakan. Novel ini menduduki posisi penting dalam sastra Jepang, terbukti dengan disisipkan A MODERN CLASSIC di atas judulnya. Soseki menggambarkan ceritanya dengan humor ringan dan spontan.

Sosok Botchan dikatakan mirip dengan sosok sang pengarang. Setting tempat Botchan bekerja juga pernah menjadi tempatnya mengajar. Sikap tidak tunduk pada seseorang atau suatu norma mungkin juga diwarisi dari sang pengarang. Bagi Botchan, kejujuran adalah yang paling utama dan tidak semua orang di sekitar kita bisa menerima kejujuran.

Guru, Hidupmu Hanya Untuk Kami

Guru, Hidupmu Hanya Untuk Kami

Novel yang berisi 37 cerita pendek ini ditulis berdasarkan kisah nyata dari perjuangan para guru yang menghantarkan muridnya menaklukan dunia. Dengan bahasa yang indah, namun lugas, serta penggunaan diksi yang tepat, jasa guru dipaparkan dengan sangat baik. Sehingga, ketika membacanya kamu akan terhanyut akan berbagai perasaan. Rasa iba akan timbul karena di dalamnya terdapat kisah-kisah pilu guru yang mengabdi di pedalaman. Kamu pun akan terkagum-kagum melihat semangat dan keikhlasan sosok guru. Semangatmu pun akan lebih terpacu karena sadar bahwa apa yang dilakukan selama ini belum sebanding dengan yang mereka lakukan. Pada akhir cerita, akan ada bumbu-bumbu kutipan dari para ahli pendidikan, serta analisis singkat namun berhasil membuat pembaca penasaran.

Salah satunya adalah kisah Antonia Korain. Ia merupakan guru sekaligus kepala sekolah SD di kampung Mosun, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybat, Papua Barat. Beasiswa untuk melanjutkan ke SMA ditolaknya karena punya tekad kuat menjadi guru. Ia mantap menentukan pilihannya untuk lanjut ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Kehidupan di sana sangat sulit. Jangan harap gaji dan fasilitas yang memadai. Bisa bertahan hidup di daerah pedalaman yang apa-apa serba mahal juga sudah sangat bersyukur. Tidak banyak lho guru yang kuat mengabdi di pedalaman, terlebih dengan adanya program sertifikasi guru. Namun Antonia tetap bertahan, karena peduli akan keberlangsungan pendidikan anak-anak di kampung.

Novel ini sangat cocok dibaca oleh semua guru karena mampu memberi motivasi agar lebih sungguh-sungguh dalam mengajar. Sehebat apapun perjuangan guru di kota, tantangan dan rintangannya tetap lebih berat dialami guru pedalaman. Eits, novel karya Edelweis Almida ini bukan hanya recommended untuk guru lho! Secara umum, novel ini ditujukan oleh siapa saja agar mampu memberi kebijakan solutif terhadap masyarakat pedalaman. Misalnya, masalah seperti kemerataan tenaga pendidikan, kesejahteraan guru, dan sebagainya. 

Guru Para Pemimpi

Berawal dari Kuliah Kerja Nyata (KKN), Hadi Surya sang penulis telah jatuh cinta kepada sebuah desa di Ciseeng, Bogor. Ketika teman-temannya tak sabar ingin lulus, wisuda, dan mencari kerja, ia memilih kembali ke desa tempatnya menjalankan KKN. Hal apa yang membuat ia kembali?

Bisa dikatakan, desa tersebut tergolong miskin, jalannya rusak berat, apalagi kalau musim hujan. Novel setebal 369 halaman terbitan Qanita (Mizan Pustaka) ini mengisahkan bagaimana ia merintis sekolah gratis unggulan bernama SMP dan SMA Cendekia. Hal inilah yang membuatnya enggan pergi. Keinginan membantu anak-anak desa itu agar mendapat pendidikan lebih tinggi yang membuatnya bertahan. Hadi ingin mereka berani menggantungkan mimpi setinggi bintang. Padahal, dirinya sendiri hanyalah mahasiswa miskin, yang kadang tak punya ongkos untuk berangkat kuliah.

Guru Para Pemimpi

Jatuh-bangun dirasakannya dalam mewujudkan sekolah ini. Bahkan tidak jarang, nyawanya hampir terancam. Di novel ini dikisahkan ilmu hitap kerap kali menghantuinya, entah dari mana. Sekolahnya pun sempat diisukan macam-macam. Mulai dari statusnya tidak jelas, tidak layak, tidak ada ijazah, penyebar ajaran sesat, dan sebagainya.

Namun, tekadnya tidak akan pernah surut. Mulai tahun 2002, tanpa modal finansial, hanya niat, ia merintis sekolah itu. Perlahan-lahan keajaiban pun bermunculan. Ia menerima banyak bantuan, salah satunya dari mantan karyawan World Bank. Padahal, dana yang disumbangkan ke sekolah ini awalnya hendak dipakai untuk biaya umroh lho!

Hadi Surya, merupakan sosok guru yang telah membawa perubahan di desa Babakan. Awalnya, setelah lulus SD, anak-anak di sana, terutama perempuan memilih untuk menikah di usia muda. Sekarang, segala kesedihan dan perjuangan berat terbayar sudah. Anak-anak di desa itu sudah sadar akan pentingnya sekolah. Sekolah Cendekia kini sudah banyak diliput televisi swasta. Tenaga pengajarnya bahkan bukan ‘hanya’ sarjana, tapi juga S2 dan para relawan yang ikhlas berbagi ilmu. Apa saja yang dilalui Hadi hingga bisa sukses membangun sekolah unggulan?

Up the Down Staircase 

Salah satu cerita klasik terbaik ini mengisahkan seorang guru yang sangat menginspirasi. Saking populernya, novel ini sudah diterjemahkan ke 16 bahasa lho! Tersohornya ini juga membuat sineas film tertarik mengangkat kisahnya ke layar lebar. Guru ini berupaya untuk bertahan di tengah-tengah kesulitan menghadapi murid kalangan bawah di sebuah kota besar. Terbayang dong sulitnya mengatasi anak-anak itu?

Up the Down Staircase 

Penulis membalut seluruh cerita dengan alur yang menyenangkan, namun juga menyentuh. Kamu akan melihat hal-hal seperti komitmen, idealistis guru, birokrasi sekolah, dalam novel ini. Tentunya, akan sangat bermanfaat bagimu. Sang penulis, Bel Kaufman membiarkan karakter-karakter dalam novel ini berbicara melalui memo, surat, petunjuk dari kepala sekolah, komentar murid, catatan kecil di antara guru, dan kertas-kertas dari meja dan keranjang sampah. Seluruhnya menggambarkan dengan jelas perjuangan mulia sosok guru. Penasaran? Nampaknya kamu harus berkelana ke toko buku bekas deh. Novel ini sudah lama sekali diterbitkannya, namun kisahnya tak lekang oleh waktu.

Happy reading! :) (TN)

Beri Komentar