Unsur Kebahasaan dalam Teks Fiksi

Bahasa Indonesia_12

Squad, seberapa sering kamu membaca sebuah teks fiksi? Kalau kamu penyuka cerpen, novel, komik, dan tulisan fiksi lainnya sih, sepertinya hari-hari kamu tidak lepas dari yang namanya membaca ya? Nah, dalam artikel kali ini kita akan membahas mengenai unsur kebahasaan dalam teks fiksi. Kita akan fokus membahas mengenai majas (gaya bahasa), ungkapan, dan peribahasa yang terdapat dalam kutipan cerpen.

Tenang Squad. Cerpennya nggak panjang kok, jadi nggak bakal bikin kamu pusing. Kita lihat yuk contoh kutipan dari cerpen yang berjudul “Selamat Jalan Ayah” berikut ini!

unsur kebahasaan cerpen

(sumber: abiummi.com)

Seorang gadis kecil yang tertidur pulas di kamar yang begitu luas untuk anak kecil seukurannya. Sang mentari mulai tersenyum menyapa dunia pagi ini ditemani nyanyian burung terbang kesana kemari. Sinar mentari menyelinap memasuki jendela kecil samping tempat tidur. Udara dingin pun ikut menyerang masuk ke dalam tulang-tulung.

“Kiki…..bangun nak, sudah siang dan saatnya berangkat ke sekolah”, bisik Ibu ke telinga Kiki.

Namun tidak ada balasan dari Kiki, tetapi ibu terus membangunkan Kiki dan mengajaknya ke kamar mandi. Setelah mandi dan sarapan Kiki berangkat ke sekolah diantar ayah dengan kijang. Sementara ibu tetap di rumah, memang dalam keluarga ini ayah sebagai kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga. Kiki adalah gadis kecil yang selalu ceria, ramah dan tersenyum kepada siapapun yang ia temui.

Nah, sudah selesai kutipan cerpennya. Sekarang, sama-sama analisis yuk unsur kebahasaannya.

Berdasarkan kutipan cerpen di atas, kita bisa lihat nih kalau ada majas yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas. Kamu tahu majas apa yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut? Yups, tepat. Majas yang digunakan adalah majas personifikasi. Masih ingat apa itu majas personifikasi?

majas personifikasi

Perhatikan kalimat berikut!

“Sang mentari mulai tersenyum menyapa dunia pagi ini ditemani nyanyian burung terbang kesana kemari.”

Majas personifikasinya ditunjukkan oleh “Sang mentari mulai tersenyum menyapa dunia...” Ini karena kata “mentari” seolah-olah benar-benar tersenyum untuk menyapa dunia. “Mentari” merupakan benda mati yang seolah-olah dibuat hidup oleh penulis.

Selain majas, ada juga penggunaan ungkapan dalam kutipan cerpen di atas. Perhatikan kalimat berikut.

“Sementara ibu tetap di rumah, memang dalam keluarga ini ayah sebagai kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga”.

Coba, dari kalimat tadi ada ungkapan apa saja? Yups, "kepala keluarga" dan "tulang punggung". Kata "kepala keluarga" memiliki arti orang yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, sedangkan "tulang punggung" memiliki arti orang yang bertanggung jawab sebagai tumpuan ekonomi keluarga.

Baca Juga: Karakteristik Karya Sastra Indonesia Tiap Angkatan

Masih ada satu kutipan cerpen lagi nih yang akan kita bahas. Cerpen berikut berjudul “Juru Masak”.

unsur kebahasaan teks fiksi

(sumber: fatchefstory.net)

Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati. Awalnya ia hanya tukang cuci piring di Rumah Makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam Rumah Makan dan dua puluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan. Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun.

Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat, adik-adiknya sudah terbang-hambur pula ke negeri orang. Meski hidup Azrial sudah berada, tapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tapi tak seorang perempuan pun yang mampu luluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.

Dalam kutipan cerpen tersebut, dapat ditemukan satu unsur kebahasaan berupa peribahasa. Hayooo...kamu tahu nggak apa peribahasanya? Betul sekali. Peribahasanya yaitu “...seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang” yang memiliki arti “tak ada yang bisa diandalkan” yang terdapat pada kutipan tersebut.

Squad, itu tadi pembahasan mengenai unsur kebahasaan dalam teks fiksi. Masih bingung dengan unsur kebahasaan? Tenang. Kamu bisa tanya-tanya tutor yang berpengalaman sekaligus diskusi bareng yuk sama teman-teman di seluruh Indonesia. Semuanya bisa kamu dapatkan dengan gabung di ruangguru digitalbootcamp sekarang.

 New Call-to-action

Beri Komentar