Virus Corona dan Hal-hal yang Perlu Kita Perbaiki

Kresnoadi Mar 3, 2020 • 9 min read


corona virus

Artikel ini berisi tentang hal-hal yang perlu diketahui seputar virus corona dan apa yang harus dilakukan

--

Mungkin satu-satunya yang diam di ruangan tempat saya bekerja hanya telepon di sebelah. Seisi ruangan bergemuruh. Penyebabnya: Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan dua orang yang positif terjangkit COVID-2019.

Kami bergegas berbagi tugas. Tim media sosial dan ruangbaca menaikkan tulisan tentang ciri-ciri orang yang terkena virus, serta cara pencegahannya. Desainer menggambar dan bergerak cepat. Beberapa berkoordinasi untuk membeli sabun dan hand sanitizer. Suasana mendadak intens.

Saya, yang baru menayangkan tulisan tentang jurusan matematika, kembali membuka file hasil riset tentang virus corona yang tengah mengendap sejak beberapa minggu lalu. Saya membaca berita-berita yang tersebar, mengumpulkan serpihan-serpihan data, menyaringnya, menekan tombol bookmark di artikel yang penting dan valid.

Saya harus cepat, tetapi tidak boleh terburu-buru.

Dari sana, saya menemukan beberapa poin yang, setidaknya menurut saya, penting untuk dibagikan ke kamu. Rasanya, kita perlu lebih mengenal novel Coronavirus ini, mengingat ulang bagaimana ia bisa muncul, menyebar, mengecek cara negara lain merespons, sehingga kita tidak terjebak dalam informasi yang salah dan setengah-setengah dan menakut-nakuti diri sendiri.

Dari pelajaran biologi sederhana ini, kita sudah tahu seperti apa karakteristik virus. Di antara beragam bentuk tubuh virus itu, ada satu keluarga yang permukaannya terlihat seperti mahkota matahari. Dalam bahasa inggris ia disebut crown. Dalam bahasa Yunani disebut korone.

Inilah dia virus corona. Apa yang kamu ketahui tentang virus corona ini?

Jenis virus yang dapat menyebabkan penularan dari hewan ke manusia.

Keluarga virus ini ada banyak jenisnya. Jenis coronavirus yang dapat menular dari hewan ke manusia bahkan sudah ditemukan sejak 1960. Nama virusnya 229E dan OC43. Ya, sekilas namanya memang kayak plat motor…

Secara garis besar, klasifikasi virus corona dikategorikan menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama yang menyebabkan penyakit ringan hingga sedang (influenza). Kelompok kedua adalah jenis yang menimbulkan penyakit berat dan tidak umum. Misalnya, virus SARS yang mewabah pada 2002 dan MERS di tahun 2012. Kedua virus ini diketahui ditularkan melalui hewan. SARS dari kelelawar dan musang di Guangdong, Tiongkok. Sementara MERS dari unta di Jeddah, Arab Saudi.

infografik virus corona-1

Biasanya, penyakit yang menjangkiti hewan tidak akan memengaruhi manusia. Kucing yang sedang flu tidak akan serta merta menulari kita, misalnya. Namun, ketika suatu penyakit mampu lompat menginfeksi spesies lain, virus tersebut bisa menyebar dengan cepat.

Melihat sejarahnya, beberapa kali virus lompatan antarspesies ini menghebohkan dunia medis.

HIV/Aids di tahun 1980-an yang berasal dari kera besar. Flu burung 2004 dari unggas. Flu babi pada 2009. Serta virus Ebola yang bersumber dari kelelawar.

Pada 9 Januari 2020 lalu, WHO secara resmi mengumumkan jenis virus corona terbaru: Novel coronavirus (2019-nCoV, dengan nama penyakit COVID-19, coronavirus disease 2019).

Kasus pertamanya terjadi sehari menjelang tahun baru 2020. Berdasarkan investigasi WHO, bukti kuat virus ini berasal dari salah satu pasar makanan laut di Wuhan. Adapun gejala dan pencegahannya bisa kamu cek sebagai berikut:

 

Pertanyaannya, bagaimana virus bisa “pindah” dari satu spesies ke spesies lain?

Secara tidak langsung, ini terjadi karena perubahan iklim.

Virus adalah jenis patogen (mikroorganisme yang bisa menyebarkan penyakit ke inangya) yang menghinggapi banyak makhluk hidup. Dia tersebar di mana-mana dan berkembang seiring berjalannya waktu. Maka, berterima kasihlah pada sistem imun tubuhmu.

Seperti yang kita tahu, supaya bisa bertahan hidup, virus harus mengalami tiga tahapan. Pertama, kontak ke inang, Kedua, menginfeksi dan replikasi. Ketiga, virus baru mencari inang yang lain.

Biar punya gambaran tentang cara hidup virus corona, saya kasih contoh bagaimana virus influenza menyerangmu ya. Untuk bisa menjangkitimu, virus flu tidak hanya harus masuk ke tubuh, tetapi juga harus menginfeksi sel tubuhmu sebelum dibunuh oleh sistem imun kita.

Oleh sebab itu, virus ini berevolusi.

Tentu, ini hanya akan terjadi di beberapa kesempatan saja (kalau nggak, tiap hari kerjaanmu haci haci saja karena diserang virus terus dong?).

Virus-virus jagoan yang berhasil berevolusi ini menyelubungi dirinya dengan protein yang bisa dikenali oleh reseptor manusia. Supaya, tidak lain dan tidak bukan, membuat bingung sistem imun kita. Tok tok tok. Ini makhluk jahat atau protein ya? Mungkin begitu tanya sistem imun tubuhmu.

cara virus bisa menyerang manusia-2

Sumber: TED-Ed via Youtube

Setelahnya, virus akan masuk ke sel di dalam tubuh kamu, dan membuatnya jadi pabrik yang akan menelurkan sel-sel lain yang berisi virus. Kalau udah begini, sistem imun kita akan kelabakan. Di sini lah momen kamu disebut sakit flu dan saatnya si virus masuk ke tubuh temanmu lewat bersinmu.

Intinya, supaya bisa masuk dan menaklukan tubuh kita, virus harus berevolusi menjadi sesuatu yang spesifik.

Seperti yang saya bilang, virus ada di mana-mana. Dia hinggap di berbagai makhluk hidup dan selalu bereproduksi dan bermutasi menjadi virus baru. Dengan iklim yang kian berubah, bisa jadi habitat, sifat, cara hidup hewan juga berubah. Itu berarti, bukan tidak mungkin virus-virus yang biasa menyerang mereka juga berubah.

Lucunya, evolusi dari virus biasanya berakhir buruk. Antara tidak berpengaruh sama sekali, atau justru menjadi virus yang lebih payah. Butuh waktu lama dan evolusi berkali-kali sampai si virus mampu masuk ke inang baru di luar spesies inang lamanya. Jika itu terjadi, perjalanannya pun masih panjang. Karakteristiknya harus secara spesifik sesuai dengan inang baru (seperti flu standar yang butuh evolusi agar bisa menyelubungi diri dengan protein).

Dan satu hal yang perlu diingat, untuk menjangkiti kita, virus masih harus mencari cara, melawan sistem imun dalam tubuh.

Baca juga: Sudah Ada di Indonesia, Ini Ciri-ciri Terinfeksi Virus Corona

Saat ini, Novel Coronavirus telah terbukti mampu merebak begitu pesat. Berawal dari Wuhan, Tiongkok, kini ia sudah menyebar hingga 70-an negara, termasuk Indonesia, Iran, dan Amerika Serikat yang baru saja memberikan kabar terakhir. Hingga artikel ini ditulis, ia telah menjadi wabah ke lebih dari 90 ribu orang dan menelan korban lebih dari 3000 jiwa. Meski begitu, tingkat kematian orang yang terjangkit cenderung kecil. 2% jika dibandingkan Ebola yang mencapai 50%. Saat ini juga sudah ada 50 ribu orang lebih yang sembuh.

Namun, biar bagaimana pun juga, virus jenis baru ini sudah hadir di depan kita. Tidak mungkin kita diam dan menyaksikan ia bersarang ke orang-orang yang kita sayangi. Lantas, apa yang harus kita lakukan? (Ps: kamu bisa mengecek perkembangan novel coronavirus secara global dan real time dari situs ini.)

Pertama, jangan kobarkan kepanikan.

Seperti api, kepanikan akan menyebar dengan cepat dan menyulut teror dan ketakutan.

Kita sudah tahu bagaimana cara mengantisipasi virus agar tidak masuk ke tubuh, juga mekanisme virus di tubuh kita. Kita juga tahu bahwa masa inkubasi virus (waktu antara seseorang terinfeksi sampai muncul gejalanya bisa mencapai 2 minggu). Artinya, bisa saja kamu tertular sekarang (dan menulari orang lain), sementara gejalanya baru timbul dua minggu ke depan.

Novel coronavirus juga menular lewat tetesan dari bersin atau batuk orang lain. Itu lah mengapa penggunaan masker belakangan ini menjadi topik yang cukup panas.

Dalam Persistence of Coronaviruses on Inanimate Surfaces and Their Inactivation Biocidal Agents disebutkan bahwa coronavirus dapat bertahan hidup di benda mati. Meski penelitian ini tidak menyebut spesifik soal Novel coronavirus, tapi ia menguji SARS—jenis coronavirus yang paling “mirip” dengan Novel coronavirus. Di sana disebutkan bahwa SARS mampu hidup di benda mati antara 2 jam sampai 9 hari, tergantung jenis materialnya.

Tapi tenang aja. Tim peneliti mengatakan kita bisa memusnahkannya dengan mudah menggunakan alkohol atau desinfektan.

Oleh sebab itu, kita perlu menjaga daya tahan tubuh, makan makanan bergizi, cuci tangan dengan sabun, siapkan sistem imun agar mampu mengalahkan penyakit busuk tersebut.

Kedua. Kita sudah tahu ciri-ciri mereka yang terjangkit virus ini. Maka, jangan sekali-kali kamu melakukan self diagnose. Jangan menuduh dan menakut-nakuti diri bahwa kamu terkena Novel Coronavirus. Apalagi sampai menuduh orang lain dan ketakutan karenanya.

Juga jangan bersembunyi karena minder.

Segera hubungi orangtuamu, utarakan keresahanmu. Minta ia mengantarmu ke dokter atau sebaliknya. Kementerian Kesehatan juga memberikan nomor telepon yang bisa kamu hubungi untuk membicarakan masalah virus corona. Segeralah hubungi (021) 5210411 atau 081212123119 (catatan: ini adalah kontak hotline resmi dari pemerintah, bukan Ruangguru).

Berhubung kita berada di dunia post truth, penting untuk menyaring informasi di tengah kebisingan informasi ini. Keterburu-buruan hanya akan melahirkan kepanikan-kepanikan yang lain.

Kenyataannya hidup kita terus berubah dan perubahan kepadatan penduduk, ekosistem, iklim, global warming, dan teknologi, mau tidak mau akan juga berimbas pada satu hal: penemuan penyakit baru.

Pertengahan tahun lalu, Kelsey Piper menulis di Vox tentang habitat nyamuk yang meningkat pesat akibat urbanisasi dan perubahan iklim. Itu artinya, penyakit zika, cikungunya, demam berdarah, dan demam kuning akan semakin buruk ke depannya. Hasil penelitian nature microbiology berjudul Past and Future Spread of the Arbovirus Vectors Aedes aegypti and Aedes albopicus mengungkapkan kalau di tahun 2050, nyamuk Aedes aegypti akan menginvasi 19,91-23,45 juta kilometer, tergantung perubahan iklim dan arus urbanisasi.

Profesor Tim Benton, dalam tulisannya Coronavirus: Why are We Catching More Diseases from Animals mengatakan kalau sampai saat ini, baru 10% patogen yang sudah diidentifikasi. Butuh sumber daya lebih untuk mendapatkan sisanya dan mencari tahu hewan apa yang membawa penyakit itu.

Di saat seperti ini, kita hanya butuh dua jenis manusia: yang mau berpikir objektif dan tidak termakan berita kampungan dan menyebarkan ketakutan, dan mereka yang mau ambil peran dan mempelajari persoalan virus dengan serius.

Mungkin masa depan bukan di tangan saya tapi kamu yang ingin mendalami masalah biologi. Mungkin kejadian ini membuatmu yakin bahwa kamu lah orangnya, yang minat dan peduli akan masalah-masalah seperti ini.

Di sini kami berusaha membantumu. Bisa jadi ini masa-masa yang krusial bagi pendidikanmu. Bisa jadi, demi keselamatan kita juga, sekolah akan diliburkan dan pertemuan-pertemuan kelompok dikurangi dan itu sedikit banyak mengurangi kesempatanmu berdiskusi. Kalau itu persoalanmu, jangan khawatir. Kami tetap di sini, menemanimu dengan ruangbelajarPlus. Kamu bisa berdiskusi lebih dalam dan mendapat tips n trick dari Tutor terbaik. Jadi tunggu apa lagi? Yuk download sekarang!

New call-to-action

Beri Komentar